
Kabut pagi terlihat sangat pekat. Udara dingin masih terasa menusuk kulit. Sisa hujan semalam juga meninggalkan basah dan genangan di beberapa tempat. Tapi keadaan itu tidak menyurutkan semangat banyak nyawa untuk memulai harinya yang biasa mereka lakukan seperti hari hari sebelumnya.
Seperti Emak dan tiga menantunya yang kerapa kali berangkat pagi untuk mencari rejeki. Mereka tidak peduli dengan udara dingin yang membuat badan menggigil. Semangat mereka tidak tergoyah oleh keadaan pagi ini. Sementara menantu Emak yang lain juga sedang menunaikan tugas di rumah seperi biasanya.
Namanya perempuan, meski tangannya sedang sibuk bekerja, kalau sedang berkumpul pasti ada saja bahan untuk dibicarakan. Padahal istri istri Jiwo itu udah kebiasaan berkumpul setiap waktu, tapi mereka selalu saja menemukan bahan pembicaraan yang seru. Tapi dari obrolan orbrolan yang sering mereka lakukan itulah, mereka jadi dekat satu sama lain. Bahkan diantara mereka seperti tidak ada persaingan. Yang ada, mereka malah saling mendukung satu sama lain.
"Semalam aku dan Mister membicarakan soal anak," ucap Arum sembari duduk di tepi dipan serba guna yang memang sengaja disediakan di area dapur.
"Anak? Apa Mister pengin punya anak?" tanya Alifa dengan kening berkerut. Dia dan yang lain agak terkejut mendengar ucapan Arum.
"Sudah pasti lah kalau Mister menginginkan seorang anak. Kan dia sudah menikah. Apa lagi teman temannya juga sudah pada memiliki anak. Wajar kalau Mister juga pengin," balas Aluna yang kali ini menggantikan tugas Aisyah dalam memasak. Aluna juga mempunyak bakat memasak dengan rasa yang enak. Maka itu, jika Aisyah dapat giliran ikut jualan, urusan rasa masakan menjadi tugas Aluna. Hari ini Aisyah ikut jualan Emak, jadi tugasnya diganti oleh Aluna.
"Tapi yang jadi pertanyaan, apa kita mampu memberi keturunan pada Mister? Secara kita kan ibaratnya jarang disentuh? Kita disentuh kalau dapat giliran saja. Bahkan beberapa dari kita ada yang belum disentuh karena tamu bulanan," ungkap Arin yang berdiri di dekat pintu penghubung antara dapur dan ruang tengah.
"Semua nanti akan kita bicarakan kok dengan Mister. Mungkin Mister punya cara lain nanti," balas Arum.
__ADS_1
"Syukurlah," balas Aluna lega dan mewakili yang lainnya.
Jiwo terbangun begitu masakan sudah siap untuk disantap. Dengan hanya memakai sarung untuk menutupi tubuhnya, Jiwo keluar kamar dengan langkah gontai. Begitu melewati meja makan, Jiwo malah duduk di sana, bukannnya ke kamar mandi.
"Mister baru bangun langsung sarapan?" tanya Anum dengan kening berkerut tapi dia beranjak dari duduk santainya di depan televisi.
"Lapar banget, Dek. Semalam, kan, aku nggak makan, tuh, pete dan sambal yang kalian sisain juga masih utuh," balas Jiwo berasalan.
"Ya paling enggak gosok gigi dulu lah, Mister. Jorok amat sih," sungut Anum gemas.
Jiwo hanya bisa cengengesan, lalu dia segera saja bangkit dengan malas menuju kamar mandi. Bukan hanya gosok gigi. Jiwo juga sekalian buang air besar dan mandi karena nanggung kalau cuma sikat gigi saja.
Jiwo tidak pernah keberatan dalam hal itu. Justru Jiwo malah senang, karena para istri Jiwo benar benar menghormati Jiwo sebagai kepala rumah tangga. Dia sangat senang dan sangat bersyukur, istri istrinya malayani Jiwo dengan sepenuh hati.
"Mister."
__ADS_1
"Hum."
"Apa benar Mister pengin punya anak?"
Jiwo yang hendak mamasukan makanan ke mulutnya menoleh sejenak ke arah Anum kemudian tersenyum sekilas baru makanan yang sudah ada tangan dimasukan ke dalam mulut.
"Arum sudah cerita?"
"Sudah."
"Ya begitulah, tapi nanti kita bahas kalau semuanya sudah pada kumpul di rumah ya? Siang ini, kita fokus saja sama persiapan buka lapak," ucap Jiwo sambil melanjutkan sarapannya. Sedangkan Anum hanya mengangguk sembari tersenyum tipis.
Sementara itu di hari yang sama di kota lain, seperti yang diminta oleh rekan bisnis kotornya, Suryo menyiapkan apa yang diminta Hendrik. Kali ini Suryo akan menyuruh orang untuk memainkan drama, bukan dengan kekerasan seperti rencana yang selalu gagal. Suryo melakulan hal ini karena ada yang harus dia lindungi. Suryo melakukannya semata mata agar nama baik dan jabatannya tetap aman, makanya Suryo harus melakukan apapun untuk menghilangkan barang bukti yang bisa menghancurkan segalanya.
"Lakukan dengan baik apa yang sudah aku perintahkan! Jangan ceroboh, dan jangan sampai gagal!" titah Suryo dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1
"Siap, Bos."
...@@@@@@...