
"Kayaknya aku kenal dengan mobil ini, kayak pernah lihat," ucap Arum sambil terus menatap mobil yang digunakan dua orang tamunya.
"Lihat dimana? Di jalan? Wajarlah, mobil ini kan banyak," cibir Alifa.
Tapi Arum terus berpikir hingga beberapa saat kemudian matanya membalak. "Lun, bukankah itu mobil yang dipakai bos yang menculik kita? Kita tadi lihat mobil itu di pasar, kamu ingat nggak?"
"Hah!" pekik Aluna lalu dia menoleh dan menatap mobil itu dengan tatapan serius. "Ah iya benar, ini mobil yang dipakai bos tadi."
"Beneran?" tanya Alifa nampak terkejut.
"Benar lah, aku masih ingat, tuh tempelan dalam kacanya juga sama," jawab Aluna sambil menunjukann stiker yang ada di pojokan atas kanan kaca mobil.
"Owalah, gitu yah?" ucap Alifa. "Pantesan sih aneh, tadi pagi tamunya itu kesini pake motor. Apa kita langsung ngomong sama Mister?"
"Jangan! Gini aja ..." Aluna tiba tiba sebuah rencana. Bagitu dia selesai menjelaskan, Alifa bergegas kembali masuk ke dalam rumah dengan tergesa gesa.
"Kok kamu balik lagi? Ada apa?" tanya Aziza yang terkejut melihat Alifa masuk dari pintu samping. Dia tidak menjawab pertanyaan Aziza, tapi dia segera masuk ke ruang tengah dan mengambil ponsel di bawah meja televisi kemudian keluar rumah lagi lewat pintu yang sama.
__ADS_1
"Itu bocah kenapa?" ucap Aisyah yang keheranan melihat tingkah Alifa begitu juga dengan yang lain.
"Cepat, ambil fotonya!" perintah Aluna begitu Alifa datang. Dengan segera Alifa mengambil beberapa foto mobil itu. Setelah selesai mereka bergegas pergi menuju warung. Dari dalam ruang tamu, Jiwo yang kebetulan duduk menghadap halaman, merasa heran dengan tingkah ketiga istrinya.
Setelah merasa cukup degan apa yang disampaikan, Ridwan dan Anita segera saja undur diri. Tak lama setelah mereka pergi, Pak Lurah dan Pak Rt pun ikut pamit karena sudah petang. Bahkan alunan suara indah pemanggil ibadah dari masjid pun sudah menggema.
Begitu semua tamunya pulang, Jiwo dengan langkah gontai masuk menuju kamarnya. Ketika dirinya berada di ruang tengah, Jiwo menatap lekat lekat semua wajah istrinya satu persatu. Hatinya saat ini sungguh diliputi dilema.
"Mister kenapa? Kok kayak sedih gitu?" tanya Anisa.
Jiwo memaksa bibirnya untuk tersenyum. "Nggak apa apa, aku mau ke kamar dulu, pengin istirahat."
"Iya nanti," jawab Jiwo sambil berlalu menuju kamar.
Jiwo merebahkan diri diatas kasur. Pikiran dan hatinya benar benar kalut saat ini. Bagaimana bisa dia akan secepat ini melepas istrinya. Sungguh Jiwo benar benar belum siap. Pikirannya buntu dan hanya tertuju pada pernikahannya yang tinggal menghitung hari.
Meski ada sisi hati yang lain kalau dirinya ragu dengan dua orang itu, tapi Jiwo tidak menemukan celah yang tepat untuk membantah mereka. Apa lagi informasi yang mereka sampaikan terdengar sangat meyakinkan.
__ADS_1
Sekarang yang menjadi pikiran Jiwo adalah bagaimana caranya menyampaikan hal ini kepada semua istrinya? Apakah istri istrinya juga mengharapkan kabar ini? Hal seperti itu bisa saja terjadi. Mereka pasti sangat merindukan keluarga dan negaranya, dan kabar ini pastinya sudah sangat ditunggu oleh mereka. Akhirnya Jiwo memutuskkan untuk membicarakan semuanya nanti setelah makan malam.
Waktu terus berlalu, kini Anita dan Ridwan sedang tersenyum senang bersama tiga rekannya. Siapa lagi kalau bukan Hendrik, Wito dan Kamso. Mereka berdua adalah orang suruhan Hendrik yang dikirim Suryo. Kelima orang itu merasa puas karena rencananya kali sebentar lagi akan berhasil.
Bahkan mereka menertawakan kebodohan Jiwo, Pak Lurah dan Pak Rt yang percaya begitu saja dengan apa yang Anita dan Ridwan katakan. Hendrik tak henti hentinya memuji kepintaran sambil tangannya bergerilya di tubuh wanita itu.
"Jadi kapan kalian akan datang menjemput mereka?" tanya Hendrik yang kini jari jarinya menari di atas paha Anita.
"Sekitar lima hari lagi," jawab Anita yang diam saja dengan perlakuan Hendrik. Bahkan dia terlihat senang dengan kenakalan pria penuh pesona itu.
"Apa nggak kelamaan?"
"Ya nggak apa apa agak lama sedikit, yang penting mereka percaya dan masuk jebakan kita."
Hendrik sontak menyeringai. "Ya udah kalau gitu. Untuk merayakannya, bagaimana kalau kita masuk kamar dan bermain sampe pagi."
Anita menyambutnya dengan senang hati. Ide bagus tuh, Yuk!"
__ADS_1
Keduanya sontak beranjak ke kamar meninggalkan tiga pria yang menggerutu karena merasa iri.
...@@@@@...