
Malam terus merangkak menuju larut. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih dua puluh menit. Di salah satu rumah penduduk, nampak penghuninya yang kebanyakan dari kaum wanita sedang berkumpul di ruang tengah dengan perasaan was was. Sudah lebih dari empat jam, suami para wanita itu pergi dan belum ada kabar sama sekali. Ponselnya dihubungi pun tidak ada respon sama sekali.
Sementara itu, wanita yang usianya paling tua diantara mereka, memilih masuk ke kamar terlebih dahulu. Pikirannnya terlalu lelah. Dari kemarin, ada saja masalah yang mendera anak keduanya. Wanita yang biasa akrab dipanggil Emak itu, terlelap lebih awal karena rasa kantuk yang mendera akibat rasa lelah lebih dari biasanya.
Beberapa saat kemudian, penghuni rumah itu mendengar suara motor masuk ke tempat parkir motor di samping rumah. Sontak saja para wanita itu merasa lega karena orang yang mereka tunggu akhirnya pulang.
Biar aku aja yang bukain pintu," ucap salah satu dari tiga belas wanita yang sedang berada di satu ruangan. Dia langsung berdiri dan beranjak menuju ke arah dapur untuk membuka pintu samping.
"Baru pulang, Mister?" tanya wanita yang memiliki nama panggilan Arin, begitu membuka pintu dan melihat suaminya turun dari motor.
"Loh, kamu belum tidur?" bukannya menjawab, sang suami yang akrab dipanggil Jiwo itu malah bertanya.
"Bagaimana mungkin kita bisa tidur kalau ke inget Mister belum balik," balas Arin. "Kita semua nungguin Mister pulang."
"Astaga!" pekik Jiwo, lalu tangan kirinya terulur dan mengacak acak rambut sang istri karena merasa gemas sambil menyungging senyum.
"Mister udah makan belum?"
"Udah tadi," balas Jiwo singkat. "Tolong bikinin teh manis hangat ya, Dek."
__ADS_1
"Baik, Mister."
Jiwo lantas masuk ke ruang tengah. Sejenak Jiwo tertegun melihat para istrinya yang sedang berkumpul menunggu dirinya pulang. Ada rasa hangat dan bahagia yang menjalar dari dalam hati Jiwo. Sungguh saat seperti ini adalah saat yang menenangkan dan menyenangkan. Ditungu satu istri saja rasanya bahagia, apa lagi Jiwo yang ditunggu kepulangannya oleh tiga belas istri sekaligus.
"Kenapa kalian belum pada tidur? Ini sudah malam loh?" ucap Jiwo saat melangkah menuju salah satu kursi dan duduk disana.
"Bagaimana mungkin kami bisa tidur? Kalau Mister sedari pergi nggak ada kabar," cicit Alifa.
"Iya, Mister. Ponsel Mister juga sangat susah dihubungi ," sambung Aisyah.
"Iya, katanya kalau ada apa apa ngasih kabar. Bagaimana bisa ngasih kabar kalau Mister sendiri susah dihubungi," Adiba ikut bersuara dengan kesal.
Jiwo malah tersenyum lebar melihat kekesalan istri istrinya. "Maaf sayang sayangku, tadi banyak yang harus dilakukan. Jadi aku nggak sempat ngeluarin ponsel.
"Iya, bilang aja nggak mau diganggu istrinya," sambung Alana.
"Astaga! Hahaha ..." pekik Jiwo sembari terkekeh mendengar protesnya para istri. "Bukan begitu! Gini, aku jelasin ya?"
Jiwo lantas menceritakan semua yang dia lakukan bersama Pak Rt dan beberapa warga. Dalam cerita itu, Jiwo mengatakan kalau tiga pria yang hendak menculik istri istri Jiwo tidak jadi dilaporkan ke polisi. Jiwo dan yang lain memutuskan mengusir mereka malam itu juga. Namun sebelum Bejo dan dua rekannya di usir, Jiwo mengambil foto mereka satu persatu dan mencatat data data mereka sekaligus memberi ultimatum yang harus Bejo sampaikan kepada sang Bos.
__ADS_1
"Kenapa tidak dilaporkan saja ke polisi sih, Mister?" tanya Arin.
Sebelum menjawab, Jiwo menyeruput teh manis hangat yang dia pesan tadi. "Jika dilaporkan polisi, mungkin prosesnya akan terlalu rumit dan banyak menyita waktu. Lagian kalau anak buahnya yang ditangkap, bisa saja bosnya malah kabur dan nggak mau tanggung jawab."
"Terus kalau mereka nanti datang lagi bagaimana?" tanya Aisyah.
"Iya, Mister. Kalau Bos mereka nyuruh anak buah yang lain gimana?" Alana ikut bertanya.
"Ya kita hadapi aja sama sama, tapi aku yakin sih, mereka akan memakai cara kotor lain. Tapi kalian tenang saja, aku akan menjaga kalian sekuat tenagaku."
"Terima kasih, Mister. Telah melindungi kami sampai sejauh ini," ucap Alifa dengan penuh rasa haru. Dia dan yang lainnya tidak menyangka akan mendapat perlindungan yang lebih besar seperti ini dari suami mereka.
"Tidak perlu berterima kasih, bukankah aku suami kalian, sudah sepantasnya aku menjaga kalian."
"Saya terharu, Mister. Kita dekat belum ada satu bulan, tapi Mister sudah melakukan banyak hal untuk kita," cicit Arum.
"Iya, Mister ngorbanin diri sendiri sampai sejauh ini demi kami," sambung Aluna.
Bibir Jiwo tersenyum tipis sambil menatap hangat istri istrinya. "Itu semua aku lakukan karena aku sayang sama kalian. Jadi kalian tidak usah berpikir macam macam, oke? Udah malam sebaiknya kita tidur, ya?"
__ADS_1
"Baik, Mister."
...@@@@@...