
Kendaraann berbentuk mini bus itu meluncur dengan kecepatan sedang menembus jalan raya menuju ke arah kota. Mobil yang lumaya besar itu cukup membawa tiga belas wanita dan dikendarai satu pria yang menjadi suami mereka. Tanpa terasa, setelah memakan waktu kurang lebih tiga puluh menit, mobil tersebut telah sampai di tempat yang mereka tuju.
Setelah terparkir dengan rapi pada tempatnya, semua yang berada di dalam mobil, segera saja keluar dan bersama sama menuju ke arah pintu masuk Mall terbesar kota ini.
Kehadiran mereka, seketika langsung menjadi pusat perhatian bagi yang mengenali wajah satu laki laki diantara tiga belas wanita itu. Efek dari berita yang sedang ramai, wajah pria beristri tiga belas itu menjadi mudah dikenali oleh para pengunjung Mall.
"Eh itu kan pria yang memiliki tiga belas istri?"
"Gila! Aslinya ganteng banget euy!"
"Eh istrinya beneran akur semua ya?"
Berbagai suara seakan serentak menggema barsama tanpa ada yang memimpinnya. Kebanyakan dari mereka, rata rata takjub melihat keakraban dan damainya para istri Jiwo. Banyak yang diam diam mencuri foto dan mengambil video mereka untuk kebutuhan sosial media.
Awalnya Jiwo sebenarnya agak risih karena hampir semua mata memandang ke arahnya. Namun saat Aisyah menggenggam tangannya, rasa risih itu seketika musnah dan berganti menjadi rasa percaya diri yang besar.
"Kita nyari baju dulu ya?" ucap Mister saat menoleh ke belakang dimana istri istrinya berjalan berkelompok sambil menikmati suasana Mall.
"Oke!" jawab beberapa istri Jiwo kompak.
Tak butuh waktu lama, tibalah mereka di pusat penjualan aneka pakaian. Lagi lagi Jiwo dan para istri menjadi pusat perhatian. Namun Jiwo tak peduli. Dia tetap saja melakukan tujuannya datang kesini. Jiwo memilih duduk pada sebuah tempat yang memang disediakan untuk istirahat pengunjung, sedangkan para istrinya sibuk memilih barang yang mereka inginkan.
__ADS_1
"Bagus yang mana Mister?" tanya Alena sambil menenteng dua baju dengan model yang berbeda meski sama sama panjang selutut.
"Yang merah pas itu, kalem," balas Jiwo, dan Alena langsung memperhatikan baju yang warnanya dipilih oleh suaminya.
"Yakin Mister, yang ini bagus?" tanya Alena lagi memastikan. Jiwo dengan sangat yakin langung mengangguk. "Tapi menurutku yang hijau lebih bagus deh, Mister. Gimana menurut, Mister?"
"Astaga!" pekik Jiwo merasa terkejut hingga dia menggelengkan kepalanya beberapa kali. Jiwo baru merasakan menemani wanita memilih baju pasti ujung ujungnya akan seperti itu.
"Orang disuruh pilihin salah satu, malah terkejut gitu," gerutu Alena.
"Ya kan aku sudah pilih warna yang merah, Sayang," balas Jiwo dengan kesabaran tinggi. Bisa bisanya malah Jiwo yang disalahkan.
"Enggak ah, mau cari yang lain dulu, kali aja ada yang lebih bagus," balas Alena meninggalkan Jiwo yang semakin merasa takjub dengan sikap istrinya.
Drama pembelian baju pun berakhir hampir memakan waktu dua jam. Masing masing para istri hanya membeli dua baju dari drama pemilihan selera yang lumayan panjang. Jiwo memghembus nafas kasar bertanda kalau dia sudah lega dramanya berakhir.
"Mister nggak beli baju?" tanya Aisyah.
"Nggak perlu," jawab Jiwo singkat setelah selesai melakukan pembayaran. Karena bukan pria yang belanja memakai kartu, dengan cueknya Jiwo membayar barang belanjaan dengan setumpuk uang merah.
"Kenapa nggak beli?"
__ADS_1
"Baju di rumah udah banyak dan masih pada bagus."
"Harusnya Mister tetap beli, buat acara di televisi. Masa cuma istrinya yang pakai baju baru?"
"Ya nggak apa apa, lagian kan nggak mungkin ada pertanyaan baju kamu baru apa nggak, jadi ya cuek aja, Sayang."
"Ya ampun!" pekik istri Jiwo bersamaan. Jiwo hanya bisa cengengesan sambil melangkah ke tempatberikutnya.
Tempat berikutnya yang mereka kunjungi adalah pusat sepatu. Drama yang terjadi saat pemilihan sepatu juga tak kalah seru dengan drama pemilihan baju. Jiwo benar benar menahan kesabarannya dengan tingkah para istri yang sangat menggemaskan.
Drama pembelian sepatu juga memakan waktu hampir dua jam lamanya. Setelah drama pembelian sepatu selesai, kini, rasa lapar mulai mendera perut mereka. Bukannya mau diajak makan di pusat kuliner yang ada disana, para istri Jiwo malah meminta makan di tepi warung tepi jalan. Jiwo akhirnya memutuskan mereka makan di rumah makan nasi padang yang letaknya di samping kanan Mall.
Di manapun Jiwo dan para istri berada, mereka benar benar menjadi pusat perhatian warga yang mengenalnya. Kini, mereka berada di alun alun untuk menikmati suasana sore yang cerah sambil melepas lelah.
"Terima kasih Mister atas belanjaannya," ucap salah satu istrinya.
Cup!
Dengan cueknya para istri mengecup pipi Jiwo di tengah alun alun satu persatu sambil mengucap kata terima kasih.
"Astaga, kalian ini!" pekik Jiwo antara malu dan bahagia karena tingkah tiga belas istrinya.
__ADS_1
...@@@@@...