MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Musuh Kalang Kabut


__ADS_3

"Argh! Sial!"


Prang! Prang! Prang!


Amarah Hendrik benar benar meluap tak terkendali. Dia membanting apa saja yang bisa di banting yang ada di dekatnya. Dia tidak menyangka kalau kegagalan lagi lagi menghampirinya.


Hendrik pikir kali ini dia akan mendapat kabar baik. Tapi saat dia mencoba menghubungi anak buahnya, dia tidak menyangka kalau yang mengangkat telfonnya adalah orang lain dan memberi kabar kalau anak buahnya tertangkap. Bahkan si penerima telfon mengirimi dia foto dan video tentang anak buah Hendrik yang sedang disidang warga, dan juga saat ketiganya di gelandang ke kantor polisi.


"Dasar bodoh kalian! Bodoh!" maki Hendrik tak henti hentinya. Sedangkan anak buah yang lain hanya bisa terdiam tanpa ingin menenangkan bos mereka. Karena anak buah Hendrik tahu, akan sia sia belaka jika ingin menenangkan bos mereka.Yang ada mereka malah akan kena marah balik atau amukan.


Sementara di daerah tempat tinggal Jiwo, setelah menyerahkan tiga orang itu ke polisi beserta bukti buktinya, Jiwo bersama Pak Rt dan beberapa warga yang ikut, memilih langsung pulang ke rumahnya masing masing.


Jiwo ingin segera menanyakan banyak hal tentang kejadian yang baru saja mereka lalui kepada istri istrinya. Meski semua istrinya terlihat baik baik saja, tapi tetap rasa khawatir menyelimuti hati Jiwo.


"Bagaimana, Mister? Mereka jadi dilaporkan ke polisi, kan?" tanya Aisyah bebeberapa saat setelah Jiwo datang dan ikut bergabung bersama para istri.


"Iya, mereka sedang di proses," balas Jiwo. "Kalian kenapa nggak ada yang ngabarin aku sih?"


"Maaf, Mister. Kita emang sengaja nggak ngasih kabar sama Mister karena kami takut Mister kenapa kenapa. Apa lagi Mister, kan, sedang dalam perjalanan jauh, kami nggak mau sesuatu yang buruk terjadi pada Mister," terang Anisa.

__ADS_1


"Ya seenggaknya tetap ngasih kabar lah, biar aku bisa memantau apa yang terjadi di rumah," balas Jiwo masih merasa sedikit kesal.


"Ya maaf," cicit Aisyah sembari menunduk.


"Ya udah sih, Wo. Yang penting kan mereka semus baik baik saja. Lagian kalau mereka ngasih kabar, kamu bisa apa? orang kamu jauh," ucap Emak menengahi.


Jiwo tak bisa membantah ucapan Emak. Meski apa yang dikatakan Emak memang benar, tapi entah kenapa Jiwo masih merasa kesal hanya karena tidak dikasih kabar. Untuk menenangkan hatinya yang bergemuruh, Jiwo memilih beranjak masuk ke kamarnya. Dia berbaring hingga akhirnya dia tertidur.


Hingga beberapa jam kemudian, Jiwo terbangun dari lelapnya. Di tatapnya jam di dinding yang sudah menunjukan pukul sembilan malam. Jiwo teringat tadi masuk kamar sekitar pukul tiga sore. Kening Jiwo mengernyit karena tak melihat salah satu istri berada di kamarnya. Jiwo sontak bangkit dan beranjak keluar kamar meski sedikit sempoyongan.


Ruang tengah dan dapur sudah gelap, tapi ruang tamu masih ada satu lampu yang menyala. Jiwo sontak melangkahkan kakinya ke arah sana. Terlihat salah satu istrinya sedang terbaring di atas kursi panjang yang ada di ruang tamu. Tapi sang istri nampak belum tidur, matanya masih terbuka menatap langit langit ruang tamu.


Mendengar suara Jiwo, sang istri yang biasa dipanggil Anisa langsung menoleh. "Eh, Mister udah bangun," bukannya menjawab, Anisa malah seperti orang kaget saat melihat Jiwo sudah ada disana. Anisa lantas bangkit dari berbaringnya.


"Kenapa kamu malah tidur disini? Bukanya tidur di kamar?" Jiwo mengulang pertanyaan yang sama.


"Takut gangguin Mister. Nggak enak. Apa lagi sebelum tidur tadi sore, Mister sedang marah," balas Anisa jujur.


Jiwo menghembus kasar nafasnya lalu berpindah tempat duduk ke sebelah Anisa. "Maaf jika tadi aku sempat marah, aku cuma khawatir aja sama kalian."

__ADS_1


Anisa mengangguk sembari tersenyum. "Mister mau makan atau mandi dulu?"


"Mandi? Enggaklah, males," tolak Jiwo.


"Jorok, Mister kan, sedari sore belum mandi," ucap Anisa sedikit protes sembari mengingatkan.


"Emang kenapa kalau aku belum mandi?" tanya Jiwo sambil melepas kaos dari tubuhnya. Sontak saja mata Anisa langsung membelalak melihat tubuh atletis suaminya. Namun Anisa tidak berani menatap lama lama, dia langsung berpaling dengan dada yang berdegup lebih kencang.


Jiwo tersenyum lebar melihat tingkah istinya, lalu dia melingkarkan tangan kirinya di pinggang Anisa. "Badanku bau seger banget loh, Dek."


"Segar apaan, Mister! Paling bau asem," bantah Anisa tanpa mau menatap suaminya.


Jiwo malah terkekeh lalu tangan kanan Jiwo meraih telapak tangan Anisa hingga wanita itu terperangah dan langsung menghadap Jiwo.


"Badan aku bagus nggak, Dek?" tanya Jiwo sambil cengengesan. Sedangkan yang ditanya makin tegang dan hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Kamu nggak ingin megang dan merabanya, Dek?"


"Waduh."

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2