MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Momen Balas Dendam


__ADS_3

"Emang kamu udah berhenti merokok, Wo?"


"Nggak total sih, tapi kalau di rumah nggak berani, bakalan di sidang aku."


"Lah terus jalan keluarnya gimana, Wo? Kamu ngemut permen gitu?"


"Iya, Wo. Kalau abis makan, kan, rasanya mulut asem gitu. kalau nggak ngrokok? Kamu kuat?"


"Ada penggantinya lah."


"Apa gantinya?"


"Kenyot dada semua istriku dong."


"Apa! Bohong banget?"


"Serius! Ngapain pake bohong?"


Ozi dan Fadil saling tatap lalu memandang Jiwo dengan pandangan sukar di artikan. Mau tidak percaya tapi Jiwo terlihat serius dan mereka tahu kalu Jiwo jujur. Tentunya mereka juga iri. Bagaimana bisa sahabat mereka sejak SMP seberuntung itu.


Ibaratnya, mungkin Jiwo saat ini waktunya balas dendam. Dulu, waktu Ozi dan Fadil menikah, mereka juga suka pamer pengalaman malam pertama mereka. Jika sedang berkumpul Jiwo selalu dibuat iri oleh mereka. Ozi dan Fadil sering memamerkan kapan mereka berhubungan suami istri dan gaya apa saja yang mereka lakukan. Belum lagi tempat tempatnya. Jiwo selalu merasa kesal jika kedua sahabatnya sudah pamer hubungan ranjang yang dibumbui dengan ledekan itu.

__ADS_1


Tapi sekarang, seakan berbalik arah. Dengan bangganya, Jiwo bisa pamer malam pertama berkali kali. Dia juga dengan sombongnya bisa membobol mahkota tiga belas wanita dengan label halal. Belum lagi gaya bercinta yang dipakai hingga satu lawan tiga belas pun Jiwo ceritakan.


Itulah dunia laki laki. Apalagi jika mereka sudah sangat akrab, dengan sangat lancar, mereka berbagi cerita apapun. Begitu juga dengan Jiwo dan dua sahabatnya. Dari jaman nakalnya, mereka memang selalu berbagi cerita. Soal ciuman pertama, mimpi basah, bersolo karir di kamar mandi pertama dan segalanya. Beruntung, senakal nakalnya mereka di masa muda, mereka tidak pernah bersentuhan dengan wanita yang diluar batas selain ciuman.


"Pancen edan kamu, Wo! Gitu aja diceritain?" gerutu Ozi.


"Hahaha ... kalian, kan, tadi yang tanya, ya aku jawab dong. Gimana sih?" balas Jiwo tak mau kalah.


"Terus hasilnya gimana? Apa istrimu sudah ada yamg hamil?" tanya Ozi lagi.


"Alhamdulillah, lima istri sedang mengandung benihku."


"Hebat! Sekali punya anak langsung lima!" puji Fadil. "Tapi apa nantinya nggak repot, Wo?"


"Yah, gimana lagi, itu kan memang resiko punya istri banyak. Yang penting hadirnya anak anakku dengan cara halal. Jadi ya aku percaya diri saja. Urusan repot ya nggak apa apa, Kan itu bentuk salah satu tanggung jawab sebagai orang tua."


"Iya sih, benar kata kamu, Wo. Mereka semua kamu dapatkan secara halal, jadi nggak perlu merasa khawatir," ucap Ozi.


"Yang lebih hebat lagi ya istri istri kamu, Wo. Mereka mau bertahan dengan satu suami. Coba kalau aku mau nikah lagi, bisa dipenggal aku oleh istriku," Fadil menimpali.


"Hahaha ... itu dia kelebihan cecunguk kayak Jiwo. Bisa bisanya dia beristri banyak tapi adem banget gitu lihatnya. Kayak nggak pernah bertangkar. Mereka pernah bertengkar nggak sih, Wo?"

__ADS_1


Jiwo pun tersenyum lebar lalu menyeruput kopinya sejenak. "Mereka ya pernah bertengkar, tapi mereka juga bisa cepat damai gitu. Gimana nggak bisa cepat damai, setiap ada yang bertengkar pasti istri yang lain menengahi. Mereka juga pada nggak ingin lihat aku marah, takut katanya."


Ozi menggelengkan kepalanya dan Fadil mengangguk beberapa kali, tapi tujuan sikap mereka sama. Sama sama kagum dengan rumah tangga sahabat mereka.


Suasana pasar burung, semakin siang semakin ramai saja. Meski panas, tapi tak menyurutkan para pengunjung untuk menemukan apa yang mereka cari. Maklum, pasar itu tidak di gelar setiap hari. Jadi wajar, jika para pecinta unggas, pada berdatangan hari itu dari berbagai desa.


Jiwo, Fadil dan Ozi pun masih berada di lokasi yang sama. Di salah satu warung kopi yang ada di pojokan tempat itu. Mereka betiga memilih duduk di depan sebuah kios kosong tak jauh dari warung kopi berada.


"Tapi lumayan lama juga ya, Wo. delapan bulan setelah menikah, baru punya anak. Aku bahkan dua bulan langsung jadi," ucap Fadil.


"Ya beda orang beda rejeki, Dil. Aku aja enam bulan baru dapat anak. Yang bertahun tahun menikah juga masih banyak yang belum hamil," Ozi menimpali.


"Ya aku juga awalnya agak frustasi. Apa lagi istriku kan banyak. Kok bisa gitu belum dikasih momongan. Tapi ya beruntung sih, istriku saling menguatkan. Jadi aku tenang aja meski kadang suka geram kalau ada yang bertanya soal anak," balas Jiwo.


"Bener, aku juga dulu gitu, kesel banget kalau ada yang nanya," ucap Ozi.


"Terus, Wo, kamu udah mikirin belum?" tanya Fadil.


"Mikirin apa?"


"Nanti anakmu punya akte kelahiran apa enggak? Kan, kamu cuma nikah siri?"

__ADS_1


Deg!


...@@@@@...


__ADS_2