MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Terasa Penuh Di dalam Sana


__ADS_3

"Pelan pelan ya, Mister?"


"Iya, Sayang."


Jiwo tersenyum penuh arti kepada Aluna. Ada ketegangan dalam wajah yang sudah mulai mengeluarkan keringat itu. Sebagai suami, tugas Jiwo adalah memberi rasa nyaman dan rileks pada istrinya.


Tangan kiri Jiwo membelai lembut lembah yang sungguh masih sangat rapat. Dibelai dan dipijatnya gundukan daging terbelah itu agar sang pemilik merasa lebih nyaman lagi. Jiwo membentangkan kedua kaki istrinya agar terbuka lebih lebar lagi. Lalu dia bergeser dan mulai mengarahkan benda menegang miliknya di ujung lubang dan menggeseknya naik turun.


Setelah gesek menggesek dirasa cukup, Jiwo mulai mengarahkan ujung benda miliknya yang menurutnya sudah berada di titik yang tepat. Lagi lagi Jiwo mengalami kesulitan karena lubang milik istrinya masih sangat sempit sekali. Jiwo terus berusaha, hingga beberapa menit kemudian, saat benda menegang miliknya sudah masuk, Jiwo mulai menghentakan pinggangnya dengan keras.


Bless!


"Aaahhh!" teriak Aluna dengan kedua tangan mencengkram bantal kuat kuat. Dia merasakan rasa sakit yang luar biasa dibawah sana. Jiwo terdiam sejenak agar dengan terus memainkan dua benda kenyal milik Aluna agar rasa sakit yang dirasakan berkurang.


Setelah melihat Aluna lebih tenang, Jiwo mencabut benda menegang miliknya. Senyumnya terkembang saat dia melihat noda darah di kepala senjatanya. Jiwo meraih kaosnya dan membersihkan noda darah tersebut, lalu dia kembali bersiap diri untuk memasukkannya kembali.


"Tahan lagi ya, Sayang. Sebentar lagi rasa sakitnya hilang kok."


Aluna mengangguk lemah dan pasrah. Jiwo langsung perlahan menggesekkan benda menegang miliknya sejenak lalu kembali dia mendorong benda menegang itu masuk secara perlahan.

__ADS_1


"Aakhh!" rintih Aluna dengan suara yang tertahan. Setelah benda miliknya masuk, Jiwo mengungkung tubuh Aluna dan memberi ciuman bertubi tubi. Sambil menghujani ciuman, Jiwo mulai menggerakkan pinggangnya secara perlahan. Benda menegang miliknya mulai bekerja dengan semesinya. Hingga lama kelamaan suara kesakitan Aluna berubah menjadi suara nikmat yang tiada tara.


"Udah merasa enak, Sayang?"


"Iya, Mister. Ini enak banget, aahh ... aahh ... aahh ..."


Jiwo hanya mampu menyeringai. Gerakan pinggangnya dia percepat secara perlahan. Keduanya kini larut dalam kenikmatan Yang tiada tara. Bahkan. selang beberapa puluh menit kemudian, Aluna meraih puncak dua kali. Hal itu membuat Jiwo semakin semangat terus menggoyang istrinya.


Dan kini tiba saatnya Jiwo yang merasakan segera meraih puncak permainan. Jiwo menegakkan badannya dan terus menghujam lubang nikmat dengan cepat. Dimenit berikutnya sampailah Jiwo pada titik puncak ternikmat.


"Ahhh ... Ahh ... Ahh ..."


Dengan tubuh yang mengejang, Jiwo menyemburkan beberapa kali air putih nan kental di dalam lubang Aluna. Setelah merasa tuntas, tanpa mencabut benda miliknya, Jiwo menjatuhkan badannya sambil mengungkung tubuh Aluna. Mereka tidak peduli dengan keringat yang sudah membanjir. Mereka hanya tahu kalau kenikmatan ini sungguh membuat keduanya bahagia.


Setelah benda milik Jiwo terlepas dengan sendirinya, pria itu berbaring di sisi Aluna dan menarik tubuh wanita itu ke dalam dekapannya. Jiwo tak henti hentinya menghujami bahu dan leher belakang Aluna hingga wanita itu merasa geli karena jambang tipis yang menghiasi wajah sang suami.


"Apa Mister malam ini sangat bahagia?"


Sebelum menjawab, Jiwo mengeratkan tangan kanannya di pinggang Aluna. "Tentu saja, Sayang. Kamu sendiri bagaimana?"

__ADS_1


"Ya sama seperti yang Mister rasakan. Aku pikir Mister akan marah."


"Buat apa marah, Sayang? Justru aku harus berterima kasih karena kamu mau memberikan sesuatu yang paling berharga."


"Ngapain harus berterima kasih? Ini kan memang tugas saya sebagai istri Mister."


"Kamu menggemaskan sekali sih?" ucap Jiwo sambil salah satu dada Aluna. "Lubangnya terasa sakit nggak?" tanya Jiwo sambil memindahkak telapak tangannya ke arah bawah perut istrinya. Dibentangkannnya sedikit paha Aluna hingga tangan Jiwo leluasa menyentuh dan memijat lubang nikmat istrinya.


"Sakit dan enak berbaur jadi satu Mister. Punya Mister gede banget, kayak penuh gitu di dalam lubang."


Jiwo terkekeh. Dalam hatinya ada kebahagiaan tersendiri setelah berhasil membobol segel milik dua istrinya berturut turut. Jiwo tidak pernah menyangka akan mengalami hal semacam ini yang mungkin saja bisa menimbulkan rasa iri bagi laki laki lain.


Pikiran Jiwo juga berkelana membayangkan sebelas istrinya yang lain juga melakukan hal yang sama. Sudah dipastikan, Jiwo akan menjadi pria yang paling bahagia saat ini. Tapi sedetik berikutnya, Jiwo menepis pikiran nakalnya. Biarlah semuanya nanti berjalan apa adanya. Kalaupun para istrinya nanti menyerahkan mahkotanya, Jiwo akan menerimanya dengan senang hati. Tapi Jiwo tidak akan meminta kepada mereka. Seperti Alana dan Aluna, Jiwo ingin semua mengalir saja apa adanya.


"Mister?" panggil Aluna lirih.


"Apa, Sayang?"


"Pengin lagi."

__ADS_1


Jiwo langsung menyeringai. "Baiklah, Sayang. Ayo!"


...@@@@@...


__ADS_2