MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Pagi Yang Menyenangkan


__ADS_3

"Sial! Sial! Sial!" umpat Hendrik dengan segala amarahnya. Dia sangat tidak menyangka jika bisnisnya berada di ambang kehancuran saat ini. Ini adalah pertama kalinya Hendrik mengalami masalah yang sangat serius selama lebih dari sepuluh tahun menjalankan bisnis kotornya.


Mendengar anak buah yang tertangkap warga dan diserahkan pihak berwajib, menjadikan Hendrik mau tidak mau harus melarikan diri dan bersembunyi di suatu tempat. Hendrik yakin polisi akan mendatangi rumahnya dalam beberapa waktu lagi setelah berhasil menginterogasi anak buahnya.


Bukan hanya Hendrik yang dilanda panik luar biasa, wakil wali kota, Bapak Suryo juga saat ini sedang was was dengan berita yang dia dengar dari Hendrik. Jika nama Suryo terseret, maka tamatlah karir politik pria yang sebentar lagi akan menjadi kandidat bupati di kota tempat tinggalnya. Belum lagi jika keluarganya tahu, makin tamat riwayat Suryo karena bisnis sampingannnya.


"Aku harus bisa cuci tangan secepatnya, sialan Hendrik! Punya anak buah bodoh semua!" umpat Suryo.


Ya. Itulah kejahatan. Disaat berhasil, semua tertawa bersama. Tapi di saat ada masalah, hanya bisa saling menyalahkan dan menyelamatkan diri sendiri, tanpa peduli rekan kejahatannya.


Keadaan Hendrik dan Suryo benar benar berbanding terbalik dengan nasib tiga belas wanita yang menjadi incaran dua oknum tersebut. Para wanita itu jusru sekarang lagi menjalani kehidupan yang tenang dan menyenangkan. Bahkan hari ini, sepuluh dari tiga belas wanita itu sedang tertawa ceria sambil membongkar beberapa karung hasil belanja suami mereka. Sedangkan yang tiga wanita seperti biasa, membantu sang mertua, jualan di pasar.


Jiwo yang sedang berpakaian setelah mandi, ikut tersenyum dari dalam kamarnya, mendengar suara tawa istri istrinya. Setelah selesai, Jiwo mengambil tas dan buku catatan lalu beranjak keluar bergabung dengan para istri di sisi ruang tamu yang tidak ada kursinya. Ruang tersebut memang sengaja tidak di isi kursi karena untuk menaruh barang dagangan Jiwo.


"Mister nggak sarapan dulu?" Alina bersuara begitu melihat suaminya duduk di antara mereka.

__ADS_1


"Tolong ambilin dan bawa sini ya, Dek? Aku sarapan disini aja," pinta Jiwo, dan Alina mengangguk lalu bangkit menuju meja makan. "Ini semua udah dipisahin?"


"Sudah, Mister, sesuai motif dan merk," jawab Andin. Jiwo memang tadi sebelum mandi memberi perintah untuk memilah barang sesuai motif dan merk, agar mudah memberi harga jualnya.


Sambil menikmati sarapan, Jiwo membimbing istri istrinya cara mengelola barang dagangan, membedakan mana yang bisa dikasih harga murah dan harga mahal, serta memilah kualitas barang.


"Mister, ini nggak terlalu sedikit cari untungnya? Kok cuma sepuluh ribu untuk daster yang ini?" tanya Alifa.


"Nggak apa apa, itu namanya trik dagang. Sekarang mending untung sedikit tapi pembeli puas dan nggak kapok beli di tempat kita lagi. Pembeli juga secara nggak sadar bisa mempromosikan barang dagangan kita ke orang lain kalau di tempat jualan kita barangnya murah murah. Coba kalau barangnya mahal, pasti pembeli pada jera dan akan mencari penjual lain yang barangnya lebih murah," terang Jiwo.


"Bisa jadi karena barang yang di jual mahal atau ada faktor lain yang menyebabkan penjual sepi. Lagian kan orang tidak mungkin tiap hari beli pakaian, jadi penjual pakaian itu harus ekstra sabar," ucap Jiwo.


"Iya, yah, Mister. Benar juga," ungkap Alana.


"Eh, Mister, terus kenapa ini underwear pria lebih mahal dari pada underwear wanita?" tanya Anum sambil mengangkat dua benda yang dimaksud.

__ADS_1


Sontak Jiwo langsung terkekeh. Dari sekian banyak yang bisa ditanyakan, kenapa malah melempar pertanyaan seperti itu? Meski masuk akal tapi tetap terdengar lucu saja.


"Ya kan harga bisa dilihat dari harga grosirnya, Sayang," balas Jiwo gemas.


"Tapi memang aneh sih, harga grosirnya juga sama, punya laki laki lebih mahal. Nih lihat, underwear cewek dua puluh ribu dapat tiga, tapi underwear cowok, dua puluh ribu dapat satu. Itu aja yang paling murah," ucap Alina.


"Mungkin karena itu juga ya, kenapa banyak wanita dibilang murahan? Karena harga pakaian khususnya aja lebih murah," timpal Anisa.


"Astaga! Apa hubungannya? Kalian ini pada ngaco kalau ngomong," ucap Alana.


"Ya hubungkan aja, pasti masuk akal, kan?" ucap Anisa membela diri.


"Ya tergantung wanitanya juga kali," ucap Alana tak mau kalah.


Jiwo hanya bisa mengulas senyum melihat perdebatan kecil para istrinya, dan itu nampak sangat membahagiakan.

__ADS_1


"Ah ... istri istriku menggemaskan banget."


__ADS_2