
Tok! Tok! Tok!
"Permisi."
"Iya, sebentar."
Ceklek!
Iya, ada apa ya, Mbak, mbak?"
"Maaf, Pak. Mbak Titinnya ada?"
"Titin? ada. Kalian istri istrinya Jiwo, kan?"
"Iya, Pak. Kami ada perlu sama Mbak Titin."
"Oh gitu, Ya udah silakan masuk dan duduk dulu. Tunggu sebentar ya? Titin lagi beli rujak."
"Oh iya, Pak. Makasih."
Tiga wanita yang memiliki satu suami itu pun masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi tamu yang ada di sana. Mereka adalah Aziza, Andin dan Anum, tiga istri Jiwo yang belum hamil itu berniat ingin berbicara dengan wanita yang pernah menjadi pacar suami mereka.
Awalnya Andin dan Anum merasa kaget saat Aziza mengajak keduanya dengan sedikit memaksa. Namun saat di perjalanan menuju rumah Titin, betapa kagetnya Anum dan Andin mendengar semua ceriita Aziza dari suaminya. Tentu saja mereka berdua ikutan geram dan langsung setuju dengan tindakan Aziza yang ingin memberi pelajaran kepada mantan kekasih suami mereka.
__ADS_1
Sedangkan di rumah, Jiwo tidak bisa berbuat apa apa. Dia harus diam di rumah menjaga para istri yang sedang hamil. Awalnya Jiwo melarang Aziza agar tidak pergi menemui Titin, tapi dia malah disangka mau melindungi mantan pacarnya yang sudah menjadi janda. Tentu saja para istri yang lain menjadi geram. Meski mereka belum mengerti cerita selengkapnya, para istri Jiwo menunjukan sikap masih marah kepada suami mereka. Daripada istrinya semakin marah dan bertambah salah paham, Jiwo pun pasrah dan membiarkan Aziza pergi.
"Siapa, Pak, yang mencariku?"
"Tuh! Istri istri Jiwo."
Deg!
Titin langsung terkejut. Perasaanya mendadak jadi tidak enak. Dia pun terdiam di dapur dengan tangan yang masih memegang kantung plastik warna putih berisi sebungkus rujak buah. Bapak yang masih melihat anaknya di dapur langsung menegurnya dan menyuruh Titin menemui tamunya. Mau tidak mau Titin melangkah dengan berat hati menuju ruang tamu. Sedangkan Darmi dan suaminya duduk di meja makan, tapi masih bisa memantau area ruang tamu.
"Ada apa ya, Mbak? Katanya ada perlu sama saya?" tanya Titin mencoba tenang sembari duduk di kursi yang menghadap ke arah istri Jiwo berada.
"Oh iya, benar, saya ada perlu dengan Mbak Titin," jawab Aziza dengan ramah, padahal hatinya mengumpati wanita itu. Begitu juga dengan Andin dan Arum.
"Saya mau tanya, tadi pagi Mbak Titin deketin suami kami itu ada urusan apa ya, Mbak?" balas Andin sambil melempar pertanyaan kembali. Titin langsung terkejut, begitu juga dengan orang tuanya.
"Oh tadi? Cuma mau minta maaf," jawab Titin masih dengan sikap tenangnya.
"Yakin, cuma mau minta maaf?" tegas Anum.
Titin mengangguk. "Iya, cuma mau minta maaf aja nggak lebih."
Aziza tersenyum sinis. "Kalau hanya minta maaf, kenapa sampe minta nomer ponselnya?"
__ADS_1
Titin kembali dibuat terkejut, dan juga kedua orang tuanya terutama Darmi. Wanita paru baya yang masih membenci Jiwo hingga tulang belulang itu menjadi emosi mendengarnya. Tapi sang suami menahannya agar Darmi tenang dan bersabar.
"Kenapa, Mbak? Kok diem? Tujuannya apa minta nomer suami kami secara diam diam?" sambung Anum tak kalah tenangnya meski geregetan setengah mati.
"Terus? Mbak Titin juga ngapain mengenang kisah cinta kalian? Sampe mengungkit kalau suami kami mudah luluh dan memaafkan? Bukankah Mbak Titin sudah tahu jawabannya? Dia sudah bahagia dengan kami. Apa Mbak Titin nggak bisa lihat? Atau, Mbak Titin nggak suka melihat suami kami bahagia?"
Titin terbungkam. Dia benar benar syok mendengarnya. Titin tidak menyangka kalau Jiwo akan menceritakan semuanya kepada para istri. Titin bingung mau menjawab apa atas pertanyaan dari istri Jiwo itu.
"Kamu masih mengharapkan Jiwo, Tin?" Titin yang sedang berusaha mencari jawaban lagi lagi harus terkejut. Titin menoleh dan melihat Ibunya sedang menatap tajam ke arah Titin.
"Bukan begitu, Bu," jawab Titin agak terbata.
"Terus tujuan kamu apa menemui Jiwo dan meminta nomer ponselnya? kalau bukan kamu masih mengharap berhubungan lagi sama Jiwo?" bentak Darmi.
Tiga istri Jiwo pun saling lirik dan tersnyum sinis, lalu Aziz berkata, "Maaf ya, Bu, Pak. kami datang kesini bukan ingin membuat keributan. Tapi kami akan menindak tegas siapapun yang berusaha merusak rumah tangga kami. Asal Ibu Bapak tahu, suami kami juga kaget dengan sikap Mbak Titin. Dia dengan sangat percaya diri sekali mendekati suami kami. Kalau nggak ada tujuan buruk, nggak mungkinkan dia tanpa berdosa mendekati suami kami."
"Astaga, Titin! Kamu mau jadi wanita murah?"
Bu sabar, Bu, sabar," ucap suaminya. "Dan kamu titin! Kamu sangat memalukan!
Aziza, Andin, dan Anum hanya bisa tertawa sinis kepada Titin yang sedang menahan geram.
...@@@@@@...
__ADS_1