
Lelah, itulah yang dirasakan pria yang umurnya akan menginjak di angka tiga puluh dua tahun. Meski lelah, tapi pria itu terlihat sangat bahagia malam ini. Pria yang sedang mendapatkan banyak keberuntungan akhir akhir ini, sedang merasakan manisnya jalan kehidupan yang bisa saja tidak terjadi pada manusia manapun.
Namanya Jiwo. Untuk kesekian kalinya dia berhasil membuat dua wanita yang saat ini ada dalam satu kamar bersamanya melayang meraih nikmatnya surga dunia. Dua wanita hebat yang rela berbagi suami dengan wanita lain menjadikan Jiwo dinobatkan sebagai lelaki beruntung pada masa kini.
Wajah wajah lelah itu terdiam dan terhanyut dalam pikiran masing masing meski tubuh mereka saling tempel dan berpelukan. Mungkin karena lelah, mereka belum menemukan bahan obrolan yang pas untuk mengusir keheningan. Hingga beberapa menit kemudian keheningan pun pecah saat salah satu dari mereka mengeluarkan suaranya.
"Besok kita acaranya ngapain, Mister?" tanya Anisa sambil mendongak menatap wajah suaminya dengan tangan memainkan bulu bulu tipis yang ada di janggut sang suami.
"Iya, Mister, besok nggak ada kerjaan kan? Mau jualan, barang dagangan habis. Keliling juga nggak ada barang. Emak juga belum jualan lagi," sambung Alana yang saat ini tangannya sedang memainkan benda di bawah perut suaminya.
"Ya udah, besok kita main aja ke Mall. Sekalian nyari baju yang pantas buat acara di televisi," ucap Jiwo memberi ide.
"Ke Mall? nggak beli di pasar aja?" Anisa menimpali.
"Ya sekali kali kita main ke Mall, Sayang. Lagian kan kalian butuh sepatu dan yang lainnnya. Nggak mungkin kan tampil di televisi pakai sandal jepit?"
Alana dan Anisa sontak terkekeh lirih. Apa yang dikatakan Jiwo memang benar adanya. Para istri butuh sesuatu yang baru. Beruntungnya Jiwo dapat hadiah dari Gubernur, jadi dia bisa menggunakan hadiah itu untuk menyenangkan para istrinya.
"Baiklah, aku setuju."
__ADS_1
"Aku juga."
"Ya udah mending sekarang kita tidur. Udah jam dua belas malam itu," ucap Jiwo, sontak kedua istrinya mendongak ke arah jam dinding. Disana menunjukkan sudah tengah malam lebih.
"Kok waktu cepat banget ya berjalannya?" ucap Anisa. Kini tangannya ikutan Alana bermain benda bawah perut Jiwo yang melemas, sedangkan Alana memilih berhenti dan memeluk perut Jiwo dengan erat.
"Iya, padahal main dua ronde ya? Kok kayak cepet banget ya?" balas Alana.
"Eh kira kira diantara kita semua, yang akan hamil duluan siapa yah?"
"Kayaknya bukan aku deh, bentar lagi tamu bulananku sepertinya mau datang."
"Lah, sama, aku juga. Mungkin lima hari lagi. Kalau nanti nggak datang bulan, kemungkinan aku hamil."
"Kalian apa ngggak pada ngantuk, udah mau pagi loh, Sayang?" ucap Jiwo lembut sembari mengusap kepala kedua istrinya bersamaan.
"Mister, tidur aja dulu, nanti kita nyusul," balas Alana.
"Begitu? Ya udah," ucap Jiwo dan dia langsung terdiam. Matanya terpejam menikmati sentuhan tangan istrinya di bawah sana hingga lama kelamaan rasa kantuk menyerangnya dan Jiwo pun akhirnya terlelap.
__ADS_1
Waktu masih terus merangkak maju dan untuk kesekian kalinya hari memang harus berganti lagi. Sesuai rencana, hari ini Jiwo akan mengajak semua istrinya berbelanja di Mall yang ada di kota. Mumpunng ada kesempatan dan rejeki, Jiwo ingin menyenangkan istri istrinya.
"Emak suka gitu deh, kalau pergi rame rame, malah nggak ikut," rajuk Aisyah sambil menggenggam tangan yang hampir keriput kulitnya milik sang mertua.
Emak malah terkekeh. "Hehehe ... Emak udah tua, daripada capek capek ke Mall, Emak mending bantu pamannya Jiwo bungkusin kerupuk."
"Ya kan sekali kali kita pergi bareng gitu, Mak," ucap Alina.
"Kan kita tiap hari pergi bareng?" balas Emak tak mau kalah.
"Itu kan di pasar, Mak, ih Emak ini," balas Alina gemas.
"Hehehe ... udah, jangan pikirkan Emak. Kalian bersenang senanglah selama disini. Jangan merasa susah dan terbebani, ya?"
Aisyah dan Alina sontak tersenyum bersamaan. Lalu mereka memeluk tubuh wanita yang telah memberikan mereka banyak kasih sayang selama mereka berada disini. Bagi mereka, Emak adalah ibu buat mereka juga saat mereka merasakan rindu keluarga mereka.
Waktu sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh siang. Kini para istri Jiwo sudah siap untuk pergi. Mereka tinggal menunggu sang suami yang sedang meminjam mobil di tempat biasa. Hingga tak lama kemudian, mobil pun datang.
"Ayo berangkat!"
__ADS_1
"Yuk!"
...@@@@@@...