MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Membuka Hadiah


__ADS_3

Lelah tapi bahagia, mungkin itu yang sedang dirasakan oleh pria berusia tiga puluh satu tahun itu. Lelah karena malam ini, dia menghabiskan waktu sampai tiga ronde dalam bermain dengan istrinya. Bahagia karena bukan hanya satu istri yang dia nikmati, tapi tiga istri dalam waktu yang bersamaan. Meski ronde ketiga dia bermainnya di ruang tamu.


Karena permainan dironde ketiga selesai sekitar pukul dua pagi, maka hingga menjelang siang, pria itu belum terbangun dari tidurnya. Padahal jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan pagi dan para istri Jiwo sedang membuka hadiah serta menikmati oleh oleh yang mereka dapatkan selama berada di ibu kota.


"Jiwo belum bangun?" tanya Emak yang baru saja pulang membeli bubur.


"Belum, Mak. Mungkin Mister sangat lelah, jadi jam segini belum bangun," Alifa yang menjawab.


"Lah terus, semalam Mister bangun nggak? Dia kan dari sore belum makan? Apa ada yang tahu? Alena, Arin? Kamu tahu nggak?" cerca Aisyah.


Arin dan Alena menggeleng. Karena hasrat yang sudah di ubun ubun, membuat dua wanita itu lupa menawari suaminya untuk makan. Aisyah dan yang lainnya pun sempat kesal mendengar jawaban keduanya, beruntung Alifa ikut menjawab kalau Mister semalam makan, jadi tidak terjadi keributan.


"Bukan hanya kita yang harus dijaga oleh Mister, tapi kita juga harus menjaga Mister agar tetap sehat. Coba kalau terjadi sesuatu pada Mister? Kita juga yang kena imbasnya," tutur Aziza.


"Iya, maaf," jawab Arin singkat dengan penuh rasa bersalah. Akibat perdebatan kecil yang terjadi, sejenak suasana ceria itu lenyap dan menjadi hening dan merasa canggung, hingga sebuah suara mengagetkan mereka.


Kalian lagi pada ngapain?" semua nampak menoleh ke sumber suara. Seorang pria hannya dengan memakai sarung dengan wajah kusut khas bangun tidur, berdiri di sana dan melangkah lalu menghempaskan badannya di kursi tamu.


"Ini Mister, beresin hadiah yang kita dapat kemarin," jawab Alana. "Mister mau langsung sarapan atau mandi dulu?"

__ADS_1


"Nanti dulu, Dek, nyawanya belum ngumpul."


Alana hanya manggut manggut dan tersenyum lebar, lalu dia melanjutkan apa yang sedang dia kerjakan tadi. Setelah semuanya terbuka, sekarang tinggal bingung hadiah itu mau di taruh dimana. Mereka minta solusi pada suaminya.


"Taruh di satu dus aja dulu untuk barang yang nggak bisa digunakan," jawab Jiwo, "Dan barang yang bisa digunakan, gabungin aja sama yang lain."


Para istripun setuju dan segera melakukannya. Disaat itu juga Emak datang dan duduk di salah satu kursi yang ada disana.


"Emak darimana, Mak?" tanya Jiwo.


"Tadi beli bubur dan sekalian mampir ke rumah paman nganter oleh oleh. Terus ini dari kamar mandi," jawab Emak. "Wo, bayaran kamu masuk televisi gede nggak?"


"Gini, Emak pengin bangun kamar dua atau tiga lagi buat istri istrimu, Wo."


"Kamar?"


"Iya kamar, selama ini kan kamar mereka terlalu sempit, Wo. Tanah sebelah rumah bangun aja untuk kamar tambahan. Biar satu kamar di isi dua atau tiga istri kamu. Terus kamar mandi juga di tambahin. Di sini kan banyak orang, masa kamar mandinya cuma satu?"


Jiwo mencerna ucapan Emak dengan baik dan nyatanya usulan Emak ada benarnya. Selama ini para istri Jiwo tidur dalam dua kamar yang bisa saja sempit jika diisi lima atau enam orang. Mereka benar benar tidak pernah protes berbagi kamar, mengeluh pun tidak. Mereka sungguh menerima apapun keadaan yang ada di rumah Jiwo.

__ADS_1


"Ya udah, Mak. nanti aku pikirkan," jawab Jiwo lalu dia memandang ke arah para istri. "Aisyah, kamu jadi jualan jajanan?"


Aisyah pun mendongak dan menatap suaminya. "Jadi, Mister."


"Ya sudah kita bahas sekalian mumpung lagi ngumpul," pinta Jiwo dan semua istri menurut saja. Tapi sebelum itu, Jiwo beranjak ke kamar mandi dulu guna cuci muka dan gosok gigi, lalu meminta istrinya untuk menyiapkan sarapan di ruang tamu.


Musyarawah keluarga pun terjadi saat itu juga. Selain membahas usaha yang Aisyah inginkan, mereka juga membahas usulan Emak tentang pembangunan rumah. Jiwo juga membeberkan rincian pendapatan ketika menjadi bintang tamu di televisi serta acara mendadak lainnnya.


"Kamu yakin mau jualan keliling aja?" tanya Jiwo pada Aisyah. "Kenapa nggak mangkal aja?"


"Iya, Mister, kalau keliling, lebih enak ngenalin dan nawarinnnya, Mister. Lagian, mereka kan tahunya aku istri Mister, jadi aku akan memakai nama Mister untuk menarik pembeli."


Jiwo tersenyum senang. "Baguslah, ya sudah, kamu catat aja apa yang kamu butuhkan, dan untuk yang lain, kalau ada apa apa, ngomong aja, apa ada juga yang pengin usaha?"


"Untuk saat ini belum, Mister. Nanti kalau ada ide, pasti kita ngomong," jawab Anum.


"Baiklah."


Dan musyawarah pun terus berlanjut.

__ADS_1


...@@@@...


__ADS_2