MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Herannya Suami


__ADS_3

Sore ini suasana desa nampak begitu cerah. Udara segar dengan angin berhembus pelan menjadi pendukung bebebrapa warga untuk menikmati sore di luar rumah. Bermacam kegiatan yang dilakukan. Ada yang jalan jalan sore, ada yang bersepeda, ada juga yang memilih merapikan halaman rumah sambil bercengkrama. Anak anak juga banyak yang bermain layang layang, bersepeda, atau bermain yang lainnya sesuka mereka.


Diantara para penduduk itu, ada tiga wanita yang baru keluar rumah hendak menuju sautu tempat. Satu wanita tua yang berada di tengah, diapit dua wanita muda, berjalan beriringan. Mereka adalah Emak dan dua menantunya, Anisa dan Alina. Mereka bertiga berjalan kaki menuju warung yang ada di sisi kanan ujung pertigaan jalan.


Cukup jalan kaki sebentar, tidak sampai lima menit, mereka telah sampai di tempat tujuan, dan kebetulan warung saat itu nampak ramai karena di rumah pemilik warung tersebut baru saja ada demo memasak dari sales peralatan masak memasak.


"Yah, Emak, telat datangnya, baru aja selesai demo masak, Mak," ucap seorang ibu muda, begitu melihat Emak datang.


"Hehehe ... nggak apa apa, lagian aku udah tua, males ikutan kayak gitu," jawab Emak sambil duduk di bangku panjang menunggu para pembeli lain buat gantian.


"Ya kan bisa buat istri istri Jiwo, Mak, biar makin pintar di dapur. Alat masaknya bagus bagus loh, Mak, dan harganya, beeuh, udah murah, bisa dicicil lagi," balas sang tetangga sangat antusias.


Emak hanya mengulas senyum tanpa ada niat membalas ucapan tetangganya. Pengunjung warung yang lain juga masih pada asyik bercerita tentang hasil demo memasak tadi. Apa lagi ada beberapa suara yang mengatakan kalau dua sales yang menggelar acara demo masak adalah pria yang tampan. Sangat wajar jika ibu ibu itu sangat antusias bercerita.

__ADS_1


Namun, diantara ibu ibu berbagai usia itu, ada satu Ibu yang sedari tadi memilih diam sembari fokus kepada belanja daja. Awalnya Ibu itu juga ikut ngobrol sama yang lain, tapi begitu Emak datang, Ibu itu langsung terdiam dan berpaling. Emak yang melihat wanita itu juga nampak acuh. Bahkan Emak seperti menganggap wanita itu tidak ada.


Emak pun dengan santainya memesan apa yang ingin dibeli kepada si pemilik warung. Sedangkan wanita itu terlihat terburu buru saat sedang dilayani. Bahkan wanita itu hampir lupa mengambil uang kembalian karena sangat ingin segera pergi dari sini.


"Darmi kenapa tuh? Kok wajahnya mendadak aneh gitu?" tanya salah seorang ibu yang kebetulan melihat perubahan sikap pada wanita itu.


"Iya yah, kayak orang malu gitu yah?" timpal Ibu yang lain.


"Ya wajarlah kalau Darmi kayak gitu, pasti malu tuh ketemu Emak," si pemilik warung ikut bersuara.


Setelah selesai belanja, Emak memilih langsung pulang. Lagian sebagian ibu ibu juga sudah pada kembali ke rumahnya. Hanya ada beberapa yang masih di warung karena rumah mereka memang berada di sekitar warung tersebut.


"Udah pulang, Wo?" tanya Emak begitu masuk dan melihat Jiwo sudah ada di rumah berbaur bersama istri istrinya.

__ADS_1


"Udah, Mak," balas Jiwo yang tidak bertanya balik Emak darimana. Sepertinya Jiwo sedang membahas sesuatu bersama para istri. Wajah mereka terlihat serius. Aluna dan Anisa langsung bergabung dan duduk diantara mereka. Sedangkan Emak langsung masuk ke dalam menaruh barang belanjaan.


"Nah, sekarang kalian sudah tahu, kan? Kalau sudah ada beberapa dari kalian yang aku sentuh? Dan sekarang kalian mau tahu kenapa aku nggak cerita ke kalian?" cerca Jiwo dengan lembut tapi terlihat berwibawa.


"Iya, Mister, seolah olah, Mister melakukannya secara sembunyi sembunyi gitu," cicit Anum.


Jiwo tersenyum sembari menggelengkan kepalanya beberapa kali. Bukannya marah, Jiwo merasa gemas saja dengan kecemburuan beberapa istrinya yang belum dia sentuh.


"Gini ya, sayang sayangku, aku nggak cerita sejak kapan aku menyentuh salah satu dari kalian, ya karena aku ingin semua terjadi secara alami gitu. Tadi pagi ada yang bilang gitu, kan? Semua itu tuh biar karena kita suka saling suka saat melakukannya, bukan karena ada faktor lain, misal kewajiban istri atau apa. Kalau kita melakukan hubungan ranjang karena suka sama suka, itu lebih terasa bahagia loh ya."


Semua istri Jiwo nampak terdiam sambil sesekali manggut manggut mendengar penjelasan sang suami.


"Lagian aku tuh heran, kenapa sih kalian lebih sering mempermasalahkan hubungan ranjang? Kalian itu tidak pernah mempermasalahkan nafkah yang berbentuk uang? Kenapa? Hayo!"

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2