MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Di Saat Ada Bahaya


__ADS_3

"Hallo."


"Ini sebentar lagi sampe rumah, kenapa?"


"Iya lihat."


"Apa!"


"Yang bener?"


"Oke, oke, oke!"


"Baik, baik."


Klik.


Pembicaraan singkat dalam telfon pun berakhir. Wajah Andin langsung menegang begitu mendengar kabar dari istri Jiwo yang lain tentang apa yang baru mereka lihat. Andin langsung menghentikan langkah Emak, Arum dan Alena.


"Mak, sebaiknya kita jangan pulang dulu," ucap Andin tiba tiba dan hal itu sontak membuat tiga orang di hadapannya terkejut.


"Ada apa? Kenapa kita nggak pulang dulu?" tanya Alena dengan kening berkerut.


"Nanti aku ceritakan, kita ke warung yang ada di sana, ayo!" paksa Andin sambil menggenggam tangan Emak dan sedikit menariknya. Mau tidak mau Emak dan dua istri Jiwo yang lain mengikuti langkah Andin yang tergesa gesa dengan penuh tanda tanya.


Sementara itu, dari dalam mobil yang berhenti di sebelah tanah kosong yang menghadap arah berlawanan, tiga orang yang berada di dalamnya nampak terkejut saat target yang mereka cari malah berbalik badan dan kembali melangkah ke arah lain.

__ADS_1


"Loh, itu kenapa mereka balik lagi?" tanya Burhan.


"Mungkin ada yang ketinggalan. Sabar aja," balas Jarwo tanpa menaruh curiga apapun.


"Benar. Lagian, kampung kok siang siang begini sepi banget. Kayak ngasih jalan mudah buat kita bergerak," sambung Hadi.


"Ya wajar sepi. Orang kampung juga punya pekerjaan kali," balas Jarwo. Hadi hanya terkekeh menyadari pemikiran bodohnya.


Sedangkan Emak dan tiga menantunya kini sudah berada di warung dekat pertigaan. Mereka numpang istirahat di bangku panjang yang ada di sana. Pemilik warung nampak terkejut saat melihat Emak mendatanginya karena dia tadi sempat melihat Emak berjalan menuju rumahnya tapi malah balik lagi dan duduk di depan warung miliknya.


"Ada apa, Mak? Kok Balik lagi?" tanya si pemilik warung.


"Nggak tahu ini, Da. Mantu tiba tiba nyuruh kita balik lagi setelah menerima telfon," balas Emak.


Andin yang ditatap tiga orang yang menatap penuh tanda tanya, langsung menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Meski menjelaskannya menggunakan bahasa negara indonesia dengan terbata bata dan kurang lancar dan di ulang ulang, tapi penjelasan Andin cukup bisa di mengerti dan hal itu membuat Emak, Alena dan Arum serta pemilik warung yang juga ikut mendengarnya kaget.


"Coba deh kamu berdiri di sebelah sana, pasti mobilnya masih ada," tunjuk Andin ke arah ujung pertigaan persis. Semua spontan saja langsung melangkah ke arah sebelah warung yang letaknya persis di ujung pertigaan dan lurus ke arah rumah rumah Jiwo.


"Ah, benar! Ada mobil disana!" seru Alena.


"Apa orang itu yang meculik istri istri Jiwo, Mak?" tanya si pemilik warung yang ikut melihat juga.


"Kayaknya iya, Da. Aduh, gimana ini? Mana Jiwo nggak ada di rumah," balas Emak langsung panik.


"Loh, Jiwonya dimana?" tanya pemilik warung lagi.

__ADS_1


"Belanja barang dagangan," balas Emak.


"Udah, Mak, jangan panik, kita duduk dulu sambil nyari jalan keluar," usul Arum.


Kelima wanita itu kembali duduk di bangku panjang termasuk Ida, si pemilik warung. Sebelum mencari jalan keluar, Emak mengambil ponsel dan memberikan ke Alena agar yang di rumah hati hati. Alena langsung melaksanakan perintah mertuanya.


"Kita harus bagaimana?" tanya Emak dengan wajah bingung. Semua memang sedang berpikir mencari jalan keluar.


"Aku tahu," ucap Andin dengan mata yang berbinar hingga semua mata yang ada di sana langsung menatapnya.


"Bagaimana?" tanya Arum penasaran.


"Begini ..." balas Andin yang langsung menuangkan idenya untuk menghadapi orang yang dicurigai. Semua telinga serius mendengarkan penjelasan Andin. Setelah penjelasan selesai, tanpa berpikir panjang lagi semuanya langsung setuju dan bergerak cepat melaksanakan rencana Andin.


Sementara itu di dalam rumah Jiwo, kepanikan masih melanda para istri lainnya. Tapi saat ini mereka memang tidak bisa berbuat apa apa selain bersembunyi.


"Apa kita sebaiknya menghubungi Mister saja?" usul Anum.


"Jangan!" tolak Aisyah. "Mister sedang dalam perjalanan yang jauh. Nanti kalau dia panik dan terjadi apa apa gimana?"


"Tapi sekarang kita harus bagaimana?" cicit Anum lagi.


"Ya kita tunggu aja kabar dari Emak dan yang lainnya," balas Aisyah lagi dan semuanya pun terdiam dan pasrah dengan keadaan.


Di tempat lain, tepatnya di dalam mobil yang terparkir tak jauh dari rumah Jiwo, Burhan, Hadi dan Jarwo sedang membicarakan sesuatu sampai terbahak bahak. Entah apa yang sedang mereka bicarakan yang pasti suara tawa mereka pecah dan memenuhi ruangan mobil. Namun suara tawa mereka meredup dan berubah menjadi wajah terkejut saat mata ketiganya melihat hal yang tidak terduga dari ujung jalan yang lurus dengan tempat mereka berada.

__ADS_1


"Mereka siapa? Kenapa semuanya bergerak ke arah sini?"


...@@@@@@...


__ADS_2