
Dan di hari berikutnya, Emak pun berangkat ke rumah Bayu, anak pertamanya. Awalnya Jiwo hendak mengantar, tapi ternyata, sepupu Jiwo, anaknya paman juga akan ikut karena ada perlu dengan kakaknya Bayu. Akhirnya Emak berangkat bersama Bibi siti dan Widodo, anaknya paman.
Kemungkinan Emak akan lama tinggal di rumah Bayu, mengingat orang tua dari istrinya Bayu berasal dari seberang pulau, jadi kemungkinan untuk mereka datang sangat tipis. Jadi untuk urusan rumah, Emak menyerahkan semuanya ke tangan Jiwo dan istrinya. Begitu juga dengan jualan Emak, istri istri Jiwo yang akan menangani.
Hari ini semua kembali ke rutinitas seperti biasanya. Meski ada tambahan kesibukan lain, tapi tidak mempengaruhi apa yang telah berjalan sebelumnya. Aisyah juga hari ini akan mulai mencoba usaha jualan jajananya. Dia lebih fokus memilih donat dan roti goreng lainnya yang diproduksi.
Setelah sarapan, Jiwo duduk di teras sambil menyesap rokok dan memandang lahan kosong yang sebentar lagi akan dibangun sebagai rumah tambahan. Jiwo tidak menyangka kalau salah satu impiannya akan terwujud. Membangun rumah di lahan tersebut untuk istrinya adalah sebuah impian yang Jiwo pendam selama ini.
"Mister, kenapa bengong? Udah siang ini loh, kok malah nggak siap siap?" suara cempreng Alana sontak membuat Jiwo kaget dan membuyarkan semua lamunannya.
"Ya ampun, aku kan tinggal pake kaos doang, Dek."
"Ya udah sana siap siap? Aisyah saja udah siap mau berangkat itu."
"Siap, Sayang!" Jiwo langsung bangkit dan masuk menuju kamarnya. Tak butuh waktu lama, kini Jiwo sudah siap di atas motor roda tiganya untuk mengantar enam orang istri berangkat ke pasar.
Hari ini total sepuluh istri Jiwo berada di pasar. Empat orang istri berangkat pagi menggantikan jualan Emak. Empat orang akan berbagi tugas berkeliling jualan jajanan hasil karya tangan Aisyah, dua orang jualan di lapak dan sisanya jaga rumah. Semua benar benar kompak dan semangat menjalankan usaha mereka.
Tanpa terasa, waktu sudah menunjukan pukul sepuluh pagi. Meski lapak belum buka sepenuhnya, tapi ada saja pembeli yang mampir. Bukan hanya satu dua pembeli, tapi lumayan banyak. Jiwo dan dua istrinya pun menyambut dan melayani mereka dengan senang hati.
"Mister, ini sih seandainya ya? Jika lapak kita semakin rame terus kita bisa buka toko yang lebih besar, apa Mister akan tetap jualan keliling?" tanya Alana.
"Kenapa?"
"Ya nggak kenapa napa, Mister, pengin tahu aja rencana masa depan Mister bagaimana?"
__ADS_1
"Kalau aku sih jualan keliling akan tetap aku jalani, karena biar bagaimanapun, aku mengawali jualan dari keliling. Nanti jika buka toko ya kan ada kalian yang jagain."
"Oh gitu, kirain Mister mau berhenti keliling?"
"Enggak lah, sayang kalau ditinggalin."
Dua istri Jiwo nampak manggut manggut dan mereka meneruskan obrolan mereka sambil merapikan barang dan menunggu pembeli. Di saat itu pula, empat istri Jiwo yang berangkat ke pasar sejak jam lima pagi menghampiri lapak suaminya.
"Mister, sibuk nggak?"
"Kenapa? Kalian udah pada mau pulang?" balas Jiwo.
"Iya, bisa nganterin nggak?"
"Ya udah tunggu aja di depan pintu utama."
Sesuai permintaan, Jiwo pun mengantar istrinya pulang sejenak lalu kembali lagi ke pasar. Sepertinya antar jemput para istri akan menjadi kegiatan baru jika Jiwo sedang libur jualan. Sekitar pukul dua siang, giliran Aisyah dan tiga istrinya yang minta antar pulang.
"Alhmdulillah kalau laku semua," ucap Jiwo penuh rasa syukur. Di hari pertama jualan, jajanan Aisyah ludes tanpa sisa. "Gimana tanggapan para pembeli? Kalian pada tanya nggak?"
"Katanya sih enak, Mister, meski dingin, tapi empuk rotinya," jawab Aziza yang ikut keliling.
"Kalian pasti capek banget ya? Keliling pasar sambil jalan kaki?"
"Capek sih, tapi melihat dagangan habis terjual, seakan akan rasa capek itu hilang loh," balas Adiba.
__ADS_1
"Benar, kita malah kayak seneng gitu," timpal Arin.
"Ya begitulah yang namanya orang dagang, Sayang. Capek kita serasa dibayar kontan saat jualan kita habis, tapi kesabaran kita akan sangat diuji saat nggak melayani pembeli."
"Iya juga yah? Kalau orang yang nggak sabaran mungkin langsung bangkrut."
"Kalian beruntung, baru merintis tapi langsung habis. Banyak loh yang nggak seberuntung kalian."
"Kita beruntung karena Mister juga loh?"
"Loh, kok aku?"
"Kita kan memberi nama jajanan aisyah dengan nama jajanan Mister Jiwo. Nama Mister kan udah terkenal, jadi enak aja gitu jualannya."
"Owalah hahaha ... tapi bagus itu? Pertahankan, Sayang?"
"Siap, Mister!"
Dan tanpa terasa, waktu sudah hampir menuju petang. Semua istri Jiwo sudah kembali ke rumah sejak pukul empat sore. Kini sekarang mereka sedang berkumpul di ruang tengah.
"Mister nggak dibangunin?"
"Biarin, Mister capek banget pasti, sedari subuh dia sibuk."
"Nggak ada Emak, enaknya ngapain ya?"
__ADS_1
"Aku ada ide."
...@@@@@...