
"Kok aneh ya, Mister. Apa beneran, orang itu mau mesum?" ucap Andin.
"Anehnya gimana?"
"Apa mungkin Adiba sebenarnya sudah diikuti sejak menuju toilet? Buktinya tadi Mister cerita, penjaga toilet mengira pria suami Adiba, otomatis pria itu datang bersama Adiba, kan? bukankah itu aneh?"
"Ya mungkin memang Adiba sudah diincar sejak sebelum ke toilet," ucap Alifa.
"Nah, bisa saja Adiba di incar sejak lama, dan kali ini baru ada kesempatan," balas Adiba.
Sementara Jiwo hanya diam mendengarkan kesimpulan istri istrinya. Meski begitu, pikiran Jiwo juga mencerna setiap ucapan yang keluar dari mereka. Ucapan Adiba bisa jadi ada benarnya. Atau mungkin bukan hanya Adiba yang jadi incaran, istri istri yang lain juga.
Pria normal manapun pasti sependapat dengan Jiwo kalau istrinya itu cantik cantik. Secara, mereka memang wanita yang sudah dipilih dan diseleksi oleh oknum yang akan menjual mereka. Dari kecantikan mereka itulah, ada beberapa pria nakal yang memiliki niat buruk kepada mereka.
"Apa mungkin itu bukan bagian dari rencana para penjahat yang ngejar kita?" celetuk Anisa, dan pastinya celetukan itu membuat semuanya kembali berpikir tentang kemungkinan kebenarannya.
"Bukankah mereka sudah ditangani polisi?" ucap Alina seakan membantah pemikiran Anisa.
"Yang ketangkap kan anak buahnya, Bosnya kita nggak tahu," balas Anisa.
"Benar, kemarin pas aku ke penjara juga pria yang kemarin ketangkap juga susah untuk buka mulut, iya kan, Mister?" timpal Aziza, dan Jiwo mengangguk.
__ADS_1
"Wah! Kalau begitu kita memang belum aman," ucap Alana.
Sampai detik ini, Jiwo masih terdiam dan membiarkan istri istrinya berpendapat sesuai pikirannya. Tapi diamnya Jiwo juga sambil mencerna setiap ucapan yang terlontar dari mereka, terutama pemikiran tentang musuh yang kemungkinan masih mengejar istrinya.
"Kalau begitu, sama seperti yang aku katakan pada Adiba tadi di pasar, mulai sekarang kalian kalau mau kemana mana, minimal harus berdua. Nggak boleh sendirian. Di usahakan jangan mencari tempat yang sepi, paham?" Jiwo akhirnya buka suara dan memberi perintah yang langsung di setujui istri istri istrinya.
Siang ini langit sudah kelihatan sangat mendung dan mungkin saja sebentar lagi hujan deras akan turun. Setelah obrolan di teras rumah berakhir, Jiwo dan para istri masuk ke dalam.
"Mister udah makan belum?" tanya Aisyah ketika Jiwo mau masuk ke dalam kamar.
"Belum, ada lauk apa?"
"Ada ayam tinggal goreng sama tumis kacang panjang sisa tadi pagi."
"Baiklah."
Jiwo mengeluarkan selembar uang lima puluh dari dompetnya dan menyerahkan ke Aisyah. "Kalau kalian ada yang ingin pecel, beli aja sekalian."
Aisyah mengangguk lalu dia mengajak salah satu istri yang lain untuk ikut. Tak lupa juga, dia mengambil payung buat jaga jaga pas hujan tiba tiba turun. Aisyah dan yang lainnya memang sudah tahu tempat yang jualan pecel. Tempatnya di dekat balai Rt tak jauh dari rumah Jiwo. Mereka segera berangkat karena takut Jiwo sudah lapar.
Benar saja, tak lama kemudian, hujan turun dengan derasnya. Beruntung Aisyah sudah pulang begitu hujan turun. Salah seorang mengetuk pintu kamar Jiwo. Tapi saat pintu kamar dia buka, ternyata Jiwo sudah terlelap.
__ADS_1
Di tempat lain, tepatnya di kios sembako, sepasang suami istri nampak sedang duduk bersama sambil memandangi hujan deras yang turun. Wajah keduanya terlihat lelah karena seharian toko mereka kedatangan banyak pembeli. Meski mempunyai dua karyawan, sang pemilik juga turun tangan ikut melayani pembeli.
Seperti kebanyakan orang, pasangan suami istri bernama Titin dan Malik juga sebenarnya mempunyai sisi hati yang baik kepada orang lain. Bahkan karyawan yang membantu di toko mereka juga karyawan lama yang memang betah kerja di tempat itu.
Tapi sayang, sifat baik Malik dan Titin tertutup oleh rasa benci yang berlebihan kepada seseorang yang dianggapnya punya salah besar dengan mereka. Rasa benci itu bahkan mendarah daging hingga mereka tidak mau mengakui kesalahan mereka meski orang tua mendiamkannya.
Sampai detik ini, Pak Lurah beserta istri masih mediamkan anak dan menantunya tersebut. Sebenarnya pasangan itu sangat frustasi menghadapi sikap Pak Lurah. Apa lagi Titin yang hanya seorang menantu. Dia menjadi salah tingkah tiap berhadapan sama ibu mertuanya.
"Mas."
"Hum?"
"Kok Ibu sama Bapak kuat ya diemin kita? Apa mereka benar benar sudah nggak mau ngomong sama kita lagi?"
Nggak tahu lah, Tin. Pusing aku kalau mikirin sikap Bapak sama Ibu. Kayak aku bukan anak kandungnya aja, sampe segitunya membela Jiwo."
"Ya sama, aku juga heran."
"Apa perlu Jiwo kita viralkan? Pedagang kolor aja sombong pake nikahin tiga belas cewek."
"Sepertinya itu ide bagus, Mas."
__ADS_1
...@@@@@...