MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Tidak Enak Badan


__ADS_3

Kini semuanya kembali berjalan normal seperti biasanya. Jiwo sudah tidak terlalu khawatir lagi melepas istri istrinya untuk berangkat ke pasar tanpa pengawasannya. Bagi Jiwo yang penting mereka bisa jaga diri dan tahu apa yang harus dilakukan jika sekiranya ada bahaya mengancam.


Jiwo pun sudah mulai merencanakan untuk jualan keliling kembali. Mengingat dia sudah libur terlalu lama dan urusan juga sudah selesai, kini sudah saatnya dia kembali mengumpulkan pundi pundi uang karena tabungannya telah berkurang cukup banyak.


Malam ini, acara syukuran di rumah Jiwo baru saja selesai. Semua berjalan lancar dan banyak warga yang ikut senang dengan selesainya masalah yang menimpa Jiwo dan keluarganya. Kini Jiwo dan beberapa tetangga sedang menikmati hidangan sambil bercengkrama.


"Setelah semuanya teratasi, apa yang akan kamu lakukan, Wo?" tanya sang paman.


"Ya nggak ada rencana khusus, Paman. Paling ya jualan seperti biasanya."


"Tapi kok kasusmu nggak masuk berita televisi ya, Wo? Padahal kalau masuk, kamu bisa tenar," ucap salah seorang warga.


"Nggak mau tenar lah, Mas Prayit. Takutnya makin banyak yang mau jadi istriku nanti," canda Jiwo dan semuanya nampak terbahak.


"Heleh, gayamu, Wo. Tapi kamu hebat sih, Wo. Sebagai tetangga, aku nggak pernah dengar keributan antar istri kamu. Pakai pelet apa, Wo? Kok semua istrimu nurut banget gitu loh?"


"Nggak pakai pelet juga mereka sudah pada nurut, Mas. Pesonaku kan luar biasa."


"Hahaha ... bisa aja kamu, Wo."


Dan obrolan mereka baru berakhir saat jam di dinding telah menunjukkan waktu yang semakin malam. Satu persatu para tetangga pamit hingga akhirnya rumah kembali terisi oleh orang orang yang tinggal di situ saja.


Di saat para istri sibuk membereskan semua semuanya, Jiwo dan Emak memilih duduk di ruang tengah. Emak dan Jiwo juga terlihat sedang bercakap cakap. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, yang pasti keduanya nampak nyambung.


"Nih, Mister, jamunya di minum dulu," ucap Aziza sambil menyodorkan segelas jamu penambah stamina yang Jiwo pesan.

__ADS_1


"Makasih ya, Dek," jawab Jiwo sambil menerima jamu yang masih hangat, lalu Jiwo langsung meminumnya sampai habis.


"Kamu sakit, Wo?" tanya Emak yang merasa heran melihat Jiwo minum jamu.


"Tadi pagi bangun tidur badan kayak pada pegel banget, Mak. Makanya minta dibikinin jamu," jawab Jiwo setelah menghabiskan jamu.


Emak pun ber-oh saja sambil manggut manggut. Satu persatu istri Jiwo pun ikut duduk. Lampu ruang tamu sudah dimatikan karena sudah malam.


"Mister, apa aku boleh jualan makanan?" tanya Aisyah disela sela obrolan mereka.


"Jualan makanan? Makanan gimana maksudnya?" tanya Jiwo dengan kening berkerut.


"Maksudnya aku buat jajanan di rumah terus nanti jualannya aku keliling pasar gitu? gimana?"


"Jajanan? Emang kamu bisa membuat jajanan?"


"Sekarang kan jaman canggih, Mister. Di ponsel semua ada contohnya," sela Alina.


Jiwo nampak mengangguk beberapa kali sebagai tanda kalau dia membenarkan ucapan Alina. "Ya udah, butuh modal berapa?"


"Untuk percobaan, modal lima puluh ribu kayaknya cukup. Nanti hasilnya kita makan bareng dan suruh beberapa tetangga buat ikut mencoba. Kalau layak jual ya, ya baru aku jual."


"Ya udah, besok aku kasih. Tapi inget, kalau jualan nggak boleh sendirian. Terus di rumah harus tetap ada orang. Untuk jadwal, aku serahkan sama kalian bagaimana enaknya."


"Baik, Mister."

__ADS_1


"Udah malam, mending kita pada tidur," titah Jiwo mengakhiri obrolan keluarga di malam hari ini. Dia terlebih dahulu masuk ke dalam kamarnya. Beberapa saat kemudian, Aluna juga masuk ke kamar yang sama dengan suaminya.


"Semuanya sudah masuk kamar?" tanya Jiwo yang sudah berbaring sambil bertelanjang dada.


"Udah," jawab Aluna. "Mister malam ini sedang ingin berhubungan nggak?"


"Kenapa?" bukannya menjawab, Jiwo malah bertanya balik.


"Ya kalau lagi pengin, aku bisa tukeran sama yang lain. Aku sedang datang bulan soalnya, udah tiga hari ini."


"Oh, nggak, libur aja dulu lah, Dek. Kagian kamu kan tahu, aku lagi nggak enak badan, Dek."


"Beneran?"


"Iya, Sayang."


"Ya udah," ucap Aluna lalu dia naik ke kasur dan berbaring sambil merapatkan tubuhnya memeluk suaminya.


"Dek, tidurnya sambil megangin isi sarungku dong, biar makin nyenyak tidurnya," titah Jiwo dengan senyum tipisnya. Aluna mendengus tapi dia tidak menolak. Tangan kanannya bergerak masuk ke dalam sarung sang suami dan menggenggam benda yang hampir menegang tersebut.


Suasana menjadi hening. Mereka berdua juga telah kehabisan topik pembicaraan dan merasa lelah. Hingga tak lama kemudian, Jiwo dan Aluna harus menyerah kepada rasa kantuk yang menyerangnya.


...@@@@@@...


Hy reader, othor menyapa. Nikmati karya baruku juga yuk. NEGERI SEJUTA PERAWAN. masih hangat, baru terbit. Monggo mampir, dan jangan lupa dukungannya ya? makasih.

__ADS_1



__ADS_2