MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Tindakan Sat Set Jiwo


__ADS_3

Jiwo benar benar tidak terima dan tidak akan pernah membiarkan istri istrinya pergi dengan tujuan yang sangat tidak jelas. Jiwo segera ambil tindakan di saat istri istrinya merasa bersalah karena ada insiden yang menyangkut tentang mereka siang tadi. Apa lagi Insiden tersebut hampir memakan korban, membuat para istri semakin merasa bersalah.


Sebagai bentuk rasa tanggung jawab dan melindungi sang istri, Jiwo memilih menemui korban untuk menyampaikan permintaan maaf atas kejadian tadi siang. Bukan hanya tetangga korban yang Jiwo datangi, tapi rumah beberapa warga di sekitar rumah korban termasuk rumah Rt. Kebetulan warga yang menjadi korban rumahnya beda Rt tapi masih satu Rw dengan Jiwo.


Beruntung, korban dan para warga lainnya mau mengerti penjelasan Jiwo. Bahkan mereka tidak mempermasalahkan para penjahat yang datang bergiliran. Mereka menganggap itu hanya musibah dan para warga tinggal waspada saja saat penjahat datang lagi nanti.


Jiwo pulang dengan perasaan lega. Dia juga siap jadi saksi agar biang masalah dari para penjahat segera tertangkap. Jiwo juga ingin kehidupan istri istrinya jauh lebih tenang selama tinggal bersamanya. Yang menjadi pertanyaan Jiwo dalam benaknya adalah, apakah para oknum itu masih mengincar tiga belas wanita karena mahkotanya? Bukankah Jiwo sudah pernah memberi peringatan kalau semua wanita sudah dia bobol? Apa pihak musuh tidak percaya?


"Loh, kamu belum tidur?" tanya Jiwo begitu masuk ke rumah dan melihat istrinya sedang duduk diantara karung karung yang berisi barang dagangannya. Jiwo menghampiri Adiba dan duduk di sisinya.


"Belum, lagi nungguin Mister pulang," balas Adiba sambil merapikan kembali barang dagangan yang sempat dikeluarkan dari karung.


"Yang lain mana? Udah pada tidur?"


"Udah, tadi mau ikut nungguin karena penasaran hasilnya gimana, tapi aku suruh aja mereka masuk, toh besok juga mereka bakalan tahu."

__ADS_1


Jiwo manggut manggut mendengar jawaban Adiba.


"Gimana, Mister, tanggapan para warga?" ucap Adiba lagi.


"Ya Alhamdulillah, mereka nggak masalah. Nggak keberatan sama sekali dengan adanya kalian."


"Ya syukurlah, Aku lega mendengarnya. Oh iya, katanya tadi penjahatnya datang sendirian ya, Mister? Nggak bertiga kayak kemarin?"


"Iya, nekat banget. Kalau menurutku sih, dia bodoh. Di sini kalau siang memang sepi, tapi kan tetap masih ada orang. Kok ya pada bertindaknya siang hari, nggak malam gitu."


"Oh yah? Gimana ceritanya?"


Adiba lantas menceritakan awal kisahnya mereka diculik. Seperti yang sudah diceritakan di awal, mereka awalnya di rayu dan di iming imingi pekerjaan. Dari tiga belas wanita itu, beberapa diantaranya sempat ragu dan menolak. Tapi kegigihan para penjahat dalam membujuk dan merayu benar benar mampu membuat para wanita dilema. Hingga akhirnya mereka setuju dengan tawaran para oknum.


Awalnya Adiba dan yang lain diperlakukan sangat manis selama beberapa hari. Tapi setelah ketiga belas itu tahu rencana yang sebenarnya untuk mereka, Adiba dan yang lain langsung berontak. Dari situlah mereka benar benar dijadikan tahanan. Kata kata kasar sering mereka terima. Hingga akhirnya mereka memiliki kesempatan untuk kabur dan berakhir menjadi istri Jiwo.

__ADS_1


Jiwo yang mendengarnya sungguh merasa tak terima dengan perlakuan para oknum tersebut. Bisa bisanya demi keuntungan pribadi, mereka memanfaatkan wanita yang lemah dan seharusnya ditolong. Namun yang membuat Jiwo lega, ketiga belas istrinya tidak ada yang mengalami kekerasan fisik. Mungkin karena mereka mau diperjual belikan jadi jangan sampai ada cacat atau luka di tubuh mereka.


"Tapi aku heran loh, padahal kemarin penjahat yang datang pertama, aku tuh bilang kalau aku sudah merobek mahkota kalian semua, apa mereka tidak menyampaikannya ya?"


Adiba sontak terkekeh. Bisa bisanya Jiwo memakai alibi seperti itu. "Ya mana mungkin mereka akan percaya, Mister. Kita saja menikah belum ada satu bulan, dan aku yakin, mereka juga mencari info dari orang lain."


"Benar juga, tapi apa polisi nggak menangkap Bosnya? Harusnya kan sudah ketangkap?"


"Bisa saja Bosnya udah kabur. Apa lagi mereka tahu anak buahnya ketangkap, Otomatis mereka bakalan langsung mencari tempat persembunyian."


Jiwo nampak manggut manggut. lalu dia melirik jam yang ada disana. "Udah malam, mending kita masuk kamar, yuk."


Adiba mengiyakan. Lantas mereka bangkit dan beranjak menuju kamar Jiwo setelah mematikan beberapa lampu dan mengunci pintu. Begitu masuk ke dalam kamar, Adiba dikejutkan dengan apa yang sedang dilakukan Jiwo hingga matanya membelalak dan hatinya berdebar.


"Mister, kenapa buka baju dan lepas celana?"

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2