
Kini kelima orang sudah terpojok tanpa perlawanan yang sangat berarti. Meski empat pria diantaranya berbadan tegap dengan wajah sangar, nyatanya, mereka lebih mudah kalah dan tidak bisa berbuat apa apa jika sudah berurusan dengan orang banyak. Mereka bahkan tidak menyangka, para wanita incaran mereka bukan hanya dilindungi oleh satu pria tapi juga dilindungi para warga yang ada.
Hendrik dan semua rekannya terduduk lemas di teras depan halaman rumah kontrakan mereka. Dia masih tidak menyangka rencananya yang sangat sempurna dia atur, bisa gagal dan berantakan seperti ini. Otaknya terus berpikir, bagaimana bisa mereka menemukan tempat persembunyiannya? Hendrik mengira selama berada di kampung ini, dia tidak pernah sekalipun bertemu langsung dengan wanita incarannya.
Kini empat orang pria dan satu wanita itu menjadi pusat perhatian warga sekitar. Tentu saja para warga banyak yang terkejut saat mendengar ada keributan di sekitar tempat tinggal mereka. Dan yang lebih mengejutkan lagi, saat warga tahu fakta yang sebenarnya dari orang orang yang mengontrak rumah tersebut. Berbagai pikiran buruk langsung mereka luapkan kepada para tersangka.
"Wah! Jangan jangan mereka datang kesini juga mau menculik para gadis kampung kita untuk dijual."
"Itu wanitanya apa nggak punya malu? Satu rumah sama empat preman? Astaga! Satu lubang rame rame."
"Harusnya bawah perut mereka dipotong aja tuh! Biar hidupnya nggak berguna sekalian!"
Berbagai hinaan terus keluar dari mulut para tetangga untuk Hendrik dan kawan kawan. Terutama Ibu Ibu tetangga, mereka bahkan ingin mencabik cabik wajah para penjahat. Wajar jika warga sangat marah, mereka merasa telah ditipu oleh Hendrik dan semuanya. Apa lagi mereka juga tidak tahu ada wanita bersama mereka juga dengan status yang tidak jelas.
Karena tersangka harus diinterogasi, Pak Rt setempat menghimbau warga untuk tenang. Sebelum diserahkan ke kantor polisi, Jiwo dan yang lainnya ingin mendengar terlebih dahulu semua pengakuan Hendrik dan rekannya. Jiwo butuh bukti akurat agar tidak terjadi hal hal yang tidak di inginkan. Karena Jiwo tahu, hukum di negara ini juga bisa dipermainkan oleh para oknum yang berduit. Makanya Jiwo memiliki bukti yang lebih kuat lagi.
__ADS_1
"Sekarang katakan, apa tujuan yang sebenarnya kalian datang kesini?" tanya Pak Rt setempat. Hendrik dan kawan kawan kompak memilih diam hingga Rt tersebut terpancing emosi. "KATAKAN! Kalian ini benar benar tidak punya hati apa gimana?"
Hendrik malah memandang remeh kepada orang orang yang menyidangnya. Dari wajahnya jelas terbaca kalau dia meremehkan semua orang yang telah meringkusnya. Bahkan dia sempat tersenyum kepada Jiwo seakan akan memberi isyarat kalau Hendrik belum kalah.
"Mana ada maling mau ngaku, Pak?"
"Iya, Pak. Mending bakar aja sekalian! Biar kapok!
"Setuju!"
"Tenang, tenang! Kita tidak boleh main hakim sendiri. Negara kita negara hukum, jadi kita tidak perlu melakukan tindakan yang justru bisa merugikan diri kita sendiri," ucap Rt setempat menoba terus meredam kemarahan warga.
Tapi suara suara protes tetap saja menggema mewarnai jalannya persidangan ala warga. Hingga tiba tiba ada suara seseorang yang mampu mengurangi keriuhan warga.
"Tapi kalau ngasih hukuman sedikit kepada mereka, boleh kan, Pak?" semua mata langsung menatap ke sumber suara yang sedang senyum senyum penuh arti.
__ADS_1
"Maksudnya gimana, Dek?" tanya Jiwo kepada Anisa, orang yang baru saja mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya.
"Katanya, kita kan tidak boleh main hakim sendiri ya, Mister. Tapi kalau memberi sedikit hukuman pada mereka, boleh dong?" balas Anisa dengan santainya.
"Mau ngasih hukuman seperti apa, Mbak?" tanya Rt setempat.
"Tenang Pak Rt, ini hanya hukuman ringan kok, mereka pasti suka," balas Anisa dengan sangat yakin sambil menunjuk ke arah mereka.
"Ya udah katakan."
Anisa bukannya memberi jawaban, tapi malah berbalik badan menghadap para warga. Dengan sedikit basa basi yang berisi kata kata provokasi. Anisa berhasil membuat warga geram dan saat Anisa menyuruh warga untuk mengambil sesuatu, warga langsung setuju meski awalnya mereka heran dengan perintah yang Anisa ajukan. Warga pun membubarkan diri untuk mengambil apa yang Anisa butuhkan.
Tidak butuh waktu lama, warga sudah kembali ke tempat kejadian dengan membawa semua yang Anisa butuhkan. Semua penasaran, hukuman apa yang akan Anisa lakukan. Sedangkan wanita itu hanya tersenyum tapi senyumnya terlihat mengerikan.
"Waktunya pertunjukkan!" seru Anisa.
__ADS_1
...@@@@@@...