MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Di malam Yang Dingin


__ADS_3

"Sial! Mobilnya nggak ada! Bagaimana ini, Jo?"


"Ya bagaimana lagi, kita ngomomg aja sama si Bos langsung. Yang penting kita sudah menemukan ketiga belas gadis itu."


"Ya udah cepetan kasih laporan, Jo! Nggak usah kita tunda lagi."


Tanpa menjawab perintah dari rekannnya, Bejo langsung memberi laporan kepada sang Bos. Meski telat memberi laporan, yang penting berita yang akan dia sampaikan pasti akan membuatnya senang.


Informasi yang Bejo dapatkan memang cukup penting. Terutama bagi kelanjutan bisnis sang bos dan Tuan Suryo. Berbekal dari informasi yang dia peroleh dari pemilik warung, Bejo yakin kalau pernikahan yang dijalani ketiga belas wanita itu bukan pernikahan tanpa cinta. Bejo yakin pasti ada semacam rencana yang menyebabkan satu pria mau menikahi tiga belas wanita yang asal usulnya tidak jelas.


Bejo yakin si Bos pasti tidak akan membiarkan para wanita menjalani hidupnya dengan mudah. Dan sesuai yang diharapkan juga, semua wanita itu masih terjaga kesuciannya. Maka itu Bejo berharap si Bos cepat mengambil tindakan.


Di saat Bejo sedang menghubungi sang bos, di malam yang sama namun di kamar yang berbeda, hawa tak biasa justru terjadi dari dalam salah satu kamar pasangan suami istri yang saling tatap dengan perasaan yang tak karuan.


Sang suami yang bernama Jiwo, tidak menyangka ucapannya yang keceplosan justru dihadapkan pada pertanyaan dari sang istri yang membuat Jiwo bingung harus menjawab apa. Saking bingungnya, Jiwo bahkan menghindari tatapan wanita yang seakan sedang menuntut jawaban dari pertanyaan yang dia lontarkan.


Setelah menyadari ucapannya yang diluar kendali, Jiwo merutuki kebodohannya sendiri karena dengan tidak sadar dia mengatakan apa yang sesungguhnya juga jadi simpanan dalam benaknya. Jiwo tidak menyangka, kata kata nakal itu meluncur begitu saja karena Jiwo larut terbawa suasana.

__ADS_1


"Kenapa Mister diam?"


Jiwo sontak tersenyum lebar sejenak. Hatinya masih merasa bingung mau menanggapi pertanyaan sang istri dengan cara apa.


"Apa Mister malu?" desak Alana.


"Udah, nggak perlu dipikirkan. Tadi saya cuma iseng ngomongnya. Mending kita tidur ya? Sudah malam," balas Jiwo mencoba mengalihkan pembahasan yang menjurus ke sana.


"Kalau Mister ingin melakukannya, mari kita lakukan saja, Mister. Bukankah itu sudah menjadi hak Mister sebagai suami?"


Deg!


"Jangan bicara sembarangan, ayo tidur!" ajak Jiwo dan dia berbaring miring membelakangi Alana. Wanita itu juga ikut berbaring. Namun diluar dugaan Alana memeluk tubuh Jiwo dari belakang hingga membuat pria itu semakin gelisah.


"Lakukanlah, Mister. Silakan ambil hak Mister pada diri saya!" bisik Alana di dekat telinga Jiwo.


Mendapat serangan bertubi tubi dalam bentuk rayuan dan kepasrahan, tentu saja jiwa lelakinya seorang Jiwo terus meronta dan semakin menyiksa. Batin Jiwo kini bertarung hebat. Dia dilema berat. Bingung menentukan pilihan yang mana. Antara mengambil haknya sebagai suami atau mempertahankan perjanjian yang dia buat bersama ketiga belas istrinya.

__ADS_1


"Apa kamu lupa? Kalau kita memiliki sebuah perjanjian? Apa kamu ingin aku mengingkari janji? Aku tidak ingin merusak kamu," ucap Jiwo dengan perasaan tak karuan meski dia mencoba bersikap tenang. Sedangkan posisi berbaring mereka masih sama. Jiwo masih membelakangi istrinya.


"Mana mungkin ada suami yang mau merusak istrinya jika istrinya sendiri yang memberikanya dengan suka rela, apa yang sudah menjadi haknya seorang suami? Sekarang lebih penting mana? Janji sesama manusia atau sebuah dosa karena sang istri yang tidak memberikan hak untuk suaminya?"


Jiwo kembali terbungkam. Pikiran Jiwo semakin kacau dan hatinya semakin gelisah. Apa yang dikatakan Alana memang benar dan ucapan itu cukup membuat Jiwo dalam dilema besar.


"Saya memang tidak tahu banyak soal agama, Mister. Tapi setidaknya, saya tahu hak dan kewajiban seorang istri itu apa aja. Bukankah sebuah kebahagiaan juga jika sang istri mampu melayani suami di malam hari?"


Jiwo menelentangkan badannya. Kini mata Jiwo dan mata Alana saling tatap dan beradu. Alana mengulas senyum tulus sedangkan Jiwo, senyumnya masih terlihat sangat canggung. Alana meraih tangan Jiwo dan meletakkan telapak tangan kasar itu di pipi Alana. Secara alamiah, Jiwo mengusap lembut pipi istrinya.


"Apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu? Mau menyerahkan apa yang kamu miliki untuk saya nikmati?" akhirnya pertanyaan itu meluncur juga dari mulut Jiwo. Meski nampak sangat terlihat kalau pria itu canggung setengah mati.


Alana mengulum senyum kemudian dia berbaring telentang. "Lakukanlah, Mister! Nikmatilah apa yang saya miliki. Saya ikhlas memberikannya pada suami saya."


Kepala Jiwo langsung bangkit dan terbaring miring menatap Alana. Dibelainya lagi wajah sang istri yang sudah pasrah.


"Baiklah."

__ADS_1


Keduanya saling melempar senyum dan Jiwo perlahan mendekatkan wajahnya pada wajah Alana.


...@@@@@@...


__ADS_2