MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Baru Tenang sesaat


__ADS_3

"Ini dasternya berapa, Mbak?"


"Yang ini lima puluh ribu, kalau di sebelahnya empat puluh ribu saja."


"Beneran, Mbak?"


"Iya, Bu."


"Wah! Bahannya adem lagi ini. Ya udah aku ambil dua yang lima puluh ribu, Mbak."


"Baik, Bu. Sebentar ya?"


Arin langsung mengemas dua daster pilihan pembeli dan segera menyerahkannya setelah selesai. "Terima kasih, Bu."


Setelah pembeli yang tadi pergi, Arin langsung melayani pembeli lainnya. Bukan hanya Arin yang terlihat sedang sibuk, Adiba juga terlihat sedang melayani pembeli juga. Rata rata pembeli pada kaget saat tanya harga. Mungkin karena harganya murah jadi jarang banget ada pembeli yang menawar.


Untuk istri istri Jiwo yang sedang di rumah, mereka juga sedang sibuk praktek membuat jajanan. Seperti yang direncanakan Aisyah, dia hari ini mencoba membuat makanan yang bisa dijual dengan cara berkeliling. Aisyah mendapat ide seperti itu karena melihat para pedagang lain saat dia ikut jualan Emak.


Beruntung Jiwo memberi uang lebih, jadi Aisyah dan yang lain bisa praktek membuat beberapa jenis makanan langsung. Aisyah yang senang sekali dengan urusan masak memasak atau membuat makanan, nampak bersemangat diberi kesempatan untuk mengembangkan bakatnya. Sebenarnya bukan hanya Aisyah yang jago di bidang kuliner. Ada Alena, Aziza dan Anum, cuma Aisyah yang paling menonjol dalam bidang itu.


Jiwo juga sudah mulai keliling lagi. Ditemani oleh salah satu istrinya, Jiwo berkeliling tak jauh dari jarak kampungnya. Kini barang dagangan Jiwo sedang dikerubuti beberapa Ibu dan Bapak. Beberapa diantara para pembeli, katanya ada yang sudah menunggu kedatangan Jiwo cukup lama. Andin yang menemani Jiwo jualan, ikut memberi pelayanan dengan baik.


"Mas Jiwo, gimana perkembangan kasus Mas Jiwo kemarin? Tuntas?" tanya salah satu ibu sambil mengacak acak celana kolor satu persatu.

__ADS_1


"Emang beritanya nyampe sini, Bu?" bukannya menjawab, Jiwo malah bertanya balik dengan wajah terkejutnya.


"Ya nyampe lah, Mas. Orang deket juga," jawab ibu yang tadi.


"Tapi beruntung ya, Mas. Istri Mas Jiwo masih bisa diselamatkan. Nggak habis pikir sama orang orang seperti itu, kok ya tega banget, orang susah malah tambah dibikin susah," sambung Ibu yang lain.


"Mas Jiwo, nggak pengin berbagi?" celetuk seorang pria yang juga sedang sibuk mencari kolor yang cocok.


"Berbagi apa, Mas?"


"Berbagi istri, aku belum nikah loh. Kali aja Mas Jiwo mau amalin salah satu istrinya," ucap si pria sambil cengengesan.


"Hahaha ... nggak mau, Mas. Susah nyari yang kayak mereka."


"Kita cari makan dulu ya, Dek?" ucap Jiwo ketika barang dagangan sudah mulai rapi.


"Mau makan apa, Mister?"


"Nasi aja, nanti cari warung makan."


Andin mengangguk. "Mending besok kalau mau jualan, bawa bekal, Mister. Di rumah juga masaknya banyak. Sayang aja kalau nggak ada yang makan."


"Kenapa nggak ngasih saran kayak gitu sejak dulu?"

__ADS_1


"Baru kepikiran, hehehe ..."


"Hmm ... dah, yuk, naik."


Hingga tanpa terasa, waktu sudah menunjukan hampir sore. Jiwo segera meluncur ke arah jalan pulang setelah menyambangi desa yang ke empat. Karena jarak yang tidak terlalu jauah, Jiwo akhirnya sampai juga di rumahnya. Para istri langsung menyambut kedatangan Jiwo dengan mempersiapkan diri membereskan barang dagangannya.


Di saat itu juga, Anum dan Alifa juga baru saja langkah kakinya sampai di halaman rumah begitu Jiwo dan Andin turun dari motornya. Anum dan Alifa baru pulang dari pasar, menggantikan Arin dan Adiba. Mereka berangkat ke lapak jam dua belas siang tadi dan pukul empat sore, waktunya mereka pulang.


"Kalian baru pulang?" tanya Andin sambil melangkah menghampiri Anum dan Alifa.


"Iya, nih," balas Anum. "Rame nggak kelilingnya?"


"Ya alhamdulillah, rame. Banyak yang nungguin malah," jawab Andin. "Yang di lapak sendiri gimana?"


"Ya lumayan, tapi kata Adiba, tadi pagi rame banget," jawab Alifa.


"Ya syukurlah, ada kemajuan."


Dan mereka pun saling melempar senyum. Sedangkan Jiwo melangkah begitu saja menuju kamarnya setelah menyapa para istrinya. Seperti biasa, sambil beristirahat, Jiwo menghitung pemasukan hari ini. Saat sedang fokus menghitung, ponsel Jiwo berbunyi, pertanda ada pesan masuk. Mata Jiwo seketika membelalak begitu membaca pesan disertai foto dari orang yang dia kenal.


"Apa apaan ini? Kurang ajar!" umpat Jiwo tiba tiba dipenuhi amarah.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2