MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Kabar Baik Bertubi tubi


__ADS_3

"Ya, Tuhan! Aku nggak nyangka, ternyata aku juga hamil!"


"Alhamdulillah, aku juga, hiks ... hiks ..."


Jiwo yang melihat dua istri yang lain mendapat kabar baik langsung ikut mengucap syukur juga. Sekarang lima istrinya sudah berbadan dua.


"Selamat ya, Sayang," ucap Jiwo sambil memeluk keduanya. Dia tidak peduli dengan pandangan orang yang ada di sekitar klinik bersalin. Jiwo segera mengajak dua istrinya pulang untuk memberi kabar kepada orang rumah.


Untuk mengobati rasa penasaran, Jiwo sengaja mengajak dua istrinya ke bidan terdekat. Sengaja mereka pergi ke klinik bersalin terdekat agar proses pemeriksaan lebih cepat. Daripada mereka menduga duga dengan hasil alat tes kehamilan, Jiwo berinisiatif langsung saja membawa Alena dan Aluna ke klinik bersalin yang antrinya tidak panjang seperti di rumah sakit.


Sesampainya di rumah, Jiwo langsung menyampaikan kabar baik tersebut. Emak dan istri Jiwo yang berada di rumah langsung bersyukur karena kabar baik tersebut.


"Mending kalian istirahat, jangan terlalu capek. Ingat, apa pesan dokter tadi," ucap Jiwo mengingatkan. Baru saja ucapan Jiwo berhenti, tiga istriya yang sedari tadi istirahat, datang ke ruang tamu dan bergabung dengan yang lain. "Loh, loh, loh, kalian kenapa bangun? Mending istirahat di kamar saja."


"Bosen, Mister. Lagian tiduran terus juga pusing," balas Anisa.


"Tapi kan kalian harus banyak istirahat?"


"Ya nggak apa apa, Wo. Mereka disini juga paling hanya duduk. Lagian nggak baik juga kalau di kamar terus. Yang ada nanti mereka stres," Emak ikut besuara.


"Tapi, Mak ..."


"Wo, jangan ngekang gitu? Yang ada nanti istri kamu stres, kamu mau terjadi apa apa sama anak kamu?"


"Amit amit."


"Ya sudah, tinggal di awasi baik baik. Nggak perlu di kekang gitu."

__ADS_1


Jiwo akhirnya mengalah. Wajahnya di tekuk setelah mendengus. Sedangkan para istrinya terkekeh melihat sikap suami mereka yang menjadi sangat posesif.


"Sabar, Mister, jangan emosi," ucap Aisyah sambil cekikikan. Jiwo hanya mencebikkan bibirnya lalu dia bangkit dan berpindah tempat duduk di atas karpet dekat barang dagangannya. Tujuh istri yang ada di sana langsung ikut bergabung bersama suami mereka. Sedangkan istri yang lain sedang berada di pasar, menggantikan Emak jualan dan jaga lapak. Emak masuk ke dalam entah mau ngapain.


"Nanti jika anak kita lahir, kira kira Mister kpenginnya dipanggil apa oleh anak anak? Apa dipanggil mister juga?"


"Jangan!" tolak Jiwo. "Mereka harus manggil aku, Ayah."


"Nggak Dedy apa papi aja, Mister?" tawar Andin.


"Hahaha ... emangnya aku orang bule? Panggil Ayah dan ibu aja, sederhana tapi penuh makna."


"Eh, Mister, tadi tanya dokter nggak? Kalau lagi hamil, bisa berhubungan badan apa enggak?" tanya Arin.


"Yah lupa!" Jiwo menepuk keningnya. "Tapi kayaknya boleh deh? Kenapa?"


"Aduh! Terus gimana dong? Apa kalian yang sedang hamil, libur berhubungan badan terlebih dahulu?" usul Jiwo.


"Lah, masa libur? nggak mau!" tolak Arin.


"Terus gimana dong?" tanya Jiwo dengan wajah bingung menatap lima istrinya yang sedang hamil. Mungkin bagi Jiwo, tidak masalah tidak berhubungan badan dengan lima istrinya yang sedang hamil. Masih ada delapan istri yang siap di sentuh.


Namun bagi lima istri yang sedang hamil jelas saja itu akan terasa berat. Mereka sudah kecanduan dengan isi celana suaminya yang gede dan kekar, jadi mana mungkin mereka bakalan setuju untuk tidak berhubungan badan terlebih dahulu.


"Mister tidak perlu bingung," Kini Andin bersuara.


"Emang kenapa, Sayang?"

__ADS_1


"Dari yang pernah saya baca dan saya dengar, awal kehamilan memang sangat rentan dan harus di jaga. Tapi bukan berarti tidak bisa berhubungan badan. Tetap boleh, tapi jangan terlalu sering dan pelan pelan saat melakukannya," terang Andin.


"Benar, aku juga tahu tentang hal itu," sambung Aisyah. "Bahkan katanya berhubungan suami istri tetap bisa dilakukan sampai perut membesar. Buat lebih jelasnya memang seharusnya tanya sama ahlinya sih."


"Ya udah, besok, habis ngantar ke lapak, aku coba tanyakan ke klinik," ucap Jiwo dengan santainya.


"Astaga! Mister nggak malu?" tanya Andin dengan tatapan tidak percaya.


"Kenapa mesti malu? Tujuanku kan baik?"


"Iya, aku tahu, tapi nggak sendirian juga kali. Mana cuma tanya soal hubungan ranjang lagi. Apa kata Bu dokter?"


Jiwo sontak cengengesan. Ucapan Andin ada memang benar. "Terus gimana, dong?"


"Gini aja deh," Aisyah bersuara. "Untuk yang sedang hamil, Mister jatah satu minggu sekali dulu, sampai bulan depan saat mau periksa kandungan."


"Aku setuju. Karena ada yang sedang hamil, kita atur ulang aja jadwal tidur bergilirnya. Biar sama sama dapat jatah yang pas," Andin menimpali.


"Begitu?" tanya Jiwo sambil menatap Aisyah dan Andin. Keduanya langsung mengangguk. Lalu pandangan Jiwo beralih ke arah lima istrinya. "


"Aku sih setuju aja."


"Aku juga."


"Sama, aku juga."


"Baiklah, " ucap Jiwo. "Kita atur ulang jadwal bergilirnya."

__ADS_1


...@@@@@@@...


__ADS_2