
"Oh iya, nanti sebelum tidur, Mister minum jamu dulu yah?"
Kening Jiwo mengernyit sembari menatap istrinya. "Jamu? Jamu apa?"
"Cuma ramuan tradisional kok, Mister. Biar Mister tetap sehat dan bugar. Apa lagi kan Mister punya istri banyak, biar makin kuat gitu saat di ranjang."
"Astaga! Buat apa minum jamu kayak gitu, Dek? Aku lawan kalian semua tanpa jamu juga kuat."
"Bukan masalah kuat atau tidak, Mister. Ini juga untuk masalah kesehatan. Mister kan tahu, di rumah ini, Mistetr satu satunya lelaki, Mister juga harus kerja dan yang lainnya. Setidaknya kita ingin Mister selalu sehat. Bukankah menjaga lebih baik daripada mengobati?"
Sejenak Jiwo tertegun dengan ucapan Aziza, tapi tak lama kemudian Jiwo mengulum senyum. Seperti biasa, hati Jiwo menghangat, istri istrinya selalu bertindak yang tidak mengecewakan. Entah rasa syukur seperti apa lagi yang harus Jiwo lakukan. Rasanya dia benar benar selalu mendapat kebahagiaan sejak hadirnya tiga belas wanita dalam hidupnya.
"Emang resep jamu kuat itu kamu dapat darimana, Dek?"
"Dari mulut ke mulut, Mister. Biasanya sih yang mengonsumsi jamu seperti itu kebanyakan pekerja kasar, atau pekerja malam, ataupun pekerja berat. Itu katanya loh ya? Soalnya keluargaku juga banyak yang meminumnya."
Jiwo tertawa lirih. Tak disangka salah satu istrinya ada juga yang tahu tentang stamina pria. Jiwo meneguk kopinya yang mulai dingin, lalu dia bangkit dan berpindah duduk di atas tembok yang sama dengan istrinya.
"Emang kamu sudah siap, Dek?" tanya Jiwo saat mata mereka beradu.
"Siap apa, Mister?" Aziza malah melempar tanya balik seperti orang bingung.
__ADS_1
"Ya kamu kan ngasih jamu kuat, berarti kamu sudah siap menerima kekuatanku saat di ranjang nanti, kan?" ucap Jiwo lagi sambil senyum senyum nakal.
Aziza terkesiap, lalu dia segera memalingkan wajahnya menghindari rasa malu. Alih alih menjawab, Aziza malah melempar pertanyaan kembali, "Emang Mister nggak bosen? Kemarin kan sudah sama Adiba?"
"Semua pria mana mungkin bosen soal hubungan ranjang, Dek. Yang punya istri satu aja penginnya tiap hari, apa lagi aku yang istrinya banyak dan cantik cantik. Penginnya sih, pagi, siang, sore dan malam, berhubungan ranjang terus."
"Hidih, rakus amat," cibir Aziza. Jiwo malah terbahak melihat ekspresi wajah istrinya. Jiwo melongok ke arah dalam dan sepertinya semua penghuni rumah sudah masuk kamar. Padahal baru jam delapan malam tapi entah kenapa selalu istri istri Jiwo lebih awal masuk kamarnya.
"Dek, kalian kalau jam segini sudah masuk kamar, apa langsung pada tidur?" tanya Jiwo karena penasaran.
"Ya nggak juga, Mister. Biasanya kita ngobrol dulu di kamar sampai kita ngantuk."
"Ya lebih nyaman di kamar, Mister, bisa sekalian istirahat. Kan pekerjaan juga sudah pada beres semuanya."
Jiwo nampak manggut manggut. "Ya udah kita masuk kamar juga, yuk. Aku juga pengin rebahan, jamunya bawa kamar aja yak?"
Aziza mengangguk lalu mereka segera masuk. Jiwo memilih masuk ke kamar duluan sedangkan Aziza mengunci pintu dan sebagainya seperti biasanya tiap orang rumah pada tidur. Aziza menyusul sang suami di dalam kamar setelah menyeduh jamu. Jiwo menerima jamu itu dengan senang hati dan meminumnya hingga habis.
"Makasih, Sayang," ucap Jiwo sambil menaruh gelas di atas lantai. Aziza hanya tersenyum lalu dia berbaring menghadap langit langit. Hatinya berdebar lebih kencang saat ini. Dia yakin setelah minum jamu, sudah dipastikan sang suami akan meminta haknya. Apa lagi saat ini Jiwo hanya memakai sarung.
Jiwo pun ikut berbaring dan menempel pada istrinya dengan posisi miring. Dipandanginya wajah sang istri hingga mata mereka saling beradu. Jiwo tahu istrinya sedang merasa canggung, tapi seperti biasa, Jiwo tidak peduli dan dia akan merayunya.
__ADS_1
"Kenapa Mister senyum senyum gitu?" tanya Aziza. "Kelihatan serem."
Jiwo sontak terkekeh. "Hahaha ... kok serem sih, Dek? Serem dari mananya? Lagian lihatin istri sendiri kok malah dikatain serem."
"Ngapain dilihatin? Kan, aku udah dekat?"
"Justru karena dekat itu, aku semakin yakin kalau istriku tuh cantik cantik."
Aziza berdecih dan mencoba berpaling dari tatapan suaminya, karena hatinya semakin merasa tak karuan. Tapi Jiwo segera menahan rahang istrinya agar wanita itu tidak berpaling dari dirinya, dan hal itu sukses Jiwo lakukan.
"Kenapa hadap sana? Orang suaminya ada di sebelah sini," protes Jiwo sambil menahan wajah sang istri agar terus menghadap wajahnya.
"Ya nggak kenapa kenapa," kilah Aziza dengan bola mata bergerak menghindari tatapan suaminya. Jiwo hanya bisa tersenyum. Bahkan senyum nakalnya pun sudah mulai dia keluarkan.
"Dek."
"Apa?"
Kita coba buktikan kekuatan jamu yang kamu bikin yuk?"
...@@@@@...
__ADS_1