
"Jangan bilang kalau sebenarnya sampe detik ini kamu belum menyentuh mereka?"
"Apaan sih, Zi. Nggak ada pembahasan lain apa? Ngawur aja kalau ngomong," sungut Jiwo merasa kesal. Ozi malah terbahak melihat sikap Jiwo yang terlihat kesal.
"Katanya kemarin istrimu mau diculik, Wo? Gimana ceritanya sih? Kok bisa sampe kejadian seperti itu?"
Sekilas Jiwo menatap sahabatnya, lalu dia kembali melempar pandangannya ke arah sang istri yang terlihat sedang merapikan dagangannya. Sedangkan pemuda yang tadi mengacak acak barang dagangan, telah pergi setelah mereka mendapatkan apa yang mereka cari.
Tak lama setelah itu, Jiwo langsung menceritakan kejadian yang menimpa dua istrinya kemarin. Jiwo juga menceritakan tentang tiga pria yang kabur setelah gagal melakukan penculikan. Dengan serius Ozi mendengar semua yang Jiwo ceritakan. Dia juga sesekali memberi tanggapan atau sekedar melempar pertanyaan.
"Wah! Bahaya sih, Wo, kalau kejadiannya sampai seperti itu."
"Iya, aku sih yakin mereka nggak akan nyerah gitu aja. Pasti mereka mau melakukan berbagai cara untuk merebut istri istriku."
"Ya pasti itulah, Wo. Makanya, kamu gerak cepat. Sentuh mereka satu persatu," usul Ozi yang langsung saja membuat Jiwo kaget.
"Apa hubungannya?" tanya Jiwo dengan nada yang lumayan tinggi dan juga kembali merasa kesal dengan usulan sahabatnya.
"Ya ampun, Wo! Kamu ini beneran nggak peka atau bodoh sih, Wo? Bukankah istri istrimu itu dikejar bandit karena ada tujuan tertentu? Nggak mungkin kan? Mereka mengejar istri istri kamu, mau dikembalikan ke pengungsian?"
Jiwo sontak langsung tertegun. Ucapan Ozi membuat dia teringat kalau tujuan para oknum mengejar ketiga belas wanita itu adalah untuk dijadikan wanita panggilan.
"Kalau para penjahat itu sampai mendatangi rumah kamu, berarti orang yang yang dihadapi para istri kamu, bukan orang sembarangan, Wo. Bisa saja ada oknum yang lebih berkuasa dibelakang gerak gerik para penjahat," ucap Ozi lagi, namun dia langsung pergi karena rekan kerjanya memanggil. Mungkin tugas mengirim barang sudah selesai.
__ADS_1
Jiwo manatap kepergian Ozi dengan perasaan berkecamuk. Apa yang Ozi katakan memang benar adanya. Untuk saat ini Jiwo termenung sembari menatap istrinya yang sesekali tersenyum kepadanya. Jiwo pun membalas senyuman.
"Kita di sini sampai jam berapa, Mister?" tanya Aluna sedikit berteriak.
Jiwo lantas bangkit dan mendekati istrinya. "Sebentar lagi kita pindah tempat. Gimana tadi melayaninya? Bisa?"
"Bisa dong, Mister," jawab Aluna bangga. Lalu dia menyodorkan uang hasil penjualannya.
"Bagus lah," balas Jiwo sambil menerima uang dari istrinya. "Sekarang kamu naik, kita akan pindah tempat."
"Oke!"
Dengan riang, Aluna naik ke atas motor. Begitu juga Jiwo yang langsung naik di depan dan segera menyalakan mesin motor. Tak butuh waktu lama, motor melaju menyusuri jalan jalan desa yang menjadi tempat tujuan keliling.
Sepanjang perjalanan, fokus Jiwo terbagi antara dagang dan ucapan sahabatnya. Ada rasa khawatir dalam benak Jiwo jika ingatannya tertuju pada oknum yang menculik istri istrinya dulu. Hingga tak terasa motor Jiwo kini sudah memasuki desa lain tapi belum ada tanda tanda motor itu akan berhenti.
"Astaga! Kita kejauhan!" pekik Jiwo sambil menghentikan laju motornya secara mendadak.
"Kenapa, Mister?" tanya Aluna yang kaget karena motor berhenti tiba tiba.
"Kita kejauhan, Dek. Ini jalan menuju hutan dan desa paling pelosok," jawab Jiwo sambil berusaha memutar balik kendaraannya.
"Hahaha ... Kok bisa, Mister? Kirain ini jalan yang benar. Tapi pemandangannya bagus Mister. Apa boleh kita istirahat sejenak di sini?"
__ADS_1
"Baiklah, kita istirahat di gubug sana aja," balas Jiwo sambil mengarahkan motornya ke arah gubug di tepi jalan. Gubug terbuka yang sepertinya biasa digunakan untuk jualan oleh penduduk sekitar.
"Wahh! Pemandangannya indah banget Mister. Apa itu kota tempat kita tinggal?" ucap Aluna sambil menunjuk ke te arah dimana perkampungan terlihat dari temmpat mereka berada. Jiwo dan Aluna memang saat ini berada di kampung yang letaknya lebih tinggi.
"Iya, itu kampung kita," jawab Jiwo sambil duduk di bangku yang ada digubug itu. Aluna tersenyum riang. Lantas dia juga duduk di bangku yang sama dengan Jiwo. Bahkan mereka bersebelahan.
"Mister tadi kenapa? Kok sampai nggak sadar kalau kita kejauhan?"
Jiwo mengulas senyum lalu dia menyalakan sebatang rokok. "Aku sendiri nggak tahu, Dek."
"Hahaha ... Pasti tadi Mister jalan sambil melamun. Bahaya itu!"
"Ya kan aku mikirin kalian. Mikirin kamu dan yang lainnya."
"Wah! Kenapa mikirin tentang kita? Apa Mister sudah jatuh cinta sama kita?" terka Aluna.
"Apa hubungannya mikirin sama cinta?"
"Ya ada, Mister. Kalau kita jatuh cinta otomatis kita mikirin orang tersebut. Sama kayak aku."
"Wahh! Benarkah?"
"Iya, seperti aku yang selalu mikirin Mister karena aku jatuh cinta pada kamu, Mister."
__ADS_1
Deg!
...@@@@@...