MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Berita Mulai Menyebar


__ADS_3

Setelah pulang dari jualan, Jiwo melangkah begitu saja menuju kamarnya setelah menyapa para istrinya. Seperti biasa, sambil beristirahat, Jiwo menghitung pemasukan hari ini. Saat sedang fokus menghitung, ponsel Jiwo berbunyi, pertanda ada pesan masuk. Mata Jiwo seketika membelalak begitu membaca pesan disertai foto dari orang yang dia kenal.


"Apa apaan ini? Kurang ajar!" umpat Jiwo tiba tiba dipenuhi amarah. Bagaimana amarah Jiwo tidak meledak, di sana dia mendapat pesan dari sahabatnya si Fadil tentang sebuah foto screnshot dari postingan media sosial fakebook. Di sana terulis dengan huruf kapital "SEORANG PRIA PENJUAL CELANA KOLOR TAK TAHU DIRI, MENIKAHI TIGA BELAS WANITA, HANYA UNTUK DIJADIKAN PENCARI NAFKAH. MIRIS."


Jiwo yang memang memiliki akun sosial media juga langsung membuka dan mencarinya. Benar saja, entah siapa yang membuat postingan seperti itu, ratusan komentar bernada menghina tertulis di sana. Postingan tersebut juga sudah banyak yang membagikannya dan tentu saja, mungkin sudah ribuan orang yang memberi komentar pedas.


Jiwo berusaha meredam amarah yang sempat meninggi. Tapi tak butuh waktu lama amarahnya berangsur mereda. Jiwo memperhatikan empat foto yang disertakan dalam postingan tersebut. Dua foto di ambil di lapaknya dan dua foto di ambil di lapak Emak. Jiwo yakin yang melakukan semua itu adalah orang yang kenal dengan dirinya.


Setelah berpikir beberapa menit, Jiwo meletakkan ponselnya di lantai dan kembali menghitung uang yang masuk. Beberapa saat kemudian Jiwo mendengar pintu kamarnya diketuk. Jiwo lantas menyuruh si pengetuk kamar masuk dan ternyata itu adalah Anum dan Anisa.


"Ini Mister, pendapatan hari ini," ucap Anisa sambil membuka tas slempang dam mengeluarkan isinya.


"Barang barang yang keluar, di catatkan?" tanya Jiwo sambil menatap wajah kedua istrinya.


"Di catat dong, nih," balas Anum sambil membuka buku yang digunakan untuk mencatat setiap barang dan harganya.


"Ya udah, uangnya dihitung semua ada berapa, dan Anum catat harga pokok dari barang yang keluar hari ini," titah Jiwo kemudian.

__ADS_1


"Kok begitu? Emang buat apa dihitung?" tanya Anum tak mengerti.


"Kan biar kita tahu, Sayang. Harga pokok barang yang laku totalnya berapa, terus kita dapat untung berapa, dan kita juga bisa memprediksi barang yang di pasar tinggal berapa, stoknya lengkap atau nggak. Jadi jika modal sudah balik sekitar lima puluh persen, kita bisa belanja lagi."


"Oh begitu," ucap Anisa dan Anum hampir bersamaan. "Mister hebat ya? Bisa mikir sampai jauh seperti itu?" puji Anisa.


"Bukannya hebat, memang harusnya seperti itu. Kalau perhitungannya nggak teliti, yang ada nanti kita cepat bangkrut. Yang namanya jualan itu yang penting modal balik dulu, jangan terlalu mikirin untung. Apa lagi jika baru merintis."


Kedua istrinya nampak manggut manggut, lalu Anisa kembali bertanya, "Terus kalau yang sistem hutang itu gimana, Mister?"


"Hutang? Emang ada yang minta hutang?"


"Kalau baru pertama kali ya jangan dikasih, kecuali nanti jika dia sudah menjadi pelanggan tetap, baru kita kasih keringanan buat ibu itu."


Anisa dan Anum langsung manggut manggut dan mereka melanjutkan penghitungan sesuai dengan yang Jiwo arahkan. Begitu semuanya beres, kedua istri Jiwo pamit keluar kamar untuk membersihkan diri. Sedangkan Jiwo mengerjakan sisanya hingga benar benar selesai.


Kini malam telah datang. Setelah melakukan rutinitas seperti biasa, Jiwo beserta beberapa istrinya memilih menghabiskan waktu bersama di ruang tamu. Di ruang tengah istri Jiwo yang lain sedang membantu mempersiapkan bahan untuk jualan Emak seperti biasanya. Di hadapan Jiwo, ada sepiring donat dan onde onde buatan Aisyah.

__ADS_1


"Ini kok masih hangat?" tanya Jiwo sambil mencomot satu donat biasa yang bertabur gula halus.


"Ya sengaja nyisain adonan buat Mister. Gimana rasanya, Mister?" tanya Aisyah dengan perasaan agak berdebar.


"Enak, empuk. Tapi ini kalau udah dingin bisa keras nggak?"


"Nggak dong. Tadi ada sisa yang dingin dimakan Anisa sama Anum. Tetangga juga udah aku kasih test dan katanya layak jual."


"Ya baguslah, kalau sudah siap jualan, tinggal bilang sama saya, apa yang dibutuhkan."


"Siap, Mister!"


Sementara itu di malam yang sama tapi di tempat yang berbeda terlihat dua orang sedang berdiskusi sambil menatap layar laptop.


"Lihat! Sepetinya ini berita yang unik?" ucap salah satu dari mereka sambil menunjukan layar laptopnya. Rekannnya menatap layar laptop dengan kening berkerut, lalu beberapa detik kemudian senyumnya terkembang.


"Ini baru berita unik! Ayo kita investigasi!"

__ADS_1


"Siap!"


...@@@@@@...


__ADS_2