
Semakin malam suara rintik hujan semakin mereda. Namun udara semakin terasa dingin menembus kulit. Disana, di atas selembar karpet, dari ruang tamu sebuah rumah, sepasang suami istri sedang berbaring. Sang suami mendekap tubuh sang istri dengan salah satu tangannya dan membiarkan sang istri bersandar di dadanya. Sedangkan tangan sang istri masih setia bermain dengan benda di dalik sarung sang suami.
Sejak beberapa menit yang lalu, hanya itu yang dilakukan suami istri tersebut tanpa ada pembicaraan yang berarti. Diminta pindah ke kamar, sang suami enggan karena baru pukul delapan malam lebih dan dia juga tadi tidur siang lumayan lama jadi percuma kalau masuk kamar jam segini.
Kalau sang istri, dia memang terbiasa tidur agak malam. Meski dia sering masuk kamar lebih awal tapi dia tidak pernah langsung tidur. Selalu saja ada yang dia lakukan di dalam walau hanya bengong sambil mengkhayal apa saja termasuk berkhayal tentang laki laki idaman.
"Mister," panggil Arum mulai membuka suara untuk memecah keheningan.
"Hum? Apa, Sayang?" ucap Jiwo lembut.
"Jika kita berpisah, apakah mungkin aku bisa menemukan pria yang seperti Mister?"
Kening Jiwo berkerut kemudian menghela nafasnya secara perlahan lalu bibirnya mengulas senyum. "Memang kamu sudah siap kalau kita berpisah, Sayang?"
"Ya belumlah, Mister. Ini kan aku bilang seandainya. Apa mungkin ada yang mau menerima apa adanya aku sama seperti Mister menerima kami apa adanya," balas Arum menjabarkan maksud dari pemikirannya.
__ADS_1
"Ya aku kurang tahu soal itu, Sayang. Pribadi orang kan beda beda. Mungkin saja ada tapi karena itu masalan sifat dan hati, jadi susah mengetahuinya," balas Jiwo dengan jurus bijaknya.
"Iya, yah," balas Arum sembari menyungging senyum. "Nggak kebayang jika nanti aku pulang ke negaraku, apa aku mampu akan hidup jauh dari Mister?"
Jiwo kembali mengulas senyum, tapi senyum Jiwo kali ini terasa masam. Apa yang ditanyakan Arum juga mewakili isi hati Jiwo saat ini. Jiwo juga merasa pasti akan sangat berat jika dia harus berpisah dengan istri istrinya. Jiwo sudah sangat nyaman dengan keadaan seperti ini. Hidup dengan banyak istri dan melakukan apa apa selalu bersama, membuat hidup Jiwo semakin terasa berwarna. Tak terbayangkan jika tiba tiba suasana rumah yang ramai, kembali menjadi sepi jika mereka kembali. Bukan hanya Jiwo yang merasa sepi, tapi Emak juga.
"Kalau aku berdoa semoga konflik di negara kamu semoga tidak pernah reda, agar kamu dan yang lainnya tetap disini, aku termasuk jahat nggak, Dek?"
Kening Arum mengernyit, sejenak dia menghentikan gerakan tangannya yang ada di dalam sarung Jiwo, lalu Arum mendongak menatap wajah suaminya yang terken sedikit cahaya lampu. "Jahat banget, masa doanya begitu?"
Arum tersenyum lalu kembali merebahkan kepalanya di dada suaminya. "Aku juga mikirnya begitu, Mister. Menghabiskan waktu hidup bersama orang yang aku cintai. Tapi kadang apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Makanya aku agak takut berharap."
"Ya udah, jangan ngobrolin yang membuat kita sedih dong, orang lagi berdua kayak gini malah ngomongin yang sedih, kan nggak asyik."
"Hehehe ... terus ngobrolin apa dong?"
__ADS_1
Jiwo berpikir sejenak lalu senyum nakalnya tiba tiba terkembang. "Bagaimana kalau kita cerita soal anak?"
Kening Arum kembali berkerut serta mendongakkan kepalanya. "Kok soal anak?"
Jiwo masih setia dengan senyumnya. Bahkan kini senyumnya semakin melebar. "Ya wajar, kan? Setiap yang menikah pasti membicarakan soal anak? Emang kamu nggak ingin punya anak dengan aku gitu?"
Arum sontak cengengesan lalu memalingkan wajah dan merebahkan kembali ke dada sang suami. "Ya penginlah, Mister."
"Maka itu lebih baik kita membicarakan soal anak, bukankah itu lebih menyenangkan?"
"Iya, iya ... terus apa yang akan kita bicarakan? Orang bikin anak juga belum pernah?"
Jiwo kembali tersenyum lebar. Dalam hatinya dia bersorak, sang istri masuk ke dalam jebakan nakalnya. "Baiklah, kalau begitu, bagaimana jika malam ini kita bikin anak? Nanti kita bisa ngobrolin soal anak, gimana? Setuju?"
"Waduh."
__ADS_1
...@@@@@...