
"Kamu nggak apa apa?"
"Nggak apa apa, Mak," jawab Andin sembari tersenyum. Aksi wanita itu benar benar membuat kaget Emak dan para warga. Meski terkejut tapi mereka salut dengan tindakan Andin yang terlihat jago bela diri. Andin pun menerima banyak pujian dan sanjungan setelah berhasil menumbangkan salah satu pria dengan mudah.
Tiga pria yang dicurigai sebagai penjahat langsung di ringkus tanpa perlawanan. Jarwo dan Burhan yang awalnya ingin menyerang Andin, langsung dibuat tak berkutik oleh warga yang ikut menyerangnya. Ketiga pria itu langsung digiring warga ke balai RT untuk di interogasi Pak Rt dan warga lainnya.
Mendengar keadaan sudah aman, istri istri Jiwo yang lain langsung berhamburan keluar rumah dan mengikuti yang lain ke balai Rt. Hingga beberapa menit kemudian, di saat itu, mobil pick up yang Jiwo kemudikan terlihat masuk ke jalan komplek rumahnya.
Tak butuh waktu lama, mobil yang Jiwo kendarai kini berhenti di halaman rumahnya. Tanpa rasa curiga sedikit pun Jiwo dan Alifa langsung turun dari mobil menuju teras rumah. Pada saat mereka memberi salam, mereka tercengang karena tak ada sahutan dari dalam rumah. Berkali kali mereka mengulang salam tapi tetap tidak ada jawaban.
"Ini, nggak ada orang apa gimana?" ucap Jiwo.
"Sepertinya lagi pada pergi, Mister. Coba lewat samping," balas Alifa dan mereka beranjak ke samping rumah menuju pintu belakang. "Loh, dikunci juga."
"Pada kemana mereka?" tanya Jiwo sambil membuka tas dan mengambil yang ada di dalamnya. Yang pertama dia hubungi adalah nomer istrinya. Namun saat panggilan terjadi, Jiwo dan Alifa dibuat terkejut mendengar nada dering ponsel di dalam rumahnya. "Malah nggak bawa hp."
Jiwo sedikit gusar saat tahu istri istri yang lain malah meninggalkan ponsel di rumah. Jiwo pun tak habis akal. Dia segera menghungi ponsel Emaknya.
"Hallo, Mak."
"Mak, dimana? Kok rumah sepi?"
"Balai Rt? Ngapain?"
__ADS_1
"Hah! Yayaya, aku kesana!"
Klik.
"Gimana, Mister?"
"Kita ke Balai Rt, Emak dan yang lain ada disana?"
"Balai Rt?"
"Ikut aja, nanti kamu akan tahu."
Bergegas Jiwo dan Alifa pergi ke tempat yang yang dimaksud. Letak balai Rt sangat dekat dengan rumah Jiwo cuma berada di tengah perumahan warga dan dekat dengan lapangan bulu tangkis. Tidak sampai dua menit, Jiwo sudah berada di tempat tujuan. Ternyata sudah lumayan banyak warga yang berkumpul di sana.
"Ini ada apa sih?" bukannya menjawab, Jiwo malah melempar tanya balik.
"Itu, ada orang yang mencurigakan ngawasin rumah kamu."
"Apa! Ngawasin gimana?"
"Tanya aja deh sama istri istri kamu, tuh, di dalam."
Jiwo sontak saja langsung masuk. Mata Jiwo sedikit menyipit saat melihat tiga orang yang terikat sembari menduduk. Istri istri Jiwo pun duduk di sana bersama Pak Rt yang tadi segera pulang begitu mendengar kabar, serta beberapa pengurus Rt yang lain.
__ADS_1
Jiwo langsung saja mendekat ke tempat Emak dan istri istrinya. Sambutan istri istri Jiwo yang begitu hangat, tentu saja menjadi pandangan khusus warga. Kehangatan mereka tentu saja membuat para warga kagum dan juga iri.
"Hebat ya, Jiwo. Istrinya akur semua."
"Iya, resepnya apa tuh, Wo?"
Jiwo hanya cengengesan tanpa mau menjawab pertanyaan tetangganya. Dia sendiri juga tidak tahu resepnya apa. Jiwo lalu melempar pandangannya ke arah Pak Rt.
"Pak Rt, ini sebenarnya ada apa sih? Dan mereka siapa?" tanya Jiwo sambil menunjuk tiga orang yang duduk dengan tangan terikat. Meski sudah mendengar apa yang terjadi dari tetangga, tapi Jiwo belum puas dengan jawabannya.
Pak Rt menjawab pertanyaan Jiwo sesuai dengan apa yang dia dengar dari cerita istri istri Jiwo dan beberapa warga yang tadi ikut penggerebekan. "Kemungkinan mereka ada hubungannya dengan tiga orang yang kemarin kita tangkap, Wo."
"Apa! Gila, yah? Dikasih peringatan agar nyerah malah ngirim orang lain lagi! Kurang ajar!" maki Jiwo langsung menunjukan emosinya.
"Tenang, Wo, sabar. Yang penting mereka cepat ketangkap sebelum beraksi. Istri istrimu masih aman."
"Apa lagi tadi saat salah satu istri kamu menunjukan taringnya, Wo. Wuu, mantap! Bela dirinya bagus banget," sambung yang lain. Andin yang merasa ditatap Jiwo langsung cengengesan.
Di saat jiwo dan para warga lagi bermusyarah membahas tiga orang tersangka, ponsel salah satu dari tiga orang itu berdering. Ponsel yang disita oleh warga dan tergeletak di atas meja tak jauh dari Jiwo, langsung saja di ambil pria itu. Ada nama Bos di layar ponsel tersebut. Jiwo pun menyeringai.
"Kena kau!"
...@@@@@@@...
__ADS_1