MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Saat Rintik Hujan


__ADS_3

"Mister."


"Hum? Ada apa?"


"Mister serius? Nggak ingin nyoba dengan apa yang ditanyakan Alana?"


Sejenak Jiwo tertegun. Kening pria itu mengernyit. Di tatapnya wajah wanita dengan rambut sebahu itu. "Emang kenapa, Dek?"


Wanita yang sekarang berganti nama panggilan Andin itu sontak tersenyum tipis sambil menatap lurus ke depan. "Nggak kenapa, Mister. Cuma takutnya, diantara para istri Mister, ada yang tidak puas dengan nafkah batin."


Lagi lagi rasa terkejut menghampiri Jiwo dengan tatapan masih ke arah yang sama. Dia seperti menuntut penjelasan lebih dari sang istri tentang apa yang baru wanita itu ucapkan. Dan sepertinya Andin tahu, suaminya butuh penjelasan akan hal itu.


"Mister, meski aku tidak pengalaman dalam urusan rumah tangga, tapi bukankah kepuasan nafkah batin juga sangat penting? Bahkan perselingkuhan kerap kali terjadi gara gara salah satu faktornya adalah nafkah batin yang tidak tercukupi. Seandainya malam ini ada tiga istri Mister yang sangat ingin disentuh oleh Mister dan Mister hanya mengabulkan salah satunya, Apa yang lain tidak merasa kecewa?"


Untuk kesekian kalinya Jiwo kembali terkejut dengan ucapan Andin. Apa yang disampaian sang istri ada benarnya juga. Nafkah batin juga sangat dibutuhkan wanita jika sudah bersuami. Bisa saja saat ini para istri yang sudah pernah disentuh Jiwo, ingin merasakan kembali sentuhan suaminya. Tapi mereka menahannya karena harus menunggu giliran.


Sama seperti Andin, Jiwo juga belum berpengalaman banyak soal kehidupan berumah tangga. Wajar saja jika dia juga belum memahami benar soal nafkah batin. Beruntung, Jiwo punya istri yang selalu bisa mengingatkan dan saling berbagi informasi, jadi hal kecil seperti itu bisa terdeteksi dengan segera. Jiwo tahu masalah kecil jika dibiarkan bisa menjadi masalah besar, maka itu nafkah batin juga harus dibicarakan karena istri Jiwo bukan hanya satu.


"Terus menurutmu, aku harus bagaimana, Dek? Apa aku menuruti saran Alana saja?"

__ADS_1


Andin malah terkekeh melihat wajah bingung suaminya hingga sang suami mendengus, tapi sesaat kemudian Jiwo ikut tertawa juga.


"Ya terserah Mister maunya gimana. Kalau menurutku sih masalah seperti ini memang harus dibicarakan karena Mister istrinya banyak. Biar ada solusinya gitu."


"Baiklah, besok kita bicarakan ya?"


"Besok Mister nggak jualan lagi?"


"Sepertinya besok jualan, tapi bingung ya, urusan lapak buat kalian jualan belum selesai."


"Ya mending jualan dulu aja, Mister. Sayang, kan kalau terlalu sering libur? Sejak nikah, Mister baru jualan sekitar satu minggu aja."


"Hehehe ... iya benar. Baiklah besok jualan aja."


"Oh iya, Mister, maaf, malam ini aku belum bisa melayani Mister di ranjang. Tamu bulananku datang tadi sore," ucap Andin tiba tiba, dan tentu saja ucapannya membuat Jiwo terkekeh.


"Nggak apa apa, aku juga lagi nggak pengin. Kayak lagi ngerasa capek aja."


Tak terasa tiba tiba terdenger suara rintik hujan turun. Awalnya rintik hujan itu terdengar kecil, namun lama kelamaan menjadi hujan yang lumayan deras. Jiwo dan Andin memutuskan masuk ke dalam.

__ADS_1


Waktu baru saja menunjukkan pukul delapan malam lewat lima belas menit. Tapi istri istri Jiwo sudah memasuki dua kamar masing masing. Dua kamar yang digunakan istri istri Jiwo, memang sudah di ubah demi kenyamanan mereka. Rencananya Jiwo ingin membangun kamar lagi agar adik dan kakaknya kalau kesini tidak kebingungan soal tempat tidur.


Berhubung jatah malam ini adalah giliran Andin yang menemani Jiwo tidur, wanita itu pun masuk ke kamar yang sama dengan suaminya setelah mengunci pintu lalu mematikan lampu ruang tamu dan ruang tengah serta menaruh gelas bekas kopi di dapur.


"Kenapa Mister buka baju? Apa nggak dingin?" tanya Andin dengan wajah terkejut karena begitu masuk kamar, Jiwo sudah berbaring tanpa menggunakan kaos. Hanya sarung yang melilit di tubuhnya.


"Gerah banget, Dek. Lagian kan ada kamu, tinggal meluk kamu udah hangat," balas Jiwo sambil tersenyum nakal.


Sejujurnya dada Andin berbedar sangat kencang, tapi wanita itu pandai menyembunyikan keresahannya. Dia mulai berbaring di sebelah sang suami, tapi Jiwo malah menariknya agar dia tidur di dadanya. Mau tidak mau Andin menurutinya. Andin juga melingkarkan salah satu tangannya di perut Jiwo.


"Hangat kan?" ucap Jiwo dan Andin langsung mengiyakan dengan perasaan senang. Saking senangnya bisa memeluk tubuh kekar suaminya, tanpa sengaja kaki Andin menyentuh sesuatu dibalik sarung Jiwo. Sontak saja Andin langsung kaget.


"Mister hanya pakai sarung?" tanya Andin sembari mendongak menatap wajah suaminya.


"Hehehe ... iya, kaget ya?"


"Kenapa nggak pake segitiga bermuda?"


"Nyaman aja, Dek, kalau tidur nggak pake itu," jawab Jiwo santai. Namun beberapa saat kemudian Jiwo melempar pertanyaan yang membuat Andin terperanjat.

__ADS_1


"Mau lihat nggak, Dek?"


...@@@@@...


__ADS_2