MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Merasa Tak Enak Hati


__ADS_3

Krak!


"Akh! Sialan! Lepasin!"


Berhubung orang yang menginjak tangan si pria tidak tahu orang itu ngomong apa, orang itu langsung saja mengambil pisau itu dan langsung menodongkannya ke arah si pria.


"Lepaskan Ibu itu!" ancam orang itu sambil mengacungkan pisau di dekat urat nadi tangan pria yang di injak. Mau tidak mau tangan pria yang mencengkeram rambut si ibu langsung terlepas.


Namun pria itu tidak mau menyerah begitu saja. Dia langsung melayangkan tinju ke arah orang yang memegang pisau, tapi orang itu dengan gesit menghindar hingga tangan yang di injak terlepas. Si pria menggunakan kesempatan itu untuk bangkit, tapi lagi lagi usahanya harus gagal karena dengan sigap orang yang memegang belati langsung memberikan tendangan hingga pria itu terjungkal membentur dinding rumah.


Dak!


"Akh!"


"Tangkap!"


Warga yang kebanyakan ibu ibu itu sontak menyerbu pria yang terkapar. Para ibu benar benar mengunci pergerakan pria itu. Alana dan Anum juga turut ambil bagian dengan memegangi tangan kanan pria itu. Sedangkan Anisa, mengarahkan pisau ke leher si pria.


"Diam! Jika tetap bergerak maka pisau ini akan menggores leher kamu dengan sendirinya!" ancam Anisa.


Sungguh Anisa terlihat menyeramkan sedari tadi. Bahkan saat dia mengancam sambil menginjak tangan tadi, membuat warga yang melihatnya merasa ngeri dan takjub. Untung Anisa tidak gentar. Anisa merasa, dia harus bisa menolong warga yang sudah baik hati menerima kehadiran dirinya dan yang lain. Setidaknya dengan menolong warga, Anisa bisa membuat kesan yang lebih baik lagi dimata warga.

__ADS_1


"Ambil tali, cepat!" perintah salah satu Ibu.


"Masuk aja ke dapur, ada tali deket rak piring," ucap si Ibu yang tadi disandra. Wajahnya masih terlihat sangat ketakutan dalam dekapan Emak. Bahkan suaranya sampai bergetar. Dua orang Ibu langsung bergerak masuk sesuai petunjuk. Tak butuh waktu lama satu gulung tali plastik langsung di ikatkan ke kaki si pria. Begitu urusan kaki beres, sasaran berikutnya adalah kedua tangan.


Setelah terlihat aman baru ibu ibu melepaskan pria yang kini meronta. Dia pikir komplek yang dia datangi sangat sepi, tapi ternyata dia terkejut sendiri. Pria yang biasa beraksi tak kenal waktu dan hampir semua pekerjaannya berhasil, kini harus terduduk pasrah tak berdaya.


"Kita amankan dulu orang ini, gimana?" usul Anisa.


"Masukan saja ke gudang itu, sambil nunggu suami saya pulang," balas si pemilik rumah.


"Oke!" Anisa langsung menarik kaos pria itu dengan kasar hingga pria itu terhuyung karena belum sepenuhnya berdiri.


"Yang pelan, sialan!" maki pria itu, tapi Anisa tidak peduli. Dia tetap menyeretnya hingga pria itu masuk ke gudang di sebelah rumah.


"Emak sama Anum pulang aja dulu, biar aku nemenin Anisa dan Ibu yang punya rumah," ucap Alana memberi saran.


"Baiklah," jawab Anum. "Emak kita pulang dulu, yuk, nanti kita kesini lagi dengan yang lain."


Emak sontak mengiyakan. Wanita itu juga menasehati dua menantunya agar hati hati. Alana dan Anisa mengangguk semabari tersenyum.


"Gila! Kamu galak banget, Nis! Kayak bukan kamu tadi pas lagi ngancam," ucap Alana takjub.

__ADS_1


"Jangan bilang ke Mister, nanti aku malu," balas Anisa dan keduanya malah terkekeh.


"Mbak, mending masuk dulu sini, sekalian nunggu suami saya pulang," ucap si Ibu pemilik rumah yang keadaannya sudah bisa tenang.


"Mbak? Mbak apaan itu?" tanya Alana. si Ibu yang usianya sekitar empat puluh tahun mengulas senyum lalu menejaskan kata yang Alana tanyakan.


"Ibu sudah tidak apa apa?" tanya Anisa begitu dia duduk di kursi tamu.


"Tidak apa apa, terima kasih, karena kalian sudah menyelematkan saya," balas Ibu itu.


"Cerita awalnya bagaimana sih, Bu? Kok bisa ada penjahat di rumah Ibu?" tanya Alana.


Wanita itu menghela nafasnya dalam dalam dan menghembuskannya secara kasar. Kemudian Ibu itu menceritakan kronologi kejadiannya dari awal. Alana dan Anisa sontak terkejut dibuatnya, ternyata kejadian mengerikan tadi ada hubungannya dengan mereka. Alana dan Anisa menjadi tak enak hati. Apalagi Ibu itu hampir jadi korban karena adanya mereka.


"Ternyata orang itu ngincar kita, Lan. Aku jadi nggak enak sama warga sini. Akhir akhir ini sering ada keributan sejak kehadiran kita," ucap Anisa begitu si Ibu selesai berbicara dan pergi sejenak menuju dapur.


"Iya, Nis, Apa kehadiran kita hanya bikin masalah untuk Mister dan yang lainnya?"


"Entahlah, Mungkin jika kita pergi dari sini, Mister dan para warga akan tenang kembali."


"apa sebaiknya kita pergi saja, agar kampung ini aman?"

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2