
"Mas, kita pindah aja, yuk. Tinggal bareng orang tuaku."
"Ogah! Males banget tinggal di rumah kamu, nggak bebas aku."
"Daripada disini kita sama sama di diemin, mending kita pindah."
"Nggak! Nggak mau! Kalau kamu mau pindah, pindah sendiri saja sana."
"Mas!"
Sejak beberapa hari yang lalu, sepasang suami istri itu memang terlihat selalu ribut. Tepatnya sejak mereka didiamkan oleh orang tua dan mertua mereka karena tidak mau mengaku salah dan malah semakin menambah malu orang tua yang menjabat sebagai lurah.
Malik dan Titin sukses tak bisa berbuat banyak saat Pak Rohim dan istrinya kompak mendiamkan mereka. Kedua orang tua itu selalu menghindari anak dan menantunya dalam keadaan apapun. Hanya cucunya yang mereka sapa. Saking tak kuatnya didiamkan oleh orang tuanya, Malik bahkan sampai murka kemarin malam. Tapi murkanya Malik tidak membuat orang tuanya luluh, malah semakin menjadi hingga sang anak dan menantu benar benar merasa frustasi.
Bukan hanya Malik dan Titin yang merasa frustasi. Di tempat lain, tepatnya di rumah orang tua Titin, Darmi juga nampak sangat frustasi dengan sikap sang suami. Pak Salim, suami dari Ibu Darmi, juga masih mendiamkan sang istri hingga detik ini. Selama menjadi istri Pak Salim, baru kali ini Sang suami meluapkan amarah dan kecewanya dengan diam. Di tanya pun, Pak Salim enggan menjawab.
__ADS_1
"Pak, kenapa sih, Pak? Bapak segitunya diemin Ibu? Kenapa Bapak malah membela orang lain? Bukan keluarga sendiri? Emangnya kalau ada apa apa, Jiwo yang akan nolongin Bapak?" cerca Darmi dengan emosi saat Pak Salim baru saja selesai mandi.
Pak Salim bukannya menjawab, dia malah melenggang menuju kamarnya hingga kekesalan Darmi semakin memuncak dan dia membanting gelas yang ada di dekatnya.
Prang!"
"Ibu!" pekik Edi, anak laki laki Bu Darmi yang baru saja keluar kamar. "Ibu apa apaan sih?"
Edi segera mengambil sapu dan membersihkan pecahan kaca yang berserakan. Sedangkan Darmi, dia terduduk dengan airmata bercucuran.
Darmi terkesiap dengan ucapan anak laki lakinya. Dia tidak menyangka anaknya bisa berkata demikian karena rasa kecewa dan takut yang dia mililki. Air mata Darmi semakin deras mengalir. Sedangkan di dalam kamar, Pak Salim juga hanya bisa terduduk di tepi ranjang. Dia mendengar semua luapan isi hati anak laki lakinya. Pak Salim juga tidak tahu apa sebenarnya mau sang istri.
"Pak Lurah yang jelas jelas sudah menjadi besan aja dibuat malu oleh sikap egois Ibu, lalu bagaimana dengan nasibku nanti, Bu? Apa sih susahnya minta maaf, Bu? Apa? Ibu Gengsi? Semua orang sudah tahu kalau Ibu yang salah, tapi Ibu malah semakin memperkeruh keadaan, mau Ibu apa? Katakan?" cerca Edi, pelan tapi penuh penekanan.
Tidak ada jawaban yang bisa Darmi lontarkan. Nyatanya gengsi yang terlalu tinggi membuat keadaan semakin keruh. Rasa benci yang tidak ada batas akhirnya, membuat Darmi seakan mati hati untuk minta maaf pada satu nama pria.
__ADS_1
Di lain kota, seorang wakil wali kota juga sedang merasa was was dengan ancaman yang baru saja dia dapatkan dari orang yang selama ini menjadi rekan bisnis kotornya. Wajar jika Suryo sangat panik, karena dia tahu, siapa Hendrik dan bagaimana perangainya. Anak dan istrinya saja Hendrik tega membuangnya, apa lagi seorang Suryo. Akan sangat mudah bagi Hendrik untuk menghancurkan karir politiknya.
Di ruang kerja yang ada di rumahnya, Suryo terus memikirkan jalan keluar dari masalah besar yang bisa saja meledak tanpa mengenal waktu. Di saat genting begini, yang terlintas dalam pikiran Suryo hanya dengan cara bermain kotor melalui orang bayaran yang biasa dia sewa. Dan saat ini, tangan Suryo langsung mencari nomer ponsel orang itu dari ponselnya.
Hallo!" sapa Suryo begitu nomer yang dia tekan merespon panggilan telfonnya.
"Ada tugas yang harus segera kamu lakukan."
"Begini ..." Suryo menceritakan kronologi masalahnya secara singkat kepada si penerima telfon. "Bagaimana?"
"Baiklah, aku kirim alamatnya sekarang."
Suryo langsung merangkai huruf menjadi sebuah alamat dalam layar ponselnya dan mengirimnya ke nomer yang tadi dia telfon.
"Aku memang harus bergerak lebih cepat," gumam Suryo dengan seringai jahatnya.
__ADS_1
...@@@@@...