
Seperti yang sudah direncanakan. Di hari berikutnya, tepatnya hari ini, Emak berangkat ke rumah kakaknya Jiwo lagi. Kali ini Emak berangkat bersama anaknya paman, jadi Jiwo bisa tenang karena dia sendiri tidak bisa mengantar. Semenjak kakaknya bayu memiliki anak lagi, ini kedua kalinya Emak berkunjung kesana. Pertama Emak pergi ke rumah anak pertamanya selama tiga minggu menginap disana. Untuk yang sekarang, entah kesana berapa lama, terserah Emak Saja.
Di rumah Jiwo, terlihat tiga belas wanita sedang sibuk membuat bekal untuk piknik. Kali ini tujuan piknik mereka ke daerah pegunungan yang ada di kabupaten tempat mereka tinggal. Tempat wisata itu lumayan terkenal karena pemandangannya yang sangat indah.
Sementara itu satu satunya pria yang ada di rumah tersebut, malah terlihat baru saja membuka matanya pada saat jam di dinding menunjukkan pukul enam lebih tiga puluh menit. Begitu mata terbuka, Jiwo langsung bangkit dan meregangkan badannya. Dengan wajah masih terlihat mengantuk, Jiwo beranjak keluar kamar dengan langkah gontai.
"Astaga! Kenapa Mister nggak pake sarung?" ucap salah satu istrinya yang terkejut melihat Jiwo keluar kamar tanpa memakai apapun untuk menutupi tubuhnya.
Dengan cuek Jiwo terus melangkah dan merebahkan badannya di atas kasur lantai dengan posisi tengkurap. "Emak udah berangkat?" tanya Jiwo dengan suara khas orang bangun tidur.
"Udah, tadi Emak mau pamit. tapi Mister susah dibangunin . Ya udah, di tinggal."
Jiwo membalikan badannya menjadi posisi telentang. "Dek, tolong pijat bawah perutku dong."
"Astaga!" pekik para istri tapi salah satu dari mereka langsung menggerakan tangannya meraih benda kesukaan para istri Jiwo di bawah perut pria itu.
"Akh ... bangun tidur di pijat bawah perutnya kayak gitu memang paling enak," racau Jiwo dengan mata yang masih terpejam tapi bukan tidur, melainkan sedang menikmati pijatan lembut dari istrinya.
"Kita akan berangkat jam berapa, Mister?"
"Nanti jam sembilan. Kalian masak apa?"
__ADS_1
"Lumayan banyak tuh. Yang sudah matang sih ada hati ayam lombok ijo sama sayur buncis, jagung dan wortel. Paling tinggal bikin lumpia ayam sama tahu isi."
"Terus untuk sarapan?"
"Ya sama, Mister. Cuma gorengannya yang beda. Tadi goreng bakwan. Mister mau sarapan?"
"Gampanglah, nanti. Terusin aja pijatnya, Sayang."
Tanpa terasa waktu terus bergerak maju. Kini sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, semua nampak sudah siap berada di atas mobil. Satu istri duduk di depan untuk menemani Jiwo supaya tidak bosan saat menyetir selama dalam perjalanan. Setelah mengecek kembali semua keadaan rumah dan dinyatakan aman, Jiwo segera naik mobil dan mereka pun berangkat.
Di bagian belakang mobil, para istri nampak asyik bercengkrama sambil menikmati suasana pemandangan di sepanjang kanan dan kiri jalan yang mereka lalui. Setiap ada sesuatu yang menurut mereka unik, pasti akan jadi bahan pembicaraan Bagi mereka. Hingga satu jam kemudian, sampailah mereka di tempat wisata yang mereka tuju.
Mungkin karena hari minggu, tempa wisata itu terlihat sangat ramai. Kehadiran Jiwo dan para istrinya juga menjadi perhatian para pengunjung dan pegawai di sana. Sepertinya mereka masih mengenali Jiwo karena berita viralnya. Padahal berita itu sudah meredup, tapi masih saja banyak yang mengenali wajah pria beristri tiga belas di tempat itu.
"Kita istirahat disini aja, Dek," ucap Jiwo begitu berada di salah satu tempat yang agak sepi. Mereka kini berada di atas hamparan rerumputan dan di bawah pohon yang besar dan sangat rindang.
"Udaranya segar banget!" seru salah satu istrinya.
"Benar, pemandangannya juga sangat bagus," sambung istri yang lain.
Mereka pun kompak mengabadikan momen tersebut dengan ponsel mereka. Setelahnya mereka menggelar tikar lipat dan menata bekal yang mereka bawa.
__ADS_1
"Tauge mentah khusus buat Mister," ucap Aisyah sambil membuka bekal berisi tauge yang disiram air panas.
"Tauge? Buat apa?" tanya Jiwo sambil mencomot lumpia ayam.
"Tauge itu befungsi untuk memelihara kesehatan benih pada pria, Mister. Katanya kalau rajin makan tauge mentah, kualiatas benih yang ada di dalam tubuh pria jadi makin bagus," terang Aisyah.
"Kamu tahu darimana, Ais?" tanya Adiba.
"Cek aja di internet. Aku aja tahu dari internet. Mulai sekarang asupan makanan untuk kesuburan kita, akan aku perhatikan."
"Wah! Hebat kamu, Ais! Kok bisa mikir sampe sejauh itu dengan cepat."
"Namanya juga usaha. Kita kan juga harus cari tahu semua informasi yang terkait," balas Aisyah, lalu menyerahkan tauge yang sudah disiram sambal kacang kepada suaminya.
"Makasih, Sayang," ucap Jiwo dengan senyum yang sangat lebar. Hati Jiwo sungguh merasa damai dan tenang saat ini. Demi mendapat keturunan, mereka kompak dan saling berpacu kerja sama.
"Satu lagi perhatian untuk, Mister."
"apa itu?"
"Kurangi rokok, kalau bisa berhenti total!"
__ADS_1
"Waduh!"
...@@@@@@...