MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Mereka Belum Jera


__ADS_3

"Ternyata jamunya cocok ya, Dek. Aku masih belum capek ini."


"Astaga! Dua ronde belum capek? Aku aja badannya seperti mau remuk, Mister."


Jiwo terkekeh mendengar keluhan istrinya. Jiwo lantas bergeser, mendekat ke arah sang istri dan memeluk wanita itu erat erat. Tak peduli keringat yang masih bembasahi badan. Bagi Jiwo yang penting istrinya nyaman.


Jiwo melirik sekilas jam yang menempel di dinding. Di sana menunjukkan pukul dua belas malam. Tanpa terasa tiga jam lebih terlewati oleh permainan panas sepasang suami istri itu. Entah karena terlalu semangat atau karena efek dari jamu yang Jiwo minum, dua ronde selesai dengan sangat memuaskan. Bahkan ronde pertama dan ronde kedua terjeda kurang dari tiga puluh menit saja.


"Mister masih kurang puas?" tanya Aziza sambil mengusap dada bidang suaminya.


"Puas kok, Sayang," balas Jiwo dengan mata terpejam menikmati sentuhan lembut istrinya.


"Kalau belum puas, biar aku bangunkan yang lainnya," tawar Aziza.


"Nggak perlu, Sayang. Udah, nggak perlu dipikirkan," ucap Jiwo berkilah. Sebenarnya dia ingin bermain lagi, tapi tak tega melihat istrinya kelelahan.


Aziza langsung terdiam. Bibirnya tersenyum tipis dengan pikiran tertuju pada kejadian yang baru pertama dia alami. Meski di bawah perutnya masih ada rasa nyeri, tapi Aziza bahagia karena telah menyerahkan sesuatu yang berharga pada laki laki yang tepat menurut dia.

__ADS_1


"Kalau mau tidur, ya tidur saja, Dek. Nggak perlu di tahan rasa kantuknya," ucap Jiwo lembut dengan tangan mendekap tubuh wanitanya. Aziza menjawab dengan gumaman lalu keduanya nampak terdiam hingga rasa kantuk perlahan merasuki mata mereka. Jiwo dan Aziza terpejam dengan tubuh masih berpelukan dan tertutup selembar selimut di atas tubuh keduanya.


Saat pagi menjelang, hanya Jiwo yang terlihat masih terlelap sampai detik ini. Sedangkan Aziza sudah membersihkan seluruh tubuhnya dan bergabung dengan yang lain melakukan tugas pagi.


"Mister jualan nggak sih? Udah jam enam itu?" tanya Alena sambil memotong daun bawang dan hampir selesai. Setelah itu dia memotong butiran bakso menjadi beberapa bagian kecil.


"Kayaknya enggak deh, sepertinya siang ini dia ada janji sama tukang yang mau ngurusin lapak jualan kita," jawab Aziza yang sedang berdiri di dekat mesin cuci.


"Mister cerita ke kamu apa gimana?" tanya Aisyah yang sedang mengocok telur yang sudah dikasih bumbu dan daun bawang serta potongan bakso. Hari ini dia akan membuat martabak.


"Kemarin, kan, kita pergi ke tukang yang membuat pesanan untuk Mister. Katanya hari ini sudah siap dan akan dibawa ke lapak kita," terang Aziza, lalu dia berbalik badan karena mesin cuci berhenti berbunyi. Aziza segera memutar tombol untuk mengeluarkan air bekas cucian.


"Mungkin sekitar dua atau tiga hari lagi kita jualan," balas Aziza.


"Wah! Jadi nggak sabar pengin cepat cepat dagang," balas Arin antusias.


"Tapi kasian, Mister, jadi sering libur jualan gara gara ngurusin kita," ucap Alina.

__ADS_1


"Ya mau bagaimana lagi, kita juga harus membantu Mister dan Emak buat nyari rejeki, kan? Sejak ada kita, pasti belanja beras dan lauknya nambah. Belum lagi biaya lainnya. Seenggaknya dengan kita ikut mencari rejeki, kita bisa meringankan suami kita," terang Aisyah. Semua nampak setuju dengan apa yang Aisyah ucapkan.


Tanpa terasa semua pekerjaan rumah mereka telah selesai dilakukan. Dua hidangan untuk sarapan Jiwo juga telah tersaji di atas meja makan. Sambil menunggu sang suami bangun, para istri kembali belajar tentang harga harga barang yang akan mereka jual.


Di lain tempat, masih satu wilayah dengan tempat tinggal Jiwo, terlihat tiga orang pria turun dari sebuah mobil. Pria pria itu nampak mengedarkan pandangannya ke area sekitar. Satu dari pria itu bersandar sambil menyalakan sebatang rokok.


"Jadi di sini tempat mereka bersembunyi?" tanya pria itu setelah menghembuskan asap dari mulutnya.


Benar, Bos, dan tempat tinggal mereka ada di seberang sana," jawab salah satu pria yang menjadi anak buahnya. Pria itu menunjuk ke arah sebuah jalan lain dimana ada gapura yang terpasang di ujung jalan itu.


Pria yang dipanggil Bos itu nampak manggut manggut lalu pria itu mengarahkan pandangannya ke jalan yang ditunjuk anak buahnya. "Sebaiknya kita cari rumah kontrakan dulu, Kali ini kita harus berindak lebih hati hati lagi."


"Baik, Bos."


Dua orang anak buah pergi ke tempat sekitar untuk mencari informasi rumah yang di kontrakan. Sementara sang Bos, hanya terdiam sambil menikmati batang rokoknya.


"Kali ini aku harus benar benar berhasil merebut mereka kembali, harus!" gumam sang Bos.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2