MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Jiwo Melihatnya


__ADS_3

Laju waktu memang tidak ada yang bisa menghenikan. Seperti saat ini, tak terasa sore telah menjelang. Di halaman sebuah rumah dalam satu komplek kampung, dua orang wanita sedang memperlihatkan keahliannya yang telah lama dia sembunyikan. Sedangkan dari teras rumah beberapa wanita nampak menunjukkan rasa kagum dari dua wanita yang kini selalu berkumpul bersama mereka. Bahkan telah menjadi keluarga besar.


Andin dan Anisa, dua wanita yang memiliki keahlian bela diri, sedang berlatih melenturkan otot otot mereka karena telah sangat lama mereka tidak bisa berlatih sejak adanya konflik dan mereka menjadi pengungsi. Meski mereka berasal dari daerah yang berbeda di negaranya, tapi gerakan yang mereka lakukan sama persis. Mungkin mereka berada di bawah pembimbing yang sama saat dulu masih rajin berlatih di negaranya.


Sementara itu, dari dalam kamar, seorang pria yang menjadi suami Andin dan Anisa juga beberapa wanita yang ada di teras, terdengar sedang bersiul riang setelah selesai melakukan ritual mandi sore. Wajah pria bernama Jiwo itu nampak ceria sejak melakukan musyawarah bersama istri istrinya. Hati dan pikirannya terlalu senang karena sekarang perjanjian untuk tidak melakukan hubungan suami istri telah dihapus. Itu tandanya, Jiwo bisa bermain ranjang bersama ketiga belas istrinya yang cantik cantik. Sungguh jalan takdir yang tidak pernah terduga oleh Jiwo.


Setelah merasa cukup rapi, meski hanya memakai celana pendek dan kaos biasa, Jiwo keluar kamar dan menuju teras rumah di mana para istrinya sedang berkumpul menikmati suasana sore yang serah. Sedangkan Emak, dia sedang pergi ke ruamah Paman Karyo jadi dia tidak kelihatan.


"Waah! Kalian hebat sekali!" puji Jiwo saat melihat kedua istrinya sedang beraksi. Andin dan Anisa hanya melempar senyum. "Sejak kapan kalian berlatih bela diri?"


"Aku sejak umur lima tahun, Mister," jawab Andin.


"Aku sejak umur tujuh tahun," sambung Anisa.


"Baguslah, kalian punya bakat di bidang bela diri. Berlatih yang rajin, siapa tahu. bisa berguna nantinya," balas Jiwo sembari memberi nasehat. Kedua istrinya serentak mengiyakan.

__ADS_1


Mister mau pergi?" tanya Adiba yang sedang duduk di teras bersama istri yang lain.


"Iya, mau ke rumah tukang buat benerin lapak tempat jualan kalian nanti," jawab Jiwo. "Hari ini yang harusnya ikut dagang siapa?"


"Aku, Mister," jawab Alina.


"Kamu ikut aku, biar nanti bisa sekalian diskusi sama tukangnya, kali aja ada tambahan sesuatu yang aku nggak tahu."


"Baik, Mister. Aku akan ganti baju dulu," jawab Alin, lalu dia beranjak masuk untuk mengganti pakaian yang lebih pantas buat bepergian.


"Kalian nggak apa apa, kan? Aku ngajak salah satu diantara kalian?" tanya Jiwo begitu Alina masuk ke dalam.


Tak butuh waktu lama, Alin sudah bersiap diri. Jiwo lantas pamit kepada istri istrinya dan beberapa saat kemudian motor matic Jiwo melaju meninggalkan rumahnya. Alasan Jiwo mengajak salah satu istrinya, selain memang untuk urusan lapak, juga karena dia ingin sedikit pamer kalau sekarang akan selalu ada wanita yang duduk di jok belakang motornya. Maklum, lima tahun sudah jok motor belakang Jiwo tidak pernah ada wanita yang mengisinya selain Emak. Maka itu, hal ini menjadi alasan Jiwo mengajak Alina.


Sepanjang perjalanan senyum Jiwo tersunging. Jiwo juga memberi perintah Alina untuk memeluk pinggangnya dengan alasan agar Alina tidak jatuh. Padahal itu akal akalan Jiwo saja biar bisa dipeluk sang istri selama motor itu masih melaju.

__ADS_1


Di saat motor Jiwo berghenti di lampu merah, mata Jiwo dikejutkan dengan dua orang yang nampak sedang ngobrol bersama seorang pria di depan sebuah toko. Jiwo terus memperhatikan ketiga orang itu sambil berpikir, siapa pria yang bersama Malik dan Titin?


Jiwo yang merasa pernah lihat wajah pria itu, lantas memilih menepikan motornya dan mengawasi Titin dan Malik dari seberang jalan.


"Kok malah berhenti, Mister? Emang kita udah sampai?" tanya Alina dengan kening berkerut saat motor tiba tiba menepi dan berhenti.


"Belum, Dek," jawab Jiwo yang matanya terus mengawasi gerak gerik sepasang suami istri yang sedang ngobrol bersama orang asing itu.


"Terus? Ngapain kita berhenti di sini?" Jiwo sediki terkejut dengan pertanyaan Alina. Tentu saja dia tahu kalau istrinya bingung.


"Dek, coba deh lihat di sebelah sana! Aku kayak kenal sama orang yang berkaos hitam itu!"


Alina mengikuti tangan Jiwo yang menunjuk ke arah depan toko. Mata Alina seketika membulat melihat siapa yang Jiwo tunjuk.


"Itu kan orang yang menculik kita, Mister."

__ADS_1


"Apa!"


...@@@@@@...


__ADS_2