MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Saat Melepas Lelah


__ADS_3

Detik demi detik terus terangkai tanpa henti hingga waktu tak terasa sudah semakin malam. Di salah satu rumah warga yang penghuninya lebih banyak wanita, berangsur angsur mulai terasa sepi setelah beberapa menit yang lalu sempat heboh dengan cerita seru dari tiga wanita diantara mereka.


Meski rumah sudah terlihat sepi, tapi belum tentu semua penghuninya sudah tidur. Lihat saja di dalam kamar satu satunya pria yang ada di rumah tersebut. Dia justru sedang terbaring dengan salah satu istrinya yang sedang memeluknya sangat erat. Bahkan saking eratnya, tanpa dikasih perintah, sang istri memasukkan salah satu tangannya ke dalam sarung sang suami untuk menggenggam benda yang dia rindukan.


Wajar jika wanita itu merindukan benda di balik sarung yang dipakai suaminya, karena dia harus menunggu dua belas malam untuk momen seperti ini. Sang suami pun pasrah saja benda kebanggaannya dipegang istrinya. Biar bagaimanapun dia juga sangat suka jika benda miliknya dipegang sang istri.


"Kira kira, pejabat yang ikut bekerja sama untuk menculik kita, bisa ketangkap nggak ya, Mister?" tanya sang istri yang sekarang telah akrab dengan panggilan Alana.


"Semoga saja, polisi yang menangani kasus kita ini polisi yang jujur, agar pejabat itu bisa ditangkap dan dijatuhi hukuman yang setimpal," jawab Jiwo mengusap pucuk kepala istrinya.


"Semoga saja, biar nggak ada lagi yang ngejar ngejar kita. Kita benar benar kayak buronan, dikejar tanpa punya kesalahan," ucap Alana penuh harap. Jiwo yang mendengarnya langsung mengaminkan dalam hati sembari mengulas senyum. Keinginan Alana juga sama seperti keinginan dia. Jiwo berharap usahanya tidak sia sia.


"Mister."


"Hum? Kenapa?"


"Mister jadi ngerubah jadwal tidur bergilir kita?" tanya Alana kembali mengingatkan apa yang pernah Jiwo beritahukan beberapa hari kemarin.


"Ya jadi, Sayang. Nunggu giliran Andin sama Alena yang belum di sentuh. Kenapa?"

__ADS_1


"Nggak kenapa kenapa sih, Mister. Cuma ya jangan terlalu lama, aku kan penasaran, jadwalnya di ubah menjadi seperti apa? Mana harus nunggu lagi. Harusnya Mister memberi tahunya dari sekarang, biar semua nggak syok gitu dan bisa memperiapkan diri."


Jiwo tercenung dengan jawaban istrinya yang lumayan panjang. Dia pun mencerna ucapan itu dengan baik, dan apa yang dikatakan Alana memang ada benarnya. Jiwo harus mengatakannya sedini mungkin.


"Ya udah, besok kita bicarakan," balas Jiwo beberapa saat kemudian.


"Emang rencana Mister gimana sih? Aku loh penasaran?"


Sejenak Jiwo terkekeh lalu dia memperbaiki posisi bantalnya agar kepalanya lebih tinggi lagi. "Mungkin seperti yang pernah kamu usulkan, Sayang. Dalam semalam kita main bertiga atau gimana gitu. Tapi semua itu juga harus dengan sekepakatan. Kalau kalian nggak mau ya, mainnya bergantian, yang penting intinya dalam satu malam ada dua lubang aku masukin."


"Oh, gitu?" balas Alana, dan Jiwo mengiyakan. "Tapi apa Mister kuat? Entar Mister cepat loyo gimana? Tiap malam masuk lubang terus?"


"Tapi Mister juga harus jaga kesehatan juga. Emangnya nggak lelah apa? Tiap malam masuk lubang?"


"Hahaha ... lelahnya itu kalau udah ngeluarin di dalam, Sayang. Baru terasa lelah."


"Dih! Bisa mikirnya gitu!" cibir Alana, dan Jiwo hanya menangggapi dengan suara tawa yang agak ditahan. Sejenak obrolan mereka terjeda dalam diam, hingga Alana kembali bersuara, "Bulu bulu dibawah perut sudah rimbun, Mister? Nggak di rapiin?"


"Lagi males, Sayang. Atau kamu mau merapikannya?"

__ADS_1


"Di potong sampai bersih?"


"Jangan! Aku nggak suka. Ditipisin aja yang rapi."


"Baiklah, mana alatnya?"


"Gunting ada di laci lemari, cari aja."


Alana bangkit dan membuka lemari baju suaminya. Setelah gunting di tangan Alana duduk bersimpuh diantara dua kaki Jiwo yang agak membentang. Sarung yang menutupi bawah perut Jiwo, diangkat hingga ke perut. Kini terpampanglah benda yang sudah kokoh dan tegak dengan bulu bulu yang sangat rimbun di hadapan Alana.


Dengan telaten, Alana mulai mencukur bulu keriting suaminya. Sedangkan Jiwo hanya bisa senyum senyum memandangi kegiatan yang baru pertama kali dia lakukan bersama wanita. Selama ini Jiwo selalu merapikan bulu sendiri bulu keramat itu. Tapi sekarang ada istri yang siap sedia untuk membantu merawatnya.


"Setelah ini, masukin lubangku ya, Mister?"


"Iya, Sayang. Pasti itu."


Alana langsung tersenyum senang, begitu juga dengan suaminya. Dan malam pun akan terasa lebih lama.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2