MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Jadi Salah Paham


__ADS_3

"Sekarang saya tanya sama Mister, apa arti keberadaan kami dihati Mister sebenarnya? Apa!" ucap Aisyah.


"Apa maksud kamu?"


"Mister nggak perlu pura pura tidak tahu? Jika Mister mendengar semua pembicaraan kami, Mister pasti tahu apa maksud dari pertanyaaku. Tujuh tahun Mister berhubungan dengan wanita itu, berapa kali Mister mengucapkan kata cinta pada wanita itu? Sedangkan pada kami yang sudah sah menjadi istri Mister, Mister tidak pernah mengucap kata cinta sekalipun!" ucapan Aisyah yang penuh penekanan kembali membungkam mulut Jiwo.


"Kami sadar, kita menikah tanpa cinta, semua terjadi karena Mister yang ingin menolong kami. Semua kami yang salah. Seharusnya pagi tadi kami tidak meledek Mister dengan mantan Mister, jadi kami tidak ditinggalkan begitu saja. Maaf, jika kami banyak salah sama Mister. Kami yang terlalu berharap agar bisa dicintai oleh Mister. Maaf," ucap Anisa dengan air mata yang sudah berlinang lalu dia perlahan bangkit dan meninggalkan ruang serba guna. Disusul dengan yang lain mengikuti langkah Anisa.


"Dek, mau kemana? Kita belum selesai bicara! Dek!" seru Jiwo dengan wajah frustasinya.


Andin yang beranjak paling terakhir pun menoleh. "Renungkan dulu apa kata Aisyah, Apa arti kami di hati Mister, dan biarkan kami merenungi kesalahan kami, karena telah lancang mencintai Mister."


Jiwo kembali terdiam dengan tatapan nyalang ke arah istrinya yang memilih masuk ke kamar masing masing. Sungguh Jiwo tidak menyangka kejadian tadi pagi akan menjadi masalah seperti ini. Rasa muaknya kepada Titin, justru malah menumbuhkan rasa kecewa pada istri istrinya. Menyesal, sudah pasti. Tidak seharusnya Jiwo meninggalkan kelima istrinya yang sedang hamil besar dan menganggapnya sepele.


Benar kata mereka, sampai detik ini Jiwo memang belum pernah mengatakan cinta sekalipun kepada mereka. Tapi menurut Jiwo, apa itu penting? Harusnya para istri tahu dan dapat merasakannya dari sikap Jiwo selama ini. Jiwo lupa kalau wanita memang selalu butuh kepastian.


Jiwo membaringkan tubuhnya di kursi yang ada di ruang itu. Matanya terpejam bukan untuk tidur, tapi untuk merenungi apa yang salah pada dirinya. Bahkan rasa lapar yang mendera perut, dia abaikan.

__ADS_1


Namun tak lama kemudian Jiwo merasa ada yang menghampirinya. Dia membuka matanya dan sempat terkejut melihat salah satu istrinya sedang meletakkan nampan berisi makanan dan minuman. Jiwo pun langsung bangkit dan duduk. Jiwo terus menatap wajah Aziza yang sekarang duduk di kursi sebelah dengan pandangan ke arah lain.


"Dek!"


"Makanlah!, Mister dari pagi belum sarapan," ucap Aziza menoleh sejenak ke arah suaminya lalu kembali memandang arah lain. Jiwo hanya bisa menghela nafasnya dalam dalam dan menghembuskannnya secara perlahan. Lalu dia meraih makanan yang ada di hadapannya.


Tidak bisa dipungkiri kalau Jiwo sangat lapar. Makanya dia terlihat lahap menikmati hidangan yang disajikan istrinya hingga habis. Setelah selesai makan, Jiwo pun terdiam sambil sesekali menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Namun lagi lagi dia dikejutkan saat Aziza mendekati dirinya dan membuka baju lalu menyodorkan bukit kembarnya unuk dihisap. Awalnya Jiwo ragu untuk mendekatan mulutnya, tapi Aziza semakin mendekatkan dadanya ke wajah Jiwo, hingga mau tidak mau mulut Jiwo pun meraih salah satu pucuk bukit kembar istrinya.


Aziza menyandarkan tubuhnya dan memejamkan kedua matanya. Membiarkan sang suami menghisap dadanya sampai puas sebagai pengganti rokok. Ada rasa haru pada hati Jiwo. Semarah marahnya para istri, mereka tidak melupakan kewajibannya. Mereka masih mau melayani dengan sepenuh hati.


"Mister mau ngapain?" tanya Aziza yang nampak kaget hingga matanya terbuka.


"Pengin masuk ke sini," balas Jiwo sambil menahan senyum.


"Buat apa? Orang kita lagi marahan?" tolak Aziza.

__ADS_1


"Emang masuk kesini harus nunggu baikan? Nggak juga kan, Dek?"


"Tapi ini siang hari, Mister! Lagi panas udaranya," balas Aziza mencoba mencari alasan.


"Ya nggak apa apa, orang penginnya sekarang. Kamu nggak kasian sama isi celanaku yang sudah sangat tegang," balas Jiwo lalu dia berdiri dan membuka celananya. "Udah tiga hari isi celanaku nggak masuk lubang loh, Dek."


Aziza terdiam sejenak setelah menghembus kasar nafasnya. Biar bagaimanapun dia memang harus melayani suaminya, di tambah lagi, dia juga sangat suka dengan isi celana Jiwo. Lubang Aziza juga sudah satu minggu tidak disentuh oleh suaminya. Sejak istri istri Jiwo banyak yang hamil, Jiwo memang jarang sekali berhubungan ranjang karena menjaga mereka.


"Baiklah, mau main dimana?" tanya Aziza pada akhirnya.


Hati Jiwo pun langsung kegirangan, lalu dia melepas semua pakaiannya. "Main di sini saja."


Aziza hanya mengangguk. Jiwo langsung menggeser meja dan melepaskan segitiga bermuda milik istrinya. Aziza masih bersandar di kursi, tapi kakinya sekarang sudah membentang sempurna. Dengan semangat membara Jiwo perlahan memasukan benda menegang miliknya.


Bles!


"Ahh ..." rintih kenikmatan keluar dari mulut keduanya.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2