MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Isi Hati Para Istri


__ADS_3

"Maka itu,Dek, aku bertanya seperti itu,hanya ingin memastikan apa yang akan kalian pilih. Setidaknya ada persiapan jika kalian memilih untuk pulang."


Para istri Jiwo terdiam sembari mencerna ucapan suaminya. Ucapan Jiwo ada benarnya juga, semua memang harus dipersiapkan termasuk lahir dan batin mereka saat ada pilihan yang sulit.


"Jujur sih, Mister, ini pilihan yang amat sulit. Kalau aku pribadi, aku sudah mulai nyaman hidup bersama Mister, emak dan kehidupan disini. Aku juga nggak tahu, apakah setelah pulang nanti, aku dapat merasakan kenyamanan seperti ini?" ucap Anisa dengan menatap lekat ke arah suaminya.


"Benar apa yang dikatakan Anisa, meskipun aku sama Mister baru sebulan bersama, aku juga nyaman hidup disini. Mister memang bukan orang kaya, tapi sikap Mister ke aku dan yang lainnya membuat aku merasa menjadi orang kaya. Aku disini tidak kekurangan kasih sayang, disini lebih banyak tersenyum dan disini juga, aku belajar agar tidak egois dan iri satu sama yang lainnya," timpal Aisyah.


"Aku juga merasakan hal yang sama seperti yang kalian rasakan," kini giliran Aziza yang bersuara. "Meski kedekatan aku sama Mister bisa dikatakan baru satu bulan, disini aku merasa terlindungi. Mungkin diantara kita yang hidupnya tidak mempunyai sosok lelaki di rumahnya, akan merasakan hal yang sama seperti aku. Di sini aku menemukan sesuatu yang tidak pernah aku temukan saat di negara kita, terutama di tempat tinggalku."


Dan dari pembahasan tersebut, satu persatu istri Jiwo mengungkapkan isi hatinya yang entah sejak kapan mereka simpan. Hampir semua istri Jiwo merasa nyaman selama berada di sini. Tentu saja rasa nyaman itu membuat mereka terlihat enggan memilih dua pilihan yang diajukan suami mereka.


Sebelum bersuara, Jiwo hanya mampu mengembangkan senyum terbaiknya. Dia mendengar satu persatu suara hati sang istri dengan baik dan berusaha untuk mencernanya dan mengambil kesimpulan.


Tidak dapat dipungkiri, Jiwo sendiri juga merasa nyaman dengan adanya mereka. Bahkan sampai detik ini, Jiwo merasa beruntung karena semua yang biasa dia lakukann sendiri, kali ini semuanya dilakukan oleh para istri. Wajar saja, jika Jiwo tidak siap kehilangan semua istrinya.

__ADS_1


"Berhubung tidak ada jawaban yang pasti, ya sudah aku anggap pembicaraan kita ini selesai, oke? Untuk keputusan nanti kalian mau pulang atau tetap bertahan disini, kita tunggu saja kabar dari kedutaan negara asal kalian. Kira kira tindakan apa yang akan mereka lakukan nanti," ucap Jiwo mengakhiri pembahasan yang jika diteruskan, bisa saja tidak ada ujungnya sampai nanti.


"Mister mandi dulu atau gimana?" tanya Alifa dan dijawab dengan senyuman lebar oleh Jiwo bertanda dia enggan untuk mandi.


"Astaga! Ditanya malah tertawa," ujar Andin.


"Itu tuh tanda kalau Mister enggan mandi, Andin! Masa gitu aja kamu nggak peka sih?" oceh Alifa.


"Ya ampun, Mister! Sore ini nggak hujan loh. Masa nggak mau mandi? Jorok banget ih," Andin ngedumel.


"Penginnya tuh aku mandi barang kalian. Masa punya istri tapi nggak pernah mandi bareng?" balas Jiwo beralasan.


"Tapi kan aku kepengin," balas Jiwo dengan tingkah sedikit merajuk. Dia bahkan kembali berbaring dan membenamkan kepalanya di pangkuan Anum yang sedari tadi duduk disebelahnya setelah selesai memijat.


"Astaga! Kenapa jadi kayak kecil sih?" ucap Arin gemas. "Nanti kalau Mister sudah sukses jadi artis, bangun kamar mandi yang sangat luas biar kita semua bisa mandi bareng."

__ADS_1


Bukannya senang, Jiwo malah mendengus mendengar ucapan istrinya. Sedangkan istri yang lain terkekeh melihat tingkah sang suami yang menggemaskan. Akhirnya para istri mengalah dan membiarkan sang suami untuk tidak mandi.


Waktu terus bergerak maju, obrolan keluarga yang seakan tidak ada habisnya, membuat waktu terasa sudah beranjak malam. Seperti biasa, tidak ada kegiatan khusus yang mereka lakukan di malam ini. Makan makan, ngobrol, cuma itu saja yang mereka lakukan hingga menjelang waktu tidur.


Dan sekarang, semuanya penghuni rumah tersebut sudah masuk ke dalam kamar guna mengistirahatkan tubuh mereka agar esok hari mereka memiliki tenaga cukup untuk mengerjakan sesuatu yang tidak terduga.


"Katanya jijik, nggak mandi, bau, eh tahunya malah tidak mau berhenti ciumin bau ketiak aku, Dek," sindir Jiwo kepada Arin yang sedang sibuk menghirup aroma bulu ketiak suaminya.


"Ya salah sendiri, coba tadi Mister mandi. Nggak mungkin dong aku nempel kayak gini," balas Arin tak mau kalah.


Jiwo hanya bisa mendengus sambil ngedumel, "dasar wanita, nggak mau kalah dari laki laki."


Dan Arin tidak peduli. Hidungnya terus menghirup ketiak berbulu milik suaminya.


"Aaakhhhh ... segarnya."

__ADS_1


"Edan!"


...@@@@@...


__ADS_2