
"Dek."
"Hum?"
"Isi sarungku bangun nih."
"Mulai deh mesumnya kumat."
"Hahaha ... ya gimana lagi, orang nyatanya bangun. Pegangin dong."
Andin mendengus tapi dia menuruti permintaan sang suami. Tangannya bergerak masuk ke dalam sarung.
"Dek."
"Apa lagi?"
"Kamu masih rapet loh? Nggak pengin nyoba dimasukin apa?"
Bukannya menjawab, Andin memilih langsung merubah posisi berbaringnya membelakangi sang suami. Wajahnya nampak bersemu tanda dia sedang malu. Sedangkan Jiwo langsung senyum senyum nakal sembari terus menatap punggung sang istri.
"Dek," rengek Jiwo.
"Apa sih, Mister? Tinggal tidur loh, udah malam," balas Andin berusaha menahan rasa gugupnya. Ucapan Jiwo benar benar membuat Andin salah tingkah.
"Baru juga pukul delapan kurang, masa disuruh tidur sih?" protes Jiwo, dan jari telunjuknya maju dan menari nari dipunggung sang istri.
"Geli, Mister! ih," pekik Andin dengan tubuh yang bergerak mirip cacing.
__ADS_1
"Makanya, ayo, Dek," rengek Jiwo.
"Ih apaan sih, Mister. Kayak anak kecil aja deh," cibir Andin tanpa mau menoleh tapi badannya terus meliuk liuk karena jari tangan Jiwo yang terus bermain di punggung dan daerah tepi pinggang. "Geli, Mister!"
"Ya kan memang adik kecilku ini lagi pengin main, Sayang," jawab Jiwo asal. "Kalau nggak percaya coba deh rasakan ini."
Jiwo menggeser badannya lalu menempelkan bagian pinggangnya yang tertutup sarung ke bagian belakang tubuh istrinya yang tertutup daster. Lalu Jiwo menggesek gesekanya hingga sang istri terjengat karena kaget saat dia merasakan benda yang sudah menegang milik sang suami menempel.
"Astaga, Mister! Nakal banget sih!" sungut Andin. Dia hendak bergeser menghindar tapi gerakan Jiwo lebih gesit. Salah satu kaki Jiwo terangkat dan menyilang mengunci kaki istrinya. Tangan kekar Jiwo langsung memeluk pinggang sang istri dengan erat. Andin semakin terkejut dan dia tidak bisa menghindar lagi.
"Dek, ayo?" Jiwo terus merengek tanpa menghentikan gerakan badannya di bawah sana.
"Ayo ngapain?" tanya Andin agak ketus. Padahal di dalam hatinya sedang merasakan debaran yang tak menentu.
Jiwo tidak kehabisan akal. Diraihnya salah satu tangan sang istri lalu dia gerakan hingga masuk ke dalam sarungnya.
"Pegang aja, Sayang. Jangan ragu."
"Ih."
Karena desakan sang suami yang sedari tadi terus menggerakkan tangannya dan juga rasa penasaran yang semakin membesar di dalam hatinya, dengan perlahan Andin mulai menggenggam benda yang sering dibicarakan istri istri Jiwo yang lain.
"Nah gitu, kan enak," ucap Jiwo senang. "Gerakin tangannya dong, Sayang. Biar tambah enak!"
Pelan tapi pasti, Andin mulai melakukan apa yang diperintahkan sang suami. Semakin lama jari jari Andin memainkan milik suaminya, semakin meronta jiwa Andin dengan hasrat yang mulai bergejolak. Dengan sendirinya Andin berbalik badan menjadi telentang.
Jiwo semakin senang. Ditatapnya wajah manis Andin lekat lekat. Tangannya masih melingkar dipinggang sang istri. Tapi tangan itu juga mulai menunjukkan aksinya. Perlahan tangan itu menarik daster Andin yang panjang hanya selutut dan sangat longgar.
__ADS_1
Entah karena Andin sudah pasrah atau karena terlalu menikmati isi sarung suaminya, Andin masih diam saat bagian bawah dasternya kini sudah naik di atas perut. Andin baru tersadar saat jari kekar Jiwo menyentuh bagian dan menekan bagain tengah dari segitiga bermuda yang dipakai Andin.
"Mister!" pekin Andin dengan mata yang terbuka lebar karena terkejut.
"Biar adil, Sayang. Sama sama megang," balas Jiwo dengan senyum nakalnya. "Punya kamu udah basah loh?"
Andin semakin mendelik lalu dia berpaling agar tidak ketahuan kalau dia sedang malu. Sedangkan Jiwo makin tersenyum lebar. Jari tangan Jiwo mulai bergerak masuk ke dalam segitiga bermuda istrinya hingga sang istri kembali terkejut tapi tidak menolak sama sekali.
"Enak kan, Sayang?" tanya Jiwo dengan senyum menggodanya. Andin diam saja, meski dalam hatinya dia mengiyakan pertanyaan sang suami.
Jiwo tahu sang istri mulai merasa keenakan, makanya dia terus melancarkan aksinya. Perlahan tapi pasti Jiwo mulai mendekatkan wajahnya ke hadapan wajah Andin hingga mereka saling pandang.
"Mister mau ngapain?" tanya Andin dengan suara yang mulai berat.
Jiwo lagi lagi mengulas senyum nakalnya. "Pengin mandangin wajah cantik kamu aja, Sayang. Nggak boleh?"
Andin mendengus. "Kalaupun dilarang juga pasti akan tetap maksa."
Jiwo sontak terkekeh. "Hahaha ... makanya nurut, biar nggak dipaksa."
Dan untuk kesekian kalinya Andin mendengus kembali. Tangan mereka masih saling bergerak di bawah sana dengan mata yang masih saling menatap.
"Dek, masukin yah?" pinta Jiwo lembut. Andin terdiam dengan mata yang terus menatap sang suami. Jiwo tahu, diamnya Andin adalah pasrah, jadi tanpa menunggu jawaban sang istri, Jiwo mulai melakukan penyerangan. Hingga beberapa menit kemudian setelah puas bercumbu dan memberi rangsangan, tibalah saatnya memasuki permainan inti.
"Masukinnya yang pelan, takut sakit."
"Iya, Sayang."
__ADS_1
...@@@@@...