
"Masih sakit, Sayang?"
"Udah enggak, Mister. Tapi ini nikmat."
Jiwo tersenyum senang, dia langsung menyerang leher Anisa dengan kecupan bertubi tubi. Sedangkan pinggangnya terus bergerak maju mundur menusuk nusuk lubang nikmat yang baru saja terlepas dari segelnya.
Plok! Plok! Plok!
Ya, malam ini menjadi malam yang panjang kembali untuk Jiwo. Setelah menggoda sang istri beberapa menit lamanya, akhirnya sang istri pasrah saat Jiwo mengajaknya untuk berhubungan suami istri.
Bahagia, tentu saja Jiwo bahagia. Sudah lima istri yang berhasil dia jebol mahkotanya tanpa ada paksaan. Semua terlihat begitu tulus menyerahkan sesuatu yang sangat berharga bagi satu pria yang sangat baik dimata mereka.
"Akh ... akh ... akh ..."
Rintihan kenikmatan saling sahut menyahut menggema di seluruh penjuru kamar. Keringat yang bercucuran semakin menambah semangat keduanya dalam menuju puncak kenikmatan.
Hingga beberapa menit kemudian, akhirnya puncak kenikmatan menghampiri keduanya. Tubuh keduanya saling menegang dan bergetar, disertai erangan nikmat saat benda yang menyatu di bawah perut mereka menyemburkan tetesan hasil percintaan mereka.
Setelah menuntaskan puncak nikmat yang sangat menggelora, dua anak manusia itu terkapar dengan nafas yang sangat menderu namun penuh kebahagiaan. Tanpa diduga dan disangka, sang istri menggeser badannya dan menempelkan dua lubang hidung di bagian tubuh Jiwo yang berbulu dan basah oleh keringat hingga aroma asam yang keluar dari pori pori kulitnya semakin menusuk dan menguat. Jiwo terkekeh melihat tingkah istrinya. Dia tidak menyangka salah satu istrinya menyukai bau asam dari ketiaknya.
__ADS_1
"Tadi ditawarin suruh cium baunya nggak mau, eh, sekarang malah nempel gitu, Dek," cibir Jiwo.
"Hehehe ... sebenarnya dari tadi aku penasaran, Mister, cuma malu aja untuk mengaku," balas Anisa tanpa menatap wajah sang suami karena matanya sibuk mengagumi bulu di ketiak suaminya.
"Emang kamu suka bau ketiak?"
"Ya suka ngebayangin aja sih sebenarnya, pria tampan tuh bau ketiaknya gimana gitu. Ternyata enak juga, baunya segar banget."
"Astaga! Itu sangat kotor loh, Sayang. Kan kamu tahu sendiri aku mandi pagi aja pas mau balik dari belanja."
"Tapi memang baunya enak kok, Mister, sumpah!"
Tanpa menjawab, Anisa bangkit dan duduk diperut suaminya. Jiwo seketika terkejut, tapi dia langsung mengangkat tangan satunya dan menaruh telapak tangannya di kepala belakang sebagai bantal. Anisa terlihat sangat menikmati dua aroma dua ketiak suaminya. Jiwo hanya mengulum senyum dan membiarkan sang istri berbuat semaunya.
Pikiran Jiwo berkelana dan memikirkan istri istrinya. Dia sekarang bisa menyimpulkan kalau setiap wanita memiliki kecenderungan yang berbeda beda. Terutama masalah hubungan ranjang. Dari lima istri yang sudah disentuh, Jiwo dapat merasakan apa saja yang disukai istri istrinya saat sedang melakukan hubungan suami istri. Sekarang tinggal menunggu waktu untuk mengamati ke delapan istri yang lainnya.
Mata Jiwo terpejam, tapi bukan karena tidur, melainkan menikmati setiap gerak gerik tubuh istrinya. Anisa dengan santainya menempelkan lubang nikmatnya di atas pusar Jiwo, belum lagi bukit kembar yang bergelantung. Kadang menyentuh dada bidang Jiwo hingga darah pria itu berdesir.
"Lubang kamu nggak pegal, Sayang?"
__ADS_1
"Agak nyeri, Mister, tapi nggak apa apa kayaknya."
"Coba deketin sini di depan wajah."
Anisa menurutinya. Dia menggeserkan pinggangnya hingga lubang nikmat berbulu lebat terpampang di hadapan wajah Jiwo. Bagai seorang peneliti, Jiwo langsung mengusap dan memijat serta membelah bagian tengahnya untuk melihat dalamnya lubang nikmat berwarna merah muda.
"Kalau disentuh kayak gitu, nanti aku ingin lagi gimana, Mister?" tanya Anisa yang hasratnya mulai berdesir lagi.
"Ya nggak apa apa, kita main lagi," jawab Jiwo santai sambil terus mengorek lubang Anisa hingga sang istri mulai mengeluarkan rintihan nikmatnya.
"Mister ..." panggil Anisa dengan suara berat karena hasrat yang semakin memuncak.
"Apa, Sayang?" balas Jiwo sambil tangannya terus bergerak pelan di bawah perut Anisa, hingga menumbuhkan rasa nikmat yang tiada tara.
"Masukin lagi, ya?"
"Dengan senang hati, Sayang."
...@@@@@...
__ADS_1