
"Karena saya menyukai Mister."
Deg!
Sejenak Jiwo tertegun mendengarnya, tapi tak lama kemudian untuk kesekian kalinya bibirnya kembali mengukir senyum tertampannya. Matanya terus menatap wanita yang mungkin sengaja menghindari tatapannya karena malu.
Mungkin karena sudah terlalu lama menyendiri, dan juga sudah lama hati Jiwo kosong. Jadi pernyataan yang baru saja dia dengar masih sangat mengejutkan baginya. Apa lagi baru kali ini ada wanita yang dengan sangat berterus terang, bilang meyukai Jiwo. Suka dalam arti sebagai apa? tanya Jiwo dalam benaknya.
"Kamu bisa aja kalau bercanda," ucap Jiwo menanggapi pengakuan istrinya. Dan ucapan Jiwo barusan sukses membuat Alana tercengang mendengarnya.
"Siapa yang bercanda?" protes Alana tanpa merubah posisi berbaringnya. "Emang Mister nggak suka ya? Kalau saya pribadi menyukai Mister?"
"Eh ... ehm ... bukan begitu," balas Jiwo gugup. "Memangnya apa yang kamu suka dari saya? Saya bukan pria kaya loh?"
Kini Alana bangkit dan berbalik badan kemudian bergeser mendekat ke arah Jiwo dengan tatapan penuh keseriusan hingga Jiwo dibuat salah tingkah. Mata Alana terus menatap Jiwo. Mau tidak mau, Jiwo pun membalas tatapan wanita yang sekarang menjadi istrinya.
Alana mengangkat tangan kiri dan meletakkan telapak tangannya di dada bidang Jiwo. "Saya menyukai Mister karena hati Mister yang hangat dan baik. Bahkan saat saya pertama kali datang, Mister membiarkan saya istirahat pas sakit. Mister menolong saya tanpa peduli keadaan Mister bagaimana. Di tambah lagi, Mister juga tadi sore menyelamatkan saya kembali. Betapa Mister sangat melindungi saya. Bukankah itu cukup bagi saya untuk menyukai Mister?"
Antara grogi dan canggung, Jiwo hanya bisa mengulas senyum. Mulutnya terbungkam meski hatinya menghangat dan bahagia. Jiwo seakan tidak ada ide untuk meluapkan perasaannya melalui kata kata. Dia terlalu gugup tapi dia tidak bisa berpaling dari tatapan mata Alana.
__ADS_1
"Saya tahu, diamnya Mister pasti karena Mister nggak suka ya sama saya?" terka Alana sambil tersenyum lebar. Ada rasa kecewa melihat pria yang jadi suaminya memilih diam meski matanya memandang ke arahnya.
"Bukann begitu. Saya suka kamu, saya juga suka dengan istri saya yang lain. Saya cuma takut, jika hati saya berat sebelah, nanti saya tidak bisa bersikap adil pada kalian. Sedangkan untuk saat ini, saya tidak ingin memilih diantara kalian."
Rasa kecewa yang sempat bergelayut di hati Alana, kini terhempas dan berganti rasa hati yang menghangat. "Kenapa Mister tidak ingin memilih? Bukankah hidup itu penuh pilihan?"
Jiwo terkekeh sejenak. Dengan keberanian penuh dia meraih tangan Alana yang menempel di dadanya. Di genggamnya tangan itu erat erat. Mau tidak mau, Jiwo pun terbawa suasana yang tanpa sengaja diciptakan oleh istrinya.
"Jika saya memilih salah satu diantara kalian, justru saya nanti yang kecewa pada diri saya sendiri. Saya yang meminta kalian agar mau menikah dengan saya, dan saya tidak mau egois memilih salah satunya. Sampai waktunya datang nanti, saya akan tetap mempertahankan kalian semua sebagai istri saya."
Alana tersenyum simpul kemudian dia kembali bergeser dan duduk di samping Jiwo dengan tangan yang masih saling menggenggam. "Saya seperti wanita yang tidak tahu malu ya, Mister?"
"Yah, seperti yang Mister dengar, tadi saya berterus terang menyukai Mister."
"Ya nggak salah, ngapain harus malu? Lagian kan sekarang kita sudah resmi jadi suami istri. Agar hubungan tidak hambar, bukankah sudah sepantasnya kalau kita saling menyukai?"
Alana nampak manggut manggut. "Tapi, apa istri istri yang lain juga ada yang udah menyatakan perasaannya pada Mister?"
"Baru kamu yang berani. Lagian belum semua kan dapat jatah menemani saya tidur? Kamu wanita yang kelima."
__ADS_1
"Hahaha ... tapi Mister seneng kan? Tiap malam ditemani wanita yang berbeda?"
"Hahaha ... ya lumayan sih. Tapi sayang, cuma ditemani tidur doang. Nggak ditemani yang lainnya kalau malam biar nggak kedinginan," ucap Jiwo tanpa sadar mengucapkan sesuatu yang selama ini dia tahan.
Alana sontak terkejut mendengar pengakuan suaminya. Dia menatap lekat wajah Jiwo yang sedang senyum senyum. Tanpa sadar, ucapan Jiwo menyentil hati wanita itu.
"Apa Mister ingin melakukan hal yang lain sebelum tidur?"
Deg!
Senyum Jiwo yang sedari tadi terkembang langsung surut. Dia masih sedikit bingung dengan pertanyaan Alana.
"Maksud kamu?"
"Tadi Mister bilang, ingin di temani yang lain agar malamnya Mister nggak kedinginan? Apa Mister ingin melakukan hal lain agar tidak kedinginan?"
"Waduh!"
...@@@@@@...
__ADS_1