MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Selalu Ada Rasa Iri


__ADS_3

Paginya masih sama seperti dengan pagi yang kemarin. Cerahnya, kehangatannya, kesibukannya. Begitu juga dengan yang terjadi di rumah Jiwo. Wanita wanita disana juga masih melakukan kegiatan yang sama seperti biasanya. Memasak, mencuci pakaian, menyapu, mengepel, adalah tugas rutin yang dilakukan oleh para wanita muda nan cantik yang memiliki suami yang sama. Sedangkan sang suami, seperti biasa, akan bangun sedikit lebih siang di saat semau pekerjaan telah selesai dilakukan.


Seperti saat ini, Jiwo terlihat baru saja membuka matanya, di saat hidangan untuk sarapan telah tersaji rapi di atas meja makan. Dengan gerakan malas dia bangkit dan duduk di tepi kasur. Tangannya menarik sarung untuk menutupi tubuh polosnya. Sekilas matanya menatap bawah perutnya. Bibir Jiwo menyunggingkan senyum melihat rerimbunan di bawah sana telah terpangkas rapi. Dia langsung memakai sarungnya dan segera beranjak keluar kamar.


Bukannya pergi ke kamar mandi, Jiwo malah merebahkan badannya di kursi panjang depan televisi hingga para istri yang sedang santai sontak mengerutkan keningnya.


"Mister kenapa? Sakit?" tanya Arin.


"Enggak, cuma agak lemas aja, badannya pada pegel," keluh Jiwo dengan badan tengkurap. "Pijatin dong? Siapa yang bisa pijat?"


"Aku aja deh," jawab Arum lalu dia bangkit dan menghampiri suaminya. Arum duduk di tepi kursi dimana Jiwo berbaring. "Ini terlalu sempit, Mister? Mending rebahan di bawah aja deh."


Jiwo mengiyakan, lantas dia bangkit dan turun dari kursi lalu langsung merebahkan tubuhnya di karpet tebal yang biasa di gelar di depan televisi. Arum mulai memijat punggung suaminya.


"Bau asem," umpat Arum.


Jiwo tertawa lirih. Matanya terpejam menikmati pijatan istrinya yang menenangkan. Sedangkan istri yang lain hanya menontonnya saja tanpa mau berkomentar.


"Tumben kalian lagi pada diam? Ada masalah?" tanya Jiwo yang merasa suasana menjadi hening sejak dia terbaring disana.

__ADS_1


"Nggak ada, emang kalau diam harus ada masalah gitu?" jawab Aziza sambil melempar pertanyaan kembali.


"Ya nggak juga. Aku heran aja, kalian biasanya jam segini tuh rame, ngobrol nggak jelas pake bahasa negara kalian. Tapi kali ini sepi, nggak ada suara."


"Mister sampai kapan akan libur jualan keliling lagi? Nggak sayang sama pelanggan?" tanya Adiba mengalihkan pembicaraan.


"Ya nanti kalau urusan di rumah selesai. Ini aja aku harus ke kantor polisi, buat mastiin gimana perkembangan kasus kemarin. Kalian nggak mau kan? Masih ada sisa orang orang yang berkeliaran buat ngejar kalian?"


"Iya, Mister," jawab para istri hampir serentak. "Makasih ya, Mister."


"Hmm ..."


Waktu kini telah beranjak siang. Sesuai dengan apa yang telah direncanakan, Jiwo saat ini berada di kantor polisi. Seperti biasa, dia menemui temannya yang memang menjadi polisi dan bertugas disana.


"Gimana, Dik? Orang orang yang kemarin aku laporkan sedang diproses apa?"


"Iya lah, Wo. Udah kasus berat itu. Ya harus ditindak dan di proses secepatnya," jawab Andika. Saat ini keduanya duduk di depan kantor polisi.


"Terus oknum pejabat yang terlibat bagaimana, Dik? Udah di tindak?"

__ADS_1


"Harusnya sih sudah. Ya nanti tunggu kabar aja deh, Wo. Jangan khawatir."


"Baguslah, biar diproses secepatnya agar pada jera."


"Yayaya."


Seperti yang di inginkann Jiwo, beberapa jam kemudian dia mendengar kabar kalau oknum pejabat itu juga sudah di tangkap dengan barang bukti dan saksi yang polisi dapat. Jiwo dan semua pihak terkait yang membantu langsung mengucap syukur. Begitu juga para istri Jiwo, mereka sangat lega dengan kabar tertangkapnya otak dibalik penculikan mereka. Sebagai rasa syukur, Emak dan Jiwo ingin mengadakan acara syukuran di rumahnya nanti.


Berita tentang tertangkapnya oknum yang bergerak dalam bisnis kotor, memang telah menyebar kemana mana dari mulut ke mulut. Berita itu juga telah sampai ke telinga Titin dan suaminya. Apa lagi mereka mendengar langsung dari orang yang hidup satu rumah sama mereka. Bukannya turut senang, sepasang suami istri itu justru menampakan wajah tidak suka.


"Dimana mana ngomongin Jiwo, dimana mana ngomongin Jiwo, menjijikan. Kayak artis aja," umpat Malik.


"Makanya, buruan diviralkan. Biar orang orang tahu siapa itu Jiwo. Kata katanya juga jangan lupa, dengan kata semenarik mungkin agar Jiwo terkesan sangat buruk."


"Iya, iya, aku tahu, kok, tenang aja."


"Baguslah."


Malik lalu mengambil ponselnya dan langsung serius menatap layar ponsel sambil menyeringai.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2