
"Kenapa Mbak Melati malah belain mereka?" ucap Titin tetap tidak menyadari kesalahannya.
"Wajarlah aku ngebelain mereka. Kamu ini kalah sama anak TK, mereka aja tahu antri, kamu yang udah tua malah seenaknya aja," balas pemilik toko sambil menahan sabar.
"Apa Mbak Melati belain mereka karena mereka viral? Cih! Mereka viral juga gara gara postingan Mas Malik, Mbak."
"Apa!"
Titin seketika menutup mulutnya dengan mata terbuka lebar. Dia tidak menyangka ucapannya akan kendali seperti itu. Titin hendak menyanggah ucapannya sendiri tapi keburu diserang oleh yang lainnya.
"Jadi yang menfitnah Jiwo dan istrinya itu suami kamu?" ucap si pemilik toko dengan rasa terkejut bukan main.
"Ya ampun, Mbak, iseng bener jadi orang. Punya suami kok hatinya busuk banget sih?" cibir pengunjung lain.
"Tapi pasti hati suaminya panas tuh? Karena orang yang mereka fitnah justru malah terkenal dan terlihat makin sukses."
"Heran ya? Suami istri kok kelakuannya kayak gitu? Kasian sama Pak Lurah, udah pelihara ular."
Berbagai cibiran dan sindiran terus terlontar kepada Tiitin hingga wanita itu terpaksa segera pergi tanpa membawa hasil belanjaan. Mereka tidak menyangka ternyata yang posting berita tentang Jiwo adalah ulah anak Pak Lurah dengan manantunya.
Para istri Jiwo yang kebetulan berada disana juga nampak terkejut dengan apa yang baru saja mereka dengar. Pastinya mereka menjadi kesal dan gemas karena tidak bisa berbuat apa apa saat ini. Yang perlu mereka lakukan adalah segera pulang dan memberi tahu sang suami akan hal ini.
__ADS_1
Setelah mendapatkan barang mereka cari, Asiyah dan yang lain bergegas saja menuju tempat tunggu kendaraan umum yang menuju arah jalan pulang. Hanya dengan membayar tiga ribu rupiah perorang, mereka bisa sampai di tempat tujuan.
"Apa! Yang bener, Dek?" tanya Jiwo dengan wajah nampak terkejut dengan laporan yang baru saja dia terima dari istri istrinya.
"Ya bener, Mister, coba aja, Mister tanya sama pemilik Toko Melati. Mereka jadi saksinya," ucap Andin dengan lantang. Wanita itu benar benar terlihat emosi dari tadi, tapi dia terus menahannya sekuat hati.
"Benar, Mister. Yang punya toko aja sampe ikutan emosi saat mendengarnya, udah gitu, dia menghina kita lagi," adu Aziza.
"Menghina gimana?"
"Katanya, kita hanya pengungsi jadi nggak perlu dilayani terlebih dahulu."
"Iya, Mister. Katanya kita kebetulan aja ditolong Mister. Kalau nggak ada Mister, kita nggak tahu jadi apa," sambung Alina.
Jiwo langsung saja beranjak menuju kamar untuk berpakaian. Sedari bangun tidur, Jiwo sengaja hanya memakai sarung karena tidak ada pekerjaan hari ini. Setelah itu, Jiwo langsung menyambar kunci motornya.
"Mister, jangan pake emosi. Kalau Mister pake emosi, mending nggak usah pergi, daripada nanti kenapa kenapa," ucap Anisa sambil menahan lengan Jiwo.
"Tenang aja, aku nggak akan adu fisik. Kalian jangan kemana mana, tunggu aku di rumah aja," titah Jiwo sembari melepaskan tangan Anisa dan melenggang menuju motornya.
"Anisa, cepat ikuti Mister, cepat!" ucap Aziza dengan wajah panik.
__ADS_1
Bagitu melihat Jiwo berangkat, Anisa langsung saja mengambil kunci motor roda tiga untuk mengikuti suaminya. Arin, Adiba dan Aluna juga ikut pergi bersama Anisa.
Awalnya Jiwo mendatangi rumah Pak Lurah, berhubung masih siang, kata istri Pak Lurah, Malik masih ada di ruko. Karena istri Pak lurah penasaran kenapa Jiwo mencari anaknya, mau tidak mau, Jiwo pun menceritakan tentang kelakuan Malik dan istrinya.
"Ya ampun! Itu anak benar benar nggak ada kapoknya ya?" ucap Istri Pak lurah ambil mengusap dadanya beberapa kali agar bisa lebih sabar.
"Maka itu, Bu. Maaf jika kali ini aku harus memberi pelajaran pada Malik. Karena menurutku, dia sudah keterlaluan, Bu," ucap Jiwo. Meski tak enak hati, tapi Jiwo harus bisa memberi efek jera pada anak Pak Lurah yang selalu saja mengusik ketenangannya.
"Terserah kamu lah, Wo, aku udah pasrah. Dari dulu memang dia yang selalu buat masalah. Entah apa yang salah dengan anak itu," balas istri Pak lurah pasrah.
"Ya sudah, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu, dan sekali lagi saya minta maaf," ucap Jiwo merasa tidak enak hati. Dia lantas pamit.
Sedangkan di dalam kiosnya, Malik nampak sedang marah marah pada istrinya yang tanpa sengaja memberi tahu perbuatanya.
"Bisa bisanya kamu sampai kelepasan. Kamu nggak tahu apa? Bahayanya gimana?" ucap Malik dengan sangat lantang.
"Ya maaf, Mas. Aku nggak sengaja, tiba tiba meluncur saja tadi," balas Titin membela diri.
"Kacau semuanya. Ini kalau Bapak tahu, bisa makin murka dia sama kita, sial!"
Selang beberapa saat kemudian, keduanya dikejutkan dengan suara teriakan yang langsung membuat wajah Titin dan Malik pucat seketika.
__ADS_1
"Hei, Malik! Keluar kau, pengecut!"
...@@@@@...