MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Biar Istri Yang Menentukan


__ADS_3

"Mister."


"Iya, Sayang? Ada apa?"


"Katanya mau membahas soal pernikahan secara negara? Bahas sekarang aja sekalian?"


"Pernikahan secara negara?"


"Mister, mau menikah lagi?"


Jiwo sontak terkekeh memandang wajah beberapa istrinya yang langsung menegang dan sangat serius saat menatap ke arahnya. "Bukan pernikahan secara negara, Sayang. Tapi meresmikan pernikahan secara negara."


"Entar dulu, entar dulu ... kok aku bingung? Maksudnya gimana ini, Mister?"


Setelah suara tawanya surut, Jiwo lantas menjelaskan apa yang dia bahas kemarin bersama kakaknya. Para istri juga mendengarkan dengan baik dan mencerna setiap kata yang keluar dari mulut suami mereka. Jiwo menenjelaskannya dengan sangat hati hati. Dia takut akan ada hati istri yang kecewa nantinya. Karena biar bagaimanapun, tidak semua pernikahannya dapat dia daftarkan menjadi resmi secara negara.


"Bagaimana? Kalian paham?" tanya Jiwo begitu selesai memberi penjelasan.


"Jadi salah satu dari kita yang namanya akan diajukan untuk pernikahan secara negara?"


"Iya, tapi bukan berarti yang tidak kepilih nanti tidak dianggap sebagai istri. Kalian akan tetap menjadi istriku dan semoga selamanya begitu."


"Iya, Mister, aku pribadi, ngerti banget kok. Apapun keputusan Mister, aku menerimanya. Karena aku tahu, ini semua buat kebaikan," ucap Aziza.


"Sama kayak Aziza, aku ngikut aja sama keputusan Mister. Kalau bukan kita yang mendukung, siapa lagi," Anisa menimpali.

__ADS_1


"Benar. Aku sendiri nggak peduli siapapun yang terpilih nanti. Bagi aku, yang penting aku tetap menjadi istri Mister. Bahkan saksi dan buktinya udah banyak, kalau istri Mister bukan hanya satu," Arin ikut bersuara, dan disusul oleh istri istri yang lain. Mereka bergiliran mengeluarkan isi hatinya.


Melihat dan mendengar ketulusan para istrinya, hatinya Jiwo berdesir. Ada rasa haru yang menyergap hatinya saat semua istri mengeluarkan kata hatinya penuh dengan ketulusan.


"Terima kasih karena kalian sudah mau mengerti. Kalau begitu, aku serahkan ke kalian, siapa nama yang akan aku daftarkan. Jujur, aku terlalu berat jika harus memilih salah satu diantara kalian."


"Ya ampun, Mister. Kalaupun Mister sudah ada nama pilihan juga, kita bakalan nerima kok."


"Belum ... serius! Aku belum menentukan pilihan. Kalian terlalu istimewa buat aku. Kalian semua pilihanku."


"Duh, manis banget sih? Mister sangat menggemaskan. Yuk Mister, kita ke kamar aja."


"Arum!" hardik yang lain. "Orang lagi serius juga malah ngajak main di kamar."


"Iya nih, pikiran kotornya nggak bisa dijeda dulu apa?"


"Astaga! Ni anak kalau ngomong suka benar ya?"


Jiwo hanya mesam mesem mendengar perdebatan kecil di hadapannya. Sungguh dia tidak menyangka bisa mendapatkan istri istri yang kadang suka menunjukkan sikap bar bar dibalik wajah cantik mereka.


"Ya sudah. Sekarang keputusan aku serahkan ke kalian ya?" ucap Jiwo akhirnya memutuskan.


"Baik, Mister."


Jiwo lantas bangkit dan beranjak menuju kamarnya. Dia ingin istirahat sejenak setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Untuk urusan barang dagangan, biarlah sementara di kerjakan para istrinya.

__ADS_1


Niat hati hanya ingin istirahat sejenak, tapi yang namanya Jiwo, kalau matanya sudah merem, bisa sampai lupa waktu. Begitu juga saat ini. Dalam rencananya, Jiwo ingin istirahat sejenak, mandi, makan terus ngatasin dagangan. Namun Faktanya hingga pukul tujuh malam dia baru membuka mata.


Ketiga belas istrinya sudah mulai terbiasa dengan kelakuan suami mereka. Jiwo jarang sekali mandi sore, sudah menjadi identitas khusus yang melekat pada pria itu. Beruntung saat ini semua istri Jiwo sangat menyukai bau badannya yang berkeringat ataupun tidak mandi. Jadi Jiwo tenang saja saat sore berlalu tanpa dia membersihkan badannya.


Seperti biasa, sarung adalah pakaian wajib Jiwo yang dikenakan tiap malam. Dengan hanya memakai sarung, Jiwo merasa lebih leluasa melakukan apa saja termasuk berhubungan dengan istrinya.


"Itu telur buat apa, Mak?" tanya Jiwo, begitu dia keluar kamar dan melihat sekeranjang telur di dekat kulkas.


"Buat kondangan di rumahnya Paman Narto," jawab Emak yang saat itu sedang duduk di depan televisi bersama istri Jiwo.


"Astaga! Nikahannya Rizal ya, Mak? Kok aku bisa lupa?" ucap Jiwo setelah duduk di meja makan dan membuka tutup saji. Salah satu istri Jiwo mendekat dan langsung melayani sang suami yang hendak makan malam.


"Harusnya cuci muka dulu, Mister, baru mau makan. Jorok," sungut Aziza tapi tetap saja mengambilkan nasi dalam magic com.


"Udah laper banget, Dek," balas Jiwo sambil cengengesan, lalu dia kembali bertanya pada Emak, "Acaranya besok jam berapa, Mak?"


"Akadnya jam sembilan."


"Oh, pantes Emak santai, nggak bikin dagangan," balas Jiwo. "Besok kalian semua ikut kondangan ya?"


"Kondangan? Apa itu Mister?"


"Acara nikahan suadara, besok kalian dandan yang sangat cantik, biar aku bisa pamer. Oke!"


"Oke!"

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2