MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Sikap Para Istri


__ADS_3

"Gimana, Mas? Dapat fotonya?"


"Dapat dong, Sekarang tinggal bikin akun baru buat viralin manusia belagu macam dia."


Sepasang suami istri tersenyum lebar seperti akan memenangkan sesuatu. Mereka benar benar selalu ingin mengusik ketenangan Jiwo.


Sementara itu dari dalam pasar, istri istri Jiwo sudah selesai membereskan barang dagangannya. Kini waktunya mereka pulang karena semua sudah beres. Emak dan istri Jiwo yang lain juga sudah berada disana. Berhubung barang dagangan Emak sudah habis jadi sekalian saja Emak ikut pulang.


Tapi entah kenapa, Jiwo merasa ada yang berbeda dengan istri istrinya. Dari sejak mereka menutup lapak hingga mereka sampai rumah, Jiwo merasa dicuekin oleh para istri. Wajah mereka juga menunjukkan sikap ketus, bukan sikap hangat dan ceria seperti biasanya.


Jiwo ingin bertanya, tapi dia urungkan niatnya karena dia akan mengembalikan mobil yang dia pinjam. Jiwo yang tadi sempat turun sebentar, langsung saja kembali naik dan melajukan mobil ke arah rumah pemiliknya.


Toni adalah pemilik usaha rental mobil. Ada bebebarapa koleksi mobil yang dia sediakan termasuk mobil pick up yang sering Jiwo sewa. Di kampung, mobil pick up memang sering dibutuhkan. Daya tampungnya yang bisa memuat banyak barang menjadi pilihan warga kampung untuk menyewanya daripada mobil pribadi.


"Kok cepet, Wo?" tanya Toni setelah menerima kunci mobil dari tangan Jiwo.


"Iya lah, Mas. Orang ngerjainnya rame rame jadi cepet selesai," balas Jiwo setelah duduk dibangku panjang. Matanya memandang Toni yang sedang merawat koleksi burungnya. Selain usaha rental, Toni juga mengoleksi beberapa jenis burung untuk diperjual belikan.


"Oh iya yah, istrimu banyak jadi cepat selesai ya, Wo?" ucap Toni sambil terkekeh menyadari kelebihan tetangganya yang satu itu.


Jiwo pun ikut tersenyum lebar. "Ya begitulah, Mas."

__ADS_1


"Beruntungnya kamu, Wo, punya istri banyak, akur, terus cantik cantik. Coba aku jadi kamu, Wo. Tiap hari aku kayaknya nggak akan pernah sempat memakai celana, penginnya di kamar terus."


"Hahaha ... mas Toni bisa aja. Emangnya kita nggak butuh makan, Mas?"


Toni ikut terbahak. Pria beranak dua itu beranjak dan duduk di bangku yang sama dengan Jiwo. "Tapi beruntung sih, Wo. Kamu nggak jadi menantunya Bu Darmi. Bisa bisa kamu dibuat malu sama tingkahnya."


Jiwo tersenyum masam. Apa yang diucapkan Toni memang ada benarnya. Bahkan tidak jadi menantunya pun Jiwo sering dipermalukan. "Iya, Mas, beruntung aku nggak jodoh sama anaknya."


"Itulah manusia, Wo, kita nggak tahu masa depan kita bagaimana. Kamu dulu mati matian mempertahankan Titin sampai kayak nggak punya harga diri, tapi lihat, kamu malah berjodoh sama tiga belas wanita sekaligus."


Jiwo kembali tersenyum tipis dan mengiyakan ucapan Toni. Setelah merasa cukup ngobrolnya, Jiwo lantas pamit dan dia berjalan kaki menuju rumahnya.


Saat Jiwo hampir masuk ke dalam kamar, Jiwo dikejutkan dengan suara, "Mister nggak makan dulu?"


Jiwo lantas menoleh dan ada Anum yang melangkah dari arah dapur. "Ada lauk apa?"


"Ada urap, tempe goreng sama bandeng presto. Sama kayak yang buat sarapan tadi," jawab Anum ketus.


Jiwo lantas mengurungkan niatnya masuk kamar dan beranjak menuju meja makan. Anum pun melayani suaminya dengan baik. Meski Jiwo merasa sikap istrinya berbeda, tapi dia mencoba bersikap biasa saja. Jiwo makan dengan lahapnya, tapi Anum hanya mgemi rempeyek kacang yang ada di toples plastik.


"Kamu nggak makan, Sayang?" tanya Jiwo disela sela menikmati makan siang.

__ADS_1


"Nggak," jawab Anum singkat dengan nada seperti orang kesal.


"Kenapa? Apa udah makan?" tanya Jiwo masih bersikap santai dan lembut


"Udah tadi di pasar," jawab Anum masih dengan wajah ketusnya.


Kening Jiwo mengernyit. Dia menoleh lalu berkata, "Perasaan tadi di pasar kalian nggak makan apa apa?" ucap Jiwo, kemudian dia melanjutkan memasukan makanan ke dalam mulut.


"Kami kenyang karena melihat suami kami asyik senyum senyum dengan wanita lain sedangkan kami malah disuruh kerja membereskan dagangan."


Uhuk, uhuk, uhuk.


Jiwo sontak tersedak mendengar ucapan Anum. Di saat bersamaan Para istri yang lain pada keluar kamar. Jiwo meneguk setengah gelas air putih. Dia kaget dengan ucapan Anum yang terdengar seperi sindiran.


"Senyum senyum dengan wanita lain? Kapan?" tanya Jiwo sambil mencoba mengingat kejadian di pasar tadi.


"Pake pura pura nggak ingat segala, padahal duduknya berdampingan hampir nempel," cibir Anum. Jiwo terus berpikir berpikir hingga dia mengingat saat dia ngobrol sama Vita, istrinya Fadil. Seketika Jiwo terbahak.


"Jadi kalian cemburu? Hahaha ..."


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2