
Seperti yang sudah diberitahukan, hari ini Jiwo kembali libur berjualan. Para istri sudah tahu karena semalam Jiwo mengirim pesan kepada istrinya disaat dia akan melakukan permainan menuju ronde ke dua dengan istri yang lain. Bahkan hingga sampai pukul delapan pagi, Jiwo belum keuar dari kamarnya. Sedangkan Adiba, keluar dari kamar Jiwo sejak pukul tujuh kurang sedikit.
Dari kejadian tersebut, istri istri Jiwo yang lain menyimpulkan pemikiran sendiri kalau Jiwo sudah mulai menyentuh istri istrinya satu persatu. Jiwo memang belum terbuka soal itu. Entah apa alasannya hanya Jiwo yang tahu. Tapi yang pasti, istri istri Jiwo sedikit merasa kecewa.
"Sepertinya, kita memang harus membicarakannya pada Mister," ucap Aziza saat para istri sedang duduk di ruang tamu setelah pekerjaannya selesai.
"Iya, kita harus ngomong, biar kita siap kalau Mister sedang ingin menyentuh kita," timpal Anum.
"Ya mending nggak usah ngomong, manfaatnya apa coba? Kalau menurut aku sih biarlah itu semua terjadi apa adanya. Ngalir gitu. Belum tentu juga kan tiap malam Mister ingin berhubungan?" usul Arum.
"Benar, kemarin aja pas aku dapat giliran tidur bareng, Mister nggak minta jatah, padahal saat aku pegang isi sarungnya, punya Mister udah tegang banget, tapi dia nggak minta apa apa, cuma minta dipegangin," balas Andin.
"Serius, Ndin? Gede nggak?" tanya Anum. Jelas sekali terlihat wajah penasarannya.
"Gede lah, panjang dan agak gemuk gitu. Gemesin pokoknya. Gagah kayak Mister, kekar. Mungkin kalau di ukur sekitar 20 cm panjangnya," jelas Andin antusias.
__ADS_1
"Wah, mantap! Jangan jangan kalau aku dimasukin, bisa langsung melebar ya?" ucap Aisyah.
"Ya nggak lah," bantah Adiba. "Tapi pas pertama masuk sakit banget sih."
"Berarti kamu udah, Dib?" tanya Arum. Semua nampak terkejut dengan kejujuran Adiba.
"Udah, semalam. Makanya aku tadi bangunnya kesiangan. Aku diserang sampai jam dua pagi. Tapi enak sih, walaupun ada perih perihnya sedikit," ucap Adiba sambil cengengesan.
"Astaga!"
Awalnya, begitu bangun tidur, Jiwo ingin segera ke kamar mandi. Apa lagi saat mata terbuka, jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan lebih. Tanpa banyak berpikir, Jiwo langsung saja bangkit sekalian mengambil handuk dan melilitkannya ke pinggang. Tapi begitu keluar kamar, Jiwo kaget saat nama Mister disebut. Jadi Jiwo memutuskan mendengar obrolan para istri diam diam.
Waktu merangkak menuju siang. Setelah mandi, sarapan, dan ngobrol bersama istri istrinya, Jiwo hari ini akan menjalankan apa yang telah dia rencanakan sejak semalam. Jiwo menyalakan mesin motornya sesudah pamit sama para istri yang sengaja berkumpul di teras untuk melepas keberangkatannya. Dengan di temani Aziza, motor matic yang dikendarai Jiwo langsung meluncur meninggalkan kediamannya.
Tempat tinggal Jiwo yang letaknya memang di pusat kecamatan, memudahkan dirinya untuk menjangkau tempat tempat penting yang ada disana. Seperti ke kantor polisi, Jiwo tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di sana. Kurang dari sepuluh menit, Jiwo dan Aziza telah sampai di tempat tujuan. Jiwo lantas menceritakan alasan dia berkunjung ke tempat itu.
__ADS_1
"Dari pengakuan orang kemarin, sepertinya dia beda Bos, Wo," ungkap salah satu polisi yang kebetulan memang kenal dengan Jiwo. Polisi bernama Andika tersebut mengajak Jiwo menemui pria yang kemarin menyandra salah satu tetangganya.
"Yang benar, Dik? Masa beda, Bos?" tanya Jiwo merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Kalau memang beda bos berarti ada oknum lain yang mengincar istri istrinya.
"Kamu tanya aja sama orangnya langsung. Tapi dia sangat sulit membuka mulut, Wo."
Kini Andika, Jiwo dan Aziza telah sampai di tempat yang dituju. Seorang pria terlihat meringkuk dibalik jeruji besi. Ketika dia dipanggil, pria itu mendongak dan menatap sinis ke arah Jiwo dan yang lain.
"Emang nggak ada cara lain, agar dia buka mulut? Terus yang tiga orang itu kemana?" tanya Jiwo sambl membalas tatapan pria itu dengan tajam.
"Yang tiga orang udah dipindahkan ke kantor kota. Kita udah interogasi semalaman, dianya bebal. Tapi kamu nggak usah khawatir, dia sedang diselidiki asal usulnya. Semoga secepatnya bisa terungkap dalang dalangnya."
Jiwo dan Aziza mengaminkan ucapan Pak Polisi, lalu mereka memutuskan pergi dari tempat itu. Tapi saat mereka berbalik badan, pria itu mengeluarkan suara seperti memberi peringatan.
"Hati hati saja, tiga belas wanita itu akan selalu di incar, bagaimanapun caranya. Ingat pesan saya!"
__ADS_1
...@@@@@...