
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Jiwo agak tergagap.
"Terima kasih, Mister. Mister sungguh telah melindungi saya, terima kasih."
Jiwo terbungkam, jantungnya berdebar sangat kencang. Berkali kali Jiwo menghembuskan nafasnya lewat mulut, agar gemuruh di dalam dada, yang sedang dia rasakan bisa berkurang dan sedikit bisa tenang.
Bukannya Jiwo tidak menyukai dipeluk wanita seperti ini, tapi diperlakukan seperti ini membuat sisi lain seorang Jiwo meronta tak berdaya. Dia laki laki dewasa yang tidak pernah berbaring sambil dipeluk wanita selama hidupnya, dan sekarang dia di hadapkan pada posisi seperti itu. Bahkan kedua telapak tangan Jiwo menegang dan terkepal saking tidak tahu harus berbuat apa saat ini selain pasrah.
"Mister," panggil sang istri pelan. Jiwo yang pikirannya lagi keliling kemana mana sedikit tertegun dan membalas panggilan sang istri dengan ucapan gugup.
"Saya beruntung bisa dipertemukan dengan pria seperti Mister. Mister berkali kali menyelamatkan saya. Maaf ya, Mister. Kedatangan saya malah sering merepotkan," Jiwo yang tidak terlalu fokus mendengar ucapan istrinya, hanya mampu mengulas senyum. Tangan yang sedari tadi terkepal, sedikit dia buka dan dia taruh sebagai bantal.
"Baru kali ini, saya merasa dilindungi oleh seorang pria, Mister," sontak kening Jiwo langsung berkerut mendengar ucapan istrinya barusan.
"Maksudnya?"
Alana mengulas senyum dan dia semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Jiwo. "Saya tidak pernah merasakan bagaimana di lindungi seorang laki laki selain oleh seorang ayah. Tapi sejak ayah saya meninggal, saya tidak pernah lagi merasakan perlindungan."
Jiwo kembali tertegun. Dia mendengar satu fakta baru kalau salah satu istrinya tidak memmpunyai seorang ayah. "Sejak kapan ayah kamu meninnggal?"
__ADS_1
"Sudah lama, saat saya masih umur belasan."
"Terus? Kamu tidak pernah berhubungan dengan laki laki gitu? Misal pacaran atau ..."
"Tidak, Mister. Saya tidak berani menjalin hubungan dengan lelaki lain. Mungkin kalau Mister bukan suami saya, saya tidak akan berani memeluk Mister seperti ini. Maaf, Mister, jika saya merasa nyaman seperti ini kepada Mister."
Jiwo kembali mengulas senyum. Jika boleh jujur, dia juga nyaman diperlakukan seperti ini. Malah tiap malam dipeluk oleh istri istrinya juga Jiwo mau banget. Tapi Jiwo selalu menekan dirinya agar bisa menjaga diri demi masa depan tiga belas istrinya kelak. Jiwo tidak ingin menuntut apa apa meski dia punya hak penuh.
"Mister?" lagi lagi suara sang istri membuyarkan pikiran Jiwo.
"Ada apa? Tidurlah. Apa kamu nggak ngantuk?" balas Jiwo lembut. Ingin sekali dia mengusap rambut wanita yang sekarang nempel di dada kirinya, tapi sekuat hati, Jiwo menahannya.
"Ya ... belum," jawab Jiwo agak gamang. Di tatap begitu lekat membuat Jiwo merasa salah tingkah sendiri. Alana mengulas senyum manisnya. "Kenapa kamu malah tersenyum?"
"Hehehe ... pengin aja, Mister. Bukankah senyum itu sebuah tanda kalau orang itu lagi bahagia?"
Jiwo mengangguk pelan. "Apa kamu sedang bahagia?"
Alana tersenyum lebar. "Ya ... aku bahagia. Ternyata menikah dan mempunyai suami itu menyenangkan. Ada yang melindungi, merasa nyaman dan tentunya merasa tidak sendirian."
__ADS_1
Entah sudah keberapa kalinya Jiwo mengulas senyum. Kali ini dia ikut bangkit dan duduk bersandar. Kening Jiwo berkerut saat telapak tangan kasarnya di raih oleh tangan Alana dan digenggamnya layaknya sebuah mainan.
"Telapak tangan Mister, kasar dan kekar sekali. Mister rajin olahraga ya?" tanya Alana begitu antusias. Sedangkan Jiwo lagi lagi hanya mengulas senyum tipisnya.
Sedari tadi, Jiwo sengaja diam sembari menikmati perlakuan istrinya. Jiwo tidak menyangka, salah satu istrinya ada yang agresif juga. Meski agresifnya masih dalam tahap wajar, tapi Jiwo tidak menyangka, wanita ini terkesan cuek. Bahkan dengan entengnya, Alana menautkan jari jari tangannya sendiri dengan jari tangan Jiwo yang besar, kekar dan panjang. Perlakuan Alana sungguh membuat Jiwo merasa gemas sendiri.
"Mister, seandainya nih ya? Kita semua ditakdirkan tidak bisa pulang dan selamanya kita berada disini? Apa Mister akan tetap menjadikan kami semua istri istri Mister? Atau Mister hanya memilih salah satu dari kami?"
Jiwo sontak tercengang mendapat pertanyaan seperti itu. "Bagaimana saya bisa memilih diantara kalian? Apa kalian juga ikhlas? Kalau saya hanya memilih salah satu diantara kalian?"
"Kalau saya sendiri, mungkin saya yang tidak ikhlas dan tidak berharap akan berpisah dengan Mister."
"Kenapa? Kenapa kamu tidak ingin bepisah dengan saya?"
Alana melepas tautan tangannya. Dia malah berbaring memunggunggungi sang suami. Kening Jiwo sontak berkerut. Sekilas dia tadi melihat Alana tersenyum sebelum berpaling. Jiwo semakin tertegun saat mendengar pengakuan mengejutkan beberapa saat kemudian.
"Karena saya menyukai Mister."
Deg!
__ADS_1
...@@@@@...