
Setelah melalui perdebatan yang cukup menegangkan, suasana ruang tamu di rumah Jiwo seketika menghangat saat topik pembicaraan beralih ke pembahasan yang lainnya. Sambil bercengkrama, para tamu juga dipersilakan menikmati hidangan yang telah disediakan. Hingga tanpa terasa, pertemuan itu harus berakhir, dan para tamu yang hadir, terutama dari pihak kedutaan pamit undur. Tak lupa juga, mereka memberi nasehat yang mungkin bisa berguna bagi istri istri Jiwo. Terutama kabar tentang kondisi negara mereka.
Meski tamu inti sudah pergi, tapi rumah Jiwo masih saja terlihat ramai. Selain ramai oleh tetangga sekitar, para pemburu berita juga masih berkeliaran disana. Kebanyakan para wartawan mencari sisi lain kehidupan Jiwo dan para istrinya. Dengan sabar, Jiwo menghadapi dan menjawab semua yang wartawan tanyakan.
Nama Jiwo semakin melambung. Dia menjadi topik pembahasan di seluruh penjuru negeri. Kerukunan para istrinya juga membuat banyak pria iri. Nama Jiwo juga berseliweran di berbagi konten media sosial. Kekreatifan para kreator membuat nama Jiwo benar benar melangit.
Hingga saat sore tiba, orang orang yang berkerumun di rumah Jiwo termasuk wartawan, berangsur angsur pergi, dan rumah kembali sepi. Dengan sigap para istri langsung merapikan rumah yang terlihat berantakan. Sedangkan Emak dan Jiwo seperti biasa, hanya duduk manis tanpa melakukan apa apa. Bukannya tidak mau membantu, tetapi untuk pekerjaan ringan memang Emak dan Jiwo dilarang membantu. Biar para menantu yang turun tangan membereskannya.
"Besok akan ada tamu lagi nggak, Wo?" tanya Emak sambil menikmati putri mandi bikinan menantunya. Padahal jajanan yang satu itu cara membuatnya lumayan susah, tapi kekompakan istri Jiwo bisa membuatnya dengan mudah dalam waktu yang singkat.
"Nggak tahu, Mak. Biasanya Pak Lurah yang ngasih kabar kalau tamu orang orang penting. Kenapa? Emak udah mau jualan?" ucap Jiwo. Dia memilih menikmati lumpia isi ayam pedas.
"Nggak dulu lah, libur sehari lagi. Di pasar pasti nanti rame, banyak yang tanya ke Emak."
Jiwo terkekeh. "Hahaha ... anakmu udah kayak artis aja ya, Mak?"
"Iya, Kakak dan adekmu aja berkali kali telfon Emak, kamu masuk tv. Emak malah belum lihat."
Setelah terkekeh, kini bibir Jiwo menyunggingkkan senyum. "Ya kali aja ini jadi jalan rejeki aku sama mantu mantu Emak. Siapa tahu, dagangan kita nanti makin rame karena berita ini, Mak."
"Aamiin ... heran aja sama yang bikin berita, bisa sampe segitunya."
Lagi lagi Jiwo hanya mampu tersenyum. Obrolan terus berlanjut ke hal yang lainnya. Bahkan saat istri istri Jiwo sudah selesai beres beres, Emak dan anak itu masih terlihat ngobrol sambil menikmati sisa hidangan yang ada.
"Ini dapat ide darimana sih? Kok jajanannya enak?" tanya Jiwo begitu satu persatu istrinya ikut gabung bersama.
__ADS_1
"Ya Aisyah lah, siapa lagi," Aluna yang menjawab.
"Bahan bahannya dapat dari mana? Ini kan mendadak banget?"
"Pakai bahan dagangan Emak dan yang ada di dapur, Mister. Lagian bahan sisa pembuatan donat juga masih ada. Cuma nambahin sedikit bahan yang kurang tadi pas ke pasar," jawab Aisyah.
"Kreatif juga kamu, Dek. Berarti kamu serius mau jualan makanan?"
"Serius lah, Mister. Tapi nanti aja. Soalnya kan modalnya baru saja keluar banyak buat buka lapak di pasar."
"Emang modalnya butuh banyak? Kan katanya mau keliling?"
"Nggak nyampe satu juta sih. Alat alat di rumah ini untungnya lengkap, jadi paling beli bahan aja."
Aisyah lantas mengangguk senang, begitu juga dengan istri Jiwo yang lain. Obrolan terus berlanjut hingga tanpa terasa kini petang telah menjelang. Obrolan terhenti saat terdengar suara merdu dari arah masjid.
Waktu terus berlalu dan malam telah menyapa. Setelah melakukan kegiatan malam seperti biasanya, mereka memilih beristirahat lebih cepat. Mungkin karena badan yang sudah lelah, para istri Jiwo memasuki kamar mereka lebih awal.
Jiwo juga sedang merebahkan badan di dalam kamarnya. Dengan ditemani salah satu istrinya, Jiwo dan istrinya yang bernama Andin terlibat dalam percakapan sebelum kantuk menyerang. Keduanya dalam posisi berbaring miring dan berhadapan.
"Kenapa tadi siang kalian terlihat kompak sekali, Dek?"
"Hehehe ... aku juga nggak tahu, Mister. Kok isi hati kayak kita sama gitu? Padahal nggak ada rencana sama sekali loh."
"Aku juga heran. Sayang. Dan aku juga seneng, makasih ya mau bertahan sama aku, Dek?"
__ADS_1
"Ya mau gimana lagi, mungkin karena kita udah nyaman dan sayang sama Mister."
Jiwo tersenyum lebar. "Aku juga sayang sama kalian." Andin pun ikut tersenyum.
"Dek."
"Hum?"
"Isi sarungku bangun nih."
"Mulai deh mesumnya kumat."
"Hahaha ... ya gimana lagi, orang nyatanya bangun. Pegangin dong."
Andin mendengus tapi dia menuruti permintaan sang suami. Tangannya bergerak masuk ke dalam sarung.
"Dek."
"Apa lagi?"
"Kamu masih rapet loh? Nggak pengin nyoba dimasukin apa?"
"Waduh."
...@@@@@@@...
__ADS_1