MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Kembali Memulai Usaha


__ADS_3

Waktu menunjukan kalau saat ini malam semakin menuju larut. Jam di dinding menunjukkan pukul sembilan lebih. Jiwo terbaring sendiri di kamarnya. Karena rasa kantuk yang belum datang, Jiwo memilih mengambil buku cacatan untuk mengurusi usahanya yang sempat terbengkalai beberapa minggu ini.


Saat Jiwo sedang asyik mencatat barang barang apa saja yang akan dia beli, pintu kamarnya terbuka dan terlihat, dua wanita memasuki kamar dan menghampirinya. Jiwo sontak mengukir senyum dan menghentikan kegiatannya sejenak.


"Mister lagi ngapain?" tanya Aisyah begitu dia duduk disebelah kanan suaminya.


"Mencatat barang dagangan kita," balas Jiwo. "Kalian udah baikan?"


"Belum," jawab Arum.


"Loh, kenapa?" tanya Jiwo lembut.


"Pengin meluk Mister."


Senyum Jiwo seketika terkembang. "Baiklah," balasnya. Jiwo naik ke atas kasur dan merebakan setengah badannya dengan kepala dan punggung bersandar pada tembok. Dua istrinya langsung merapatkan badan mereka dengan posisi kanan dan kiri sang suami.


Jiwo mengusap kepala dua istrinya dengan penuh kasih sayang. Aisyah dan Arum nampak terdiam sembari menikmati kenyamanan yang mereka rasakan pada tubuh suaminya. Sebenarnya Jiwo juga ingin memeluk istri istri yang lain. Dia tahu mereka pasti juga butuh ditenangin oleh suaminya. Namun apa boleh buat, badan Jiwo hanya satu. Dia tidak bisa mewujudkan keinginannya tersebut. Ada rasa tak enak dalam hatinya, tapi apa boleh buat. Adanya seperti itu.


"Aku sempat takut, aku pikir kalian akan pergi dari sini," ucap Jiwo memecah keheningan beberapa saat kemudian. "Aku tidak menyangka, kalian malah kompak selalu berada disisiku, Sayang."


"Bagaimana aku bisa pergi? Kalau aku sudah memiliki laki laki terbaik disini, Mister," balas Aisyah.


"Jangan terlalu memuji, nanti aku bisa jadi manusia sombong loh, Dek."

__ADS_1


"Siapa yang memuji Mister, orang aku ngomong apa adanya. Suka gitu Mister loh."


"Iya iya, Maaf," balas Jiwo mengalah. "Sekali lagi aku ucapkan terima kasih ya, Sayang sayangku. Kalian mau bertahan menjalani pernikahan ini bersamaku."


"Tapi maaf, Mister. Malam ini aku nggak mau berhubungan badan dulu. Aku lagi nggak berhasrat," ucap Arum.


"Tumben, Rum? Biasanya kamu yang paling kotor pikirannya," balas Aisyah.


"Malam ini pikiranku lagi bersih, jadi jangan coba kamu racuni."


"Hahaha ... bisa aja kamu, Sayang. Ya udah nggakk apa apa. Lagian semalam aku cukup senang dan pesta ulang tahun yang kalian adakan."


"Hahaha ... kayaknya di negara ini cuma kita yang merayakan pesta seperti itu."


"Benar."


Hari berganti lagi, dan hari ini Jiwo pergi ke kota tempat tinggal sang kakak untuk belanja barang dagangan ditemani dua istrinya. Sedangkan Di rumah, Emak dan para istri yang lain juga mempersiapkan segala yang berhubungan dengan usaha mereka. Apa lagi diantara mereka akan memulai usaha baru juga.


Saat ini, Emak dan beberapa istri Jiwo sedang berada di pasar. Selain membeli beberapa barang kebutuhan, mereka juga merapikan dan membersihkan lapak mereka. Belum genap satu bulan, tapi lapak itu sering tutup karena berbagai kejadian yang menimpa pemiliknya.


Kini, Jiwo dan dua istrinya telah sampai di tempat tujuan. Seperti biasa, Jiwo langsung menuju ke toko dimana dia biasa berbelanja dalam jumlah yang banyak. Dengan dibantu Alifa dan Alana, Jiwo memilih dan memilah barang dengan baik. Mereka harus benar benar teliti agar saat dijual nanti, para pelanggan merasa puas. Barang yang Jiwo beli pun cukup banyak dan makin beraneka ragam.


Setelah selesai belanja, Jiwo baru mendatangi rumah kakaknya. Sama seperti sebelumnya, Jiwo akan menginap semalam di rumah sang kakak.

__ADS_1


"Sepertinya sebentar lagi akan melahirkan ya, Mbak?" tanya Alifa saat mereka sedang menikmati makan malam.


"Iya, diperkirakan dua miggu lagi," jawab kakak ipar Jiwo. "Nanti kalian pada datang kesini loh pas Mbak sudah melahirkan."


"Beres, Mbak. Mister pasti bakalan ngajak kita kesini," ucap Alana lalu dia menoleh ke arah Jiwo. "Iya kan, Mister?" Jiwo hanya menjawab dengan anggukan karena mulutnya terisi penuh oleh makanan.


"Istri istri kamu sendiri sudah ada yang hamil belum, Wo?" tanya kakak Jiwo.


"Masih berjuang, Mas," balas Jiwo.


"Gimana cara berjuangnya?" tanya salah satu keponakan Jiwo. "Kan istri paman banyak?"


"Hust! Anak kecil mending diem. Nggak usah ikutan ngomong," hardik Jiwo.


"Astaga! Aku kok jadi ngebayangin aku yang ada diposisi Paman ya? bikin anak dengan tiga belas wanita, paman nasibnya enak benarnya."


"Eh anak kecil, omongannya ya?"


"siapa yang anak kecil paman? Tahun depan aku udah SMA. udah bisa bikin anak juga."


"Astaga!" semua nampak tertawa melihat interaksi paman dan keponakan tersebut.


"Wo," kini sang kakak yang besuara kembali. "Kira kira dari tiga belas wanita itu, siapa yang akan kamu resmikan pernikahannya secara negara?"

__ADS_1


Deg!


...@@@@...


__ADS_2