
Siang ini panas tidak begitu terik. Tapi jika sudah berada di tempat yang banyak orang, rasa gerah akibat panas akan sangat terasa menyengat di kulit. Seperti yang terlihat di salah satu pasar induk di sebuah kota kecil. Pasar itu selalu terlihat ramai tiap harinya. Pasar yang buka dua puluh empat jam penuh itu memang menjadi tujuan utama bagi para pedagang berskala besar untuk mendistribusikan barang dagangan mereka agar merata ke pasar yang lebih kecil di beberapa kampung sekitar.
Diantara banyaknya orang yang ada di pasar, ada seorang pria yang sedang memperhatikan lapak yang dulu digunakan untuk mencari nafkah ayahnya. Mata pria itu meneliti dengan seksama lapak yang sudah sangat lama tidak digunakan sejak sang ayah meninggal. Pria bernama Jiwo juga membersihkan dan memperkirakan bagian mana saja yang perlu di perbaiki.
Jiwo memang sengaja pergi ke pasar untuk mengecek lapak mumpung sedang libur jualan. Setelah mengambil mobil milik penjahat di samping rumah Pak Rt, Jiwo melajukan mobil itu ke arah pasar dan disinilah dia berada.
"Mau digunakan buat jualan lagi apa, Mas?" tanya seorang pedagang yang lapaknya bersebelahan dengan lapak milik Jiwo.
"Rencananya, Pak," balas Jiwo sembari sekilas menatap si penanya.
"Oh, ya baguslah. Dari pada tempatnya nganggur, sayang aja kalau nggak digunakan," ucap Bapak itu lagi. Jiwo hanya mengagguk sambil tersenyum lebar. Dia kembali melanjutkan kegiatannya yang baru saja terhenti sejenak.
Cukup lama Jiwo berada di lapaknya, hampir dua jam dia ada disana. Setelah semua dirasa cukup beres, Jiwo segera memutuskan untuk pulang ke rumah. Sebelum sampai rumah, Jiwo mampir sejenak ke pedagang pukis dan kue shamir yang ada di pinggir jalan untuk cemilan istri istrinya. Setelah mendapatkan apa yang dia beli, Jiwo bergegas melajukan mobilnya menuju rumah.
Begitu mobil sampai rumah, Jiwo tidak menyadari ada yang berbeda dengan rumahnya. Tapi saat Jiwo turun dari mobil dan hendak masuk, matanya membelalak saat dia tidak melihat kaca hitam yang biasa menutupi ruang tamunya. Yang dia lihat hanya ada kain gorden yang terlihat dari luar.
__ADS_1
"Ini, apa yang terjadi?" tanya Jiwo dengan mata yang memperhatikan jendela yang sudah tidak kacanya. Disaat bersamaan salah satu istrinya membuka pintu. "Ini apa yang terjadi, Dek?"
"Masuk dulu, Mister. Ditungguin Emak," ucap sang istri. Dengan kening berkerut dan pikiran penuh tanya, Jiwo segera saja masuk ke dalam menemui sang Emak.
"Mak, itu kaca kenapa? Kok nggak ada?" tanya Jiwo begitu dia melihat yang sedang duduk di meja makan.
"Dilempar batu oleh Darmi," jawab Emak masih dengan rasa kesal.
"Darmi?" tanya Jiwo sedikit terkejut.
Semua istri Jiwo pun langsung mengeluarkan suaranya dan menceritakan apa yang terjadi sejak Jiwo pergi. Seketika rahang Jiwo terlihat mengeras dengan dada yang bergemuruh.
"Mister, sabar. Jangan menyelesaikan masalah dengan emosi," ucap Ais mencoba mencegah Mister agar tidak keluar rumah dalam keadaan marah.
"Iya, Mister. Percuma kalau Mister pake emosi, yang ada masalahnya nanti makin runyam," sambung Alina.
__ADS_1
"Tapi ini sudah sangat keterlaluan. Mereka duluan yang buat masalah! Kalau didiamkan makin ngelunjak mereka!" balas Jiwo lantang. Emosinya sudah tidak bisa dibendung lagi. Dia tetap menerjang keluar rumah menuju ke rumah Darmi. Beberapa istrinya langsung mengikuti langkah cepat Jiwo sembari terus berusaha membujuknya.
"Wo, mau kemana?" tanya salah seorang tetangga yang melihat Jiwo dalam keadaan marah. Tetangga itu sudah tahu Jiwo marah karena apa. Jiwo lantas menghentikan langkahnya di depan orang itu.
"Mau ke rumah Titin, Ar. Tadi kamu lihat nggak keluarga Titin bikin keributan di rumahku?"
"Lihat, Wo. Gila! Emang edan itu mereka. Kamu ke rumah Titin mau melabrak?"
"Iya lah, Ar. Orang seperti mereka harus dikasih pelajaran. Dari dulu seneng banget nginjak nginjak harga diri keluargaku."
"Aku ngerti perasaan kamu, Wo. Tapi, mending kamu ajak Pak rt deh, Wo. Ajak Rt nya Darmi sekalian biar sidang."
"Benar juga idemu, Ar. Baiklah aku ke rumah Pak Rt. Kamu ikut ya, Ar? Biar jadi saksi."
"Sip!"
__ADS_1
Jiwo dan beberapa istrinya langsung saja ke rumah Pak Rt. Dia menceritakan alasan dan tujuannya hingga dia meminta bantuan Rt. Pak Rt sempat terkejut mendengarnya. Dengan senang hati Pak Rt akan membantu Jiwo. Sekarang Jiwo, Pak Rt, istri istri Jiwo dan beberapa tetangga langsung beranjak menuju rumah keluarga yang selalu mengusik ketenangan Jiwo.
...@@@@@...