
"Jadi seperti ini rasanya membuat anak?".
"Iya, gimana? Enak nggak, sayang?"
"Enak sih, tapi kayak ada sakit sakitnya sedikit."
mana yang sakit? Sini tunjukan depan wajahku."
Sang istri lantas bangkit dan mencondongkan bagian bawah perutnya ke arah wajah sang suami. Dengan senang hati sang suami menyentuh daging terbelah tanpa bulu yang baru saja dia robek mahkotanya. Sang suami memijatnya pelan pelan hingga menimbulkan rasa nyaman bagi istrinya.
Ya. Malam ini Jiwo kembali berhasil mengoyak mahkota milik salah satu istrinya. Setelah penuh drama dengan membicarakan soal anak, akhirnya Jiwo berhasil membujuk sang istri bernama Arum untuk praktek langsung cara membuat anak.
Seperti istri istri lainnya, Arum. juga kesakitan saat mahkotanya tertembus oleh benda menegang nan kekar milik Jiwo. Bahkan Arum sampai meneteskan air mata sambil menjerit kesakitan. Jiwo sempat tidak tega melihatnya hingga dia ingin menghentikan permainan. Tapi Jiwo sadar memang itulah yang harus sang istri lewati. Kalau Jiwo berhenti takutnya malah Arum nanti trauma dan tidak mau diajak berhubungan suami istri kembali.
Usaha Jiwo tidak sia sia, gerakan pinggang yang pelan ditambah Jiwo yang sudah ahli membuat rangsangan cepat mengubah rasa sakit yang Arum rasakan menjadi rasa nikmat yang luar biasa. Bahkan Arum sempat menutup wajahnya saat menunjukan wajah kenikmatan di bawah kungkungan Jiwo.
Hingga beberapa menit berlalu, keduanya akhirnya bersama mencapai puncak. Dan saat ini keduanya sedang melepas lelah. Mata Jiwo hampir tak berkedip saat jari jari kekarnya memijat lubang nikmat istrinya yang terlihat tembem dan menggemaskan.
"Kok dipijat itunya enak ya, Mister?"
__ADS_1
Jiwo terkekeh lirih, istrinya yang satu ini nampak polos. "Ya kalau di pijat suami sendiri ya pasti enak, Sayang, kalau dipijat orang lain malah sakit banget," jawab Jiwo asal.
"Benarkah?" Jiwo mengangguk dan mengiyakan dengan yakin. "Wah! Aku baru tahu, tapi nanti kalau aku ingin dipijat lagi nunggu lama ya, Mister?"
"Nunggu lama? Kenapa?"
"Ya kan nunggu giliran, Mister. Berarti nunggu dua belas malam lagi, aduh lama banget," keluh Arum hingga membuat Jiwo kembali terkekeh.
Tapi ucapan Arum sontak membuat Jiwo berpikir. Apakah istri yang lain juga akan merasakan waktu yang lama jika ingin dimanja seperti ini? Jawabannya pasti iya. Mereka harus menahan hasrat demi menunggu giliran mereka. Rasa bersalah dan tak enak hati langsung menyergap hati Jiwo. Sepertinya dia memang harus mengambil tindakan yang bisa menyenangkan istri istrinya.
"Mister."
"Hum? Apa, Sayang?"
"Iya, kenapa?"
"Apakah mungkin aku dan yang lainnya bisa cepat hamil? Sedangkan kita kalau tidur bareng harus bergiliran. Berarti selama satu bulan paling banyak satu wanita hanya dapat jatah dua kali tidur bareng Mister. Bukankah peluang hamilnya makin kecil ya?"
Jiwo sontak tertegun dengan pertanyaan istrinya. Meski terlihat lugu, tapi apa yang Arum katakan ada benarnya. Meski kehadiran seorang buah hati itu termasuk misteri Tuhan tapi bukankah manusia juga harus sering berusaha. Terus jika posisinya seperti Jiwo, apa mungkin dia akan cepat mendarat keturunan?
__ADS_1
"Terus menurut kamu, bagusnya bagaimana, Sayang?" tanya Jiwo. Posisi mereka saat ini masih sama seperti tadi. Arum yang duduk sambil dengan posisi seperti orang mau melahirkan dan Jiwo yang berbaring miring sambil memijat lubang nikmat istrinya.
"Aku sendiri nggak tahu, Mister. Bukankah setiap kami mengeluarkan isi hati kami, keputusan tetap berada di tangan Mister?"
Jiwo mengangguk, jawaban Arum lagi lagi menyadarkan Jiwo. Sepertinya kali ini Jiwo harus lebih memikirkan hubungannya dengan para istrinya. "Baiklah, Sayang. Besok kita musyawarahkan lagi dengan yang lain ya?"
"Ya aku sih terserah Mister saja enaknya bagaimana."
Jiwo lantas tersenyum. Selama berumah tangga, memang para istri lah yang selalu memndominasi jika membahas hubungan ranjang. Jiwo hanya mengikuti tanpa menyadari ada tujuan lain para istrinya lebih senang membahas hubungan ranjang daripada membahas tentang masalah uang. Tapi kali ini Jiwo bertekad akan memikirkan masalah hubungan ranjang juga demi kepuasan bersama. Jiwo harus bisa bersikap bijak agar istri istrinya tercukupi, baik nafkah lahir maupun nafkah batin.
"Ternyata baru jam sepuluh, perasaan sudah malam banget," ucap Arum membuyarkan pikiran Jiwo yang sedang berkelana.
"Kenapa? Udah mau tidur?" tanya Jiwo setelah ikut memandang jam di dinding sekilas.
"Enggak, belum ngantuk."
"Terus?"
"Itunya disentuh seperti itu lama lama jadi ingin dimasukin lagi, Mister."
__ADS_1
Jiwo sontak tergelak agak keras. "Hahaha ... kamu menggemaskan banget, Sayang," ucap Jiwo sembari mengenhentikan pijatannya dan mengambil posisi duduk. "Jadi gimana? Mau dia masukin lagi?" Arum tersenyum malu malu. "Baiklah."
...@@@@@@...