MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Saling Bertanya


__ADS_3

Waktu menunjukan kalau detik ini mulai semakin malam. Di teras salah satu rumah warga, sepasang suami istri yang sedari tadi asyik berbagi cerita, terpaksa menghentikan obrolan mereka karena waktu yang makin menuju malam. Sebelum masuk kamar, sang suami memastikan semua pintu dan jendela terkunci rapat. Sedangkan sang istri memilih menunggu agar bisa masuk kamar bersama.


"Mister?" panggil sang istri pelan. Wajahnya nampak seperti orang bingung saat memanggil sang suami.


"Hum? Ada apa?" tanya sang suami sambil menutup jendela yang kacanya baru terpasang tadi siang saat dia dan istri istrinya pergi ke pantai. Yang memasang kaca adalah tetangga jadi saat pria bernama Jiwo itu ke pantai, dia tenang aja meninggalkan tukang dan hanya di awasi oleh Emak.


"Apa Mister malam ini ingin berhubungan suami istri?" tanya Arin dengan wajah menunduk. Jelas sekali kalau dia sebenarnya malu mengatakan hal itu. Tapi dia ingat dengan musyawarah yang kemarin dia lakukan bersama sang suami dan istri istri yang lain.


Gerakan Jiwo seketika terhenti. Di tatapnya sosok yang sedang menunduk. Senyum Jiwo terkembang. "Kenapa? Kamu sudah pengin?"


Arin terkesiap mendengar pertanyaan suaminya. Dia lantas mendongak dan menatap wajah yang sedang senyum senyum di hadapannya. "Loh, kok malah balik tanya?"


"Kenapa?" tanya Jiwo sambil melangkah mendekat ke arah sang istri lalu menarik tangannya dan mengajak duduk di kursi tamu. "Kalau kamu ingin melakukannya ya ayok, kalau enggak ya nggak apa apa."


Kini sepasang suami istri itu duduk berdampingan di kursi panjang nan empuk yang ada di ruang tamu. Salah satu tangan Jiwo melingkar di pinggang Arin dan wajahnya begitu dekat menatap wajah istrinya.


Pria manapun kalau dikasih pertanyaan oleh seorang wanita tentang berhubungan ranjang, pasti hasratnya langsung bergejolak saat itu juga. Hal itu juga dialami Jiwo saat ini. Apa lagi yang melempar pertanyaan adalah istrinya, sudah pasti pikiran nakalnya langsung melebar kemana mana.

__ADS_1


"Yang pertama kali ngasih pertanyaan kan aku, Mister? Kenapa malah Mister jawabnya begitu?" protes Arin dengan suara pelan. Meski rumah memang terlihat sudah sepi tapi kan dia takut ada yang mendengar obrolan mereka dari dalam kamar.


Jiwo terkekeh gemas melihat ekspresi wajah istrinya. Tangan kanannya mendarat di lutut Arin dan mengusapnya perlahan. "Aku ngomong kayak gitu, kan, biar kamu tahu, Sayang, kalau aku jawab ingin, tapi kamunya lagi nggak pengin, gimana dong? Sama aja bohong, kan?"


Arin jadi salah tingkah sendiri. Bukan karena jawaban yang Jiwo ucapkan, tapi karena tangan Jiwo yang kini sedang mengusap lututnya. Meski hanya sebatas lutut, tapi hal itu cukup membuat desiran dalam hati Arin semakin meningkat. Apa lagi saat ini mereka sambil membahas soal hubungan ranjang, pikiran Arin menjadi semakin tak karuan.


Rasa gugup kini semakin menyelimuti wanita itu. Apa lagi menatap wajah Jiwo yang senyum senyum nakal, membuat hati Arin dilanda resah dan gelisah. Dan Jiwo sepertinya menyadari kegelisahan istrinya. Tapi berhubung jiwa nakalnya yang lebih mendominasi, Jiwo menggunakan kegugupan sang istri untuk terus menggodanya.


"Yang lain udah pada tidur belum yah?" ucap Arin sambil matanya jelalatan. Dia sengaja mengalihkan pembicaraan agar tidak menjurus ke arah sana. Jiwo sontak terkekeh dibuatnya, dan justru pertanyan yang terlontar dari mulut Arin bisa digunakan untuk menggoda sang istri.


"Kalau sudah tidur kenapa? Kalau belum tidur, kenapa juga?" tanya Jiwo sambil cengengesan. Dia bahkan secara perlahan mencondongkan badannya hingga mau tidak mau tubuh Arin terdorong dan terbaring diatas kursi panjang. Kini posisinya Arin berada di bawah kungkungan Jiwo.


"Pengin rebahan saja disini," balas Jiwo santai sambl memiringkan tubuhnya menghadap Arin tapi tangannya kini berada di paha Arin dan terus mengusapnya.


"Kenapa rebahan disini? Mending di kamar saja biar langsung tidur?" usul Arin mencoba tenang. Padahal hatinya gelisah karena telapak tangan Jiwo yang mengusap paha bawahnya.


"Tapi aku belum pengin tidur, Sayang."

__ADS_1


"Terus penginnya apa? Mister kan besok mau pergi jauh?"


"Penginnya nidurin kamu."


Arin semakin terkejut. "Nidurin aku?"


Jiwo mengangguk. "Itu jawaban atas pertanyaanmu tadi. Gimana? Kamu mau?"


Arin menatap lekat wajah suaminya. Hatinya saat ini bertempur antara ingin menolak dan menerima. Sedangkan Jiwo tanpa pikir panjang langsung menyerang bibir sang istri yang terdiam.


Mata Arin membelalak, tapi tak lama kemudian dia merasakan nikmat untuk pertama kalinya, saat bibir Jiwo bergerak menikmati bibirnya.


"Mister," panggil Arin saat Jiwo melepas bibirnya dan mereka saling tatap dengan tatapan penuh hasrat.


"Kenapa, Sayang?" tanya Jiwo lembut.


"Apa kita akan melakukannya disini?"

__ADS_1


Jiwo sontak mengulas senyum penuh arti.


...@@@@@...


__ADS_2