
Di sebuah pusat kebugaran, Jiwo terlihat sedang berganti pakaian yang biasa dia kenakan saat ingin berolahraga. sepatu, celana kolor selutut dan kaos tanpa lengan adalah pakaian wajib yang dia pakai saat ingin melakukan pembentukan badannya agar lebih sehat dan bagus. Sejak menikah, ini pertama kalinya Jiwo kembali melakukan rutinitas tersebut.
Dulu sebelum menikah, Jiwo selalu rutin mendatangi tempat itu sekali dalam seminggu setiap libur berjualan. Tujuan Jiwo saat itu hanya ingin olah raga saja demi menjaga kesehatan. Bukan untuk menarik perhatian kaum wanita. Apa lagi dulu Jiwo sangat tertutup perasaannya kalau sudah menyangkut tentang wanita.
Tapi kini, dia melakukan olah raga malah demi menyenangkan hati wanita. Siapa lagi kalau bukan istri istrinya. Dia berkali kali mendapat pujian saat para istri melihat tubuhnya yang altletis. Ada kebanggaan tersendiri saat melihat tatapan para istri terlihat begitu berhasrat saat menatap tubuh Jiwo.
Begitu selesai berganti pakaian, Jiwo keluar dari ruangan ganti dan langsung melakukan gerakan peregangan dan pemanasan sebelum melakukan olah raga inti agar ototnya tidak cedera. Saat Jiwo sedang asyik memulai olah raganya, dia menyadari ada orang yang sedang menatapnya. Namun Jiwo bersikap masa bodo dan dia hanya ingin fokus olah raga saja.
Setelah merasa cukup melakukan pemanasan, Jiwo mengawali olahraga inti dengan memakai alat treadmill. Dia ingin mengolah tubuh bagian kaki terlebih dahulu. Saat Jiwo sedang asyik menikmati olahraganya, orang yang sedari tadi memperhatikan Jiwo malah mendekatinya dan melakukan olah raga yang sama.
"Sendirian aja, Mas?" tanya orang itu setelah beberapa saat terdiam sambil curi curi pandang. Orang berjenis wanita itu bertanya sambil memasang senyum terbaiknya.
"Iya," jawab Jiwo singkat dan tenang. Dia hanya menoleh sekilas lalu kembali menghadap depan.
"Istrinya nggak ikut?" tanya wanita itu lagi.
"Nggak," lagi lagi Jiwo menjawab pendek.
"Kenapa nggak ikut?" Wanita itu masih terus mencoba mencairkan suasana, tapi Jiwo hanya menoleh tanpa memberi jawaban lalu kembali menghadap depan. Dalam hati wanita itu mengumpat kesal karena pertanyaannya tidak dijawab.
__ADS_1
Jiwo terus menggerakan kakinya meski dia tahu ada wanita yang sedang diam diam memperhatikannya. Jiwo tidak peduli, dia bahkan menambahkan gerak alat jalannya hingga dia bisa berlari kecil. Tapi nampaknya wanita disebelahnya tak pantang menyerah. Dia pun ikut menambah laju alat yang sama persis digunakan oleh Jiwo.
Namun nampaknya wanita itu punya ide nakal, dengan sengaja dia memencet tombol pengaturan dan menekan penamnah laju makin banyak kencang hingga dia terjatuh.
"Aduh! Akh!" pekiknya.
Sontak saja Jiwo langsung menoleh dan terkejut dengan apa yang terjadi dengan wanita itu. Jiwo lantas langsung menghentikan kegiatannya. Jiwo ingin menolong tapi dia kalah cepat dengan orang orang yang ada di sana, termasuk. Bayu, si penjaga tempat itu.
"Mbak nggak apa apa?" tanya salah seorang pria yang berjongkok dihadapannya.
"Nggak apa apa, nggak terlalu keras kok," jawabnya sambil meringis, tapi tatapannya sesekali melirik ke arah Jiwo.
"Nggak usah nggak apa apa. Ini aja udah mau mulai lagi, udah baikan," kilahnya.
"Oh ya udah," jawab beberapa pria dan wanita yang ada disana lalu mereka membubarkan diri. Tinggalah wanita itu dan Jiwo yang hendak kembali melakukan olahraga yang sama. Namun saat Jiwo sedang bersiap siap, wanita itu kembali ambruk sambil menarik tangan Jiwo. Sontak saja Jiwo langsung oleng.
"Loh kenapa, Mbak?" tanya Jiwo yang sempat terkejut karena hampir saja dia terjatuh saat tangannya ditarik wanita itu.
"Nggak tahu, Mas. Kayaknya kaki aku terkilir," jawab wanita itu sambil pura pura meringis.
__ADS_1
"Ya udah, nanti aku tanya Bayu buat bantuin kamu, Mbak."
"Nggak usah, Mas. Aku ada krimnya kok di ruang ganti. Apa kamu mau mengambilkannya untukku?" cicit wanita itu sambil terus mengaduh.
"Kenapa lagi?" tanya Bayu begitu dia melihat Jiwo sedang berjongkok dihadapan wanita yang sedang memijat pergelangan kakinya. Tentu saja sebenarnya wanita itu pura pura. Karena dia sedang taruhan dengan temannya yang memperhatikan diam diam sambil berolahraga.
"Ini, katanya kakinya terkilir," balas Jiwo.
"Astaga! Coba sini aku yang urut, Mbak. Bentar aku ambil krimnya," ucap Bayu sambil berdiri dan mengambil krim yang biasa digunakan untuk kecelakaan kecil seperti itu.
"Nggak perlu!" larang wanita itu hingga gerakan bayu terhenti. "Aku ada krimnya sendiri," ucap wanita itu lalu dia menatap Jiwo. "Mas, bisa minta tolong antar aku ke ruang ganti nggak?"
Jiwo sedikit terkejut lalu dia menatap bayu yang berdiri di sampingnya. Bayu hanya menangkat kedua bahunya. Kemudian Jiwo kembali menatap wanita yang sedang meringis kesakitan.
"Baiklah!"
Dalam hati, wanita itu bersorak. "Yess!"
...@@@@@@...
__ADS_1